Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
36. perdebatan Wang bersaudara.


Hu Liena semakin di buat pusing, oleh kelakuan kedua Wang bersaudara.


Dia pun memutuskan, untuk kembali mendekati Li Junjie.


"Pangeran! Aku setuju denganmu, mereka berdua memang bodoh." Ucap Hu Liena seraya memijit pelipisnya yang terasa sakit.


"Ha-ha! Aku tidak pernah salah, karena aku ini adalah seorang Pangeran." Balas Li Junjie dengan narsis.


Hu Liena memutar matanya malas, tapi dia tidak bisa menyangkal ucapan Li Junjie, dia itu memang seorang Pangeran.


"Iya, kau ini Pangeran Agung yang tidak pernah punya salah dan tidak pernah merasa bersalah." Sindir Hu Liena.


Li Junjie, malah dengan tidak tahu malunya menyombongkan diri.


"Tentu saja, buat apa aku meras bersalah, aku ini ...,"


"Seorang Pangeran!" Potong Hu Liena dengan cepat.


Sementara Li Junjie langsung terdiam, dia tidak mau lagi menyombongkan diri di hadapan Hu Liena.


Li Junjie takut jika Hu Liena akan marah, dan akan kembali membencinya.


"Ayo! antar aku pulang! aku lelah, ingin cepat beristirahat." Ujar Hu Liena kepada Li Junjie yang saat ini matanya jadi berbinar-binar.


"Ayo!" Balasnya penuh semangat.


Keadaan di sana langsung menjadi sunyi, karena kedua Wang bersaudara jadi tertegun begitu melihat Hu Liena pergi lagi dengan Li Junjie.


Tapi kesunyian itu hanya sesaat, karena beberapa detik kemudian, merekapun bertengkar lagi.


"Kau lihat itu, Wey!" Bentak Wang Shu memulai kembali pertengkaran mereka.


"Tentu saja aku lihat, Nona pergi dengan Pangeran Jun. Memangnya, apalagi yang salah? apa kau ingin bilang, jika aku tidak mampu untuk melihatnya?" Balas Wang Wey tak mau kalah.


"Bukan itu!" Wang Shu langsung membantah.


"Kalau bukan itu, lalu apa?" Tanya Wang Wey geram.


Wang Shu-pun tak kalah geram darinya, ia langsung membentak Wang Wey kembali. "Maksudku, kau tidak lihat, jika Nona Hu Liena pergi gara-gara kita berseteru seperti ini."


"Itu semua salahmu, Shu. Aku sudah bicara baik-baik, tapi kau malah mengajakku berseteru." Wang Wey langsung menyerang Wang Shu dengan ucapannya.


Mendapat serangan balik seperti itu, Wang Shu menjadi emosi. Namun, sebelum dia bisa membalas Wang Wey kembali, seseorang sudah menghentikannya.


"Kalian, berhenti!" Guotin yang mulai jengah dengan perdebatan mereka langsung berseru keras.


Wang Shu dan Wang Wey langsung menoleh ke arah Guotin, mereka secara bersamaan mengerutkan alisnya tanda kebingungan.


"Siapa kamu? mengapa kamu berani menghentikan kami?" Tanya Wang Shu yang masih emosi.


"Iya, siapa kamu? berani menghentikan adikku untuk berbicara." Wang Wey membantu Wang Shu untuk memarahi Guotin.


Bibir Guotin berkedut, jelas-jelas mereka sedang berdebat. Tapi bisa-bisanya, mereka masih peduli satu sama lain, pikir Guotin.


"Cepatlah, kalian pergi dari sini! lagipula, Nona Hu Liena juga sudah pergi bersama Pangeran Jun."


Mendengar perkataan Guotin, barulah kedua Wang bersaudara tersadar, dan langsung melihat ke sekeliling mereka.


Ternyata benar, di sana hanya ada mereka berdua dan juga Guotin yang kini sedang berbicara.


"Ahhh, benar! aku juga harus segera pergi, aku harus menjaga Nona Hu Liena." Ucap Wang Shu dengan penuh semangat.


Wang Shu langsung mencibir kepada kakaknya, Wang Wey. "Kau hanya ikut-ikutan saja."


"Apa kau bilang? aku hanya ikut-ikutan?" Bentak Wang Wey yang terpancing oleh cibiran adiknya.


"Ck ... Jangan mulai lagi! sebaiknya, kalian cepat pergi menyusul majikan kalian." Guotin berdecak sebal karena pengawal Hu Liena, mulai bertengkar lagi di hadapannya.


"Diam kau! Jangan mentang-mentang statusmu yang sebagai pengawal Pangeran, kau bisa dengan mudahnya memerintahkan kami!" Wang Shu kembali mengumbar kemarahannya, kali ini, Wang Shu menargetkan Guotin sebagai lawan debatnya.


Wang Shu berteriak-teriak tak jelas di hadapan Guotin, sementara Guotin sendiri, terlihat malas menjawab teriakan dari Wang Shu.


"Shu! jangan berkata begitu! kita harus bergerak cepat untuk mencari keberadaan Nona, sebelum semuanya terlambat." Ujar Wang Wey berusaha menenangkan adiknya yang terlihat kalap itu.


"Lalu, aku harus bagaimana Wey? Nona Hu Liena telah di bawa pergi oleh Pangeran Jun, dan meninggalkan kita berdua di sini." Keluh Wang Shu.


Keluhan Wang Shu, lamgsung di balas sindiran keras oleh Guotin yang sudah malas mendengar perdebatan kedua Wang bersaudara tersebut.


"Kalau begitu, kenapa kalian tidak menyusul majikan kalian saja. Daripada terus berdebat di sini yang tidak ada manfaatnya, dasar aneh!"


"Kau!" Lagi dan lagi Wang Shu di buat emosi oleh ucapan Guotin.


"Shu! Sudahlah! Apa yang dia katakan benar! kita harus menyusul Nona Hu Liena, segera!" Wang Wey langsung menahan tubuh Wang Shu yang berniat menerjang ke arah Guotin.


"Aku ingin menghajarnya dulu, Wey." Ucap Wang Shu dengan geram.


"Tidak! keselamatan Nona Hu Liena, lebih penting darinya." Ucap Wang Wey sambil mempererat cengkeraman tangannya di tubuh Wang Shu.


Wang Shu menggeram, ia ingin sekali memukul wajah Guotin yang terlihat congkak di hadapannya. Namun, ucapan Wang Wey ada benarnya juga. Mereka harus segera pergi, dan menyusul Hu Liena sebelum terjadi apa-apa dengan Putri majikan mereka tersebut.


"Ya, ya! pulanglah!" Usir Guotin sembari menggerak-gerakkan tangan menyuruh mereka berdua pergi.


Wang Shu mendengus, dia akan membalas Guotin nanti, jika ada kesempatan. Sekarang, dia dan kakaknya harus cepat mengejar Hu Liena dan Pangeran Jun sebelum ada bahaya yang menyerang.


"Kami akan pergi!" Ucapnya seraya mendengus.


"Pergilah sana!" Guotin juga sudah merasa malas menanggapi mereka.


Wang Wey menyeret tangan adiknya untuk menjauh dari kediaman Pangeran Jun, ia tidak ingin terjadi kekacauan yang terjadi karena sikap tempramen adiknya itu.


Dari kecil, Wang Shu memang tidak bisa menahan kemarahannya. Entah itu kepada orang yang menyinggungnya, ataupun menyakitinya, emosi Wang Shu akan meledak-ledak tak terkendali.


"Lepaskan aku! Aku ingin kembali, dan menghajar pengawal kurang ajar itu!" Ucap Wang Shu setengah berseru ke arah Wang Wey.


"Sudah cukup! kita harus pergi mengejar Nona Hu Liena!" Balas Wang Wey dengan teriakan kencang.


Wang Shu jadi terdiam, ia kini sadar setelah mendengar ucapan kakaknya. Keselamatan Hu Liena lebih penting, ketimbang egonya sendiri.


"Baik! Aku mengaku salah! Aku akan membiarkan pengawal itu aman untuk sementara waktu ini, tapi jika dia melakukannya lagi di lain hari, aku pasti akan menghajarnya habis-habisan." Ujar Wang Shu penuh penekanan.


"Sudahlah! ayo kita pergi!" Ucap Wang Wey seraya langsung berlari mendahului adiknya.


Di dalam perjalanan pulang, Hu Liena lebih banyak diam di banding sebelumnya yang selalu banyak berbicara mengomentari apapun yang di lakukan Li Junjie.


Ia sekarang merasa malu, dengan semua sikapnya kepada Li Junjie yang terlalu berlebihan selama ini.


Hu Liena juga, sebenarnya ingin berbicara lebih banyak. Tapi entah kenapa, jantungnya selalu berdetak lebih kencang setiap kali dirinya ingin berbicara kepada Li Junjie yang kini sedang berjalan di sisinya.


"Ada apa?" Tanya Li Junjie yang melihat Hu Liena secara terus menerus meliriknya.