
"Tabib, ada apa dengan calon Istriku?" tanya Li Junjie saat mereka hanya tinggal berdua saja yang menunggu Hu Liena.
Tabib Hong menarik nafas panjang, dia sungguh merasa tidak yakin dengan jawaban yang akan dia berikan kepada sang Pangeran.
"Putri sedang berada di kondisi vegetatif!"
"Apa?! Bagaimana mungkin?!" teriak Li Junjie yang terkejut bukan main dengan jawabannya Tabib Hong
"Hamba juga tidak mengerti, Yang Mulia Pangeran! Tapi seperti itulah kenyataannya." ucap Tabib Hong sambil menghela pasrah.
Di alam bawah sadar, kini Hu Liena berada di sebuah padang rumput yang sangat luas.
Tidak ada bangunan ataupun pohon-pohon lain di sana. Yang ada hanyalah hamparan rumput hijau yang sangat luas di sepanjang mata memandang.
"Di mana aku?" tanya Hu Liena kebingungan.
"Liena!" panggil seseorang dari arah belakang.
Hu Liena berbalik, dan begitu terkejut ketika seorang wanita yang sangat mirip dengannya, kini tengah berdiri tegak sambil tersenyum ke arahnya.
"Kau- ...," suara Hu Liena tercekat di tenggorokan.
"Aku adalah dirimu, di kehidupan keduamu." jawab si wanita yang bukan lain adalah pemilik tubuh asli Hu Liena.
"Apa kau ingin mengambil kembali tubuhmu?" tanya Hu Liena yang entah kenapa menjadi merasa bersedih karena harus mengembalikan apa yang bukan miliknya kepada si pemilik tubuhnya yang asli.
"Tidak!" jawab si wanita dengan menggelengkan kepalanya perlahan.
Hu Liena mengerutkan alisnya, dia merasa kebingungan dengan jawaban wanita tersebut.
Jika bukan untuk hal itu, lalu kenapa dia muncul? pikir Hu Liena.
Hu Liena yang asli lalu berjalan menghampiri Hu Liena dengan langkah pelan.
"Aku sengaja mendatangimu hari ini, karena ingin mengucapkan banyak terima kasih." tuturnya.
"Terima kasih?!" tanya Hu Liena heran.
"Iya, berterima kasih! Karena berkat dirimu, akhirnya Ayahku menjadi sadar dan membuka hatinya untuk menyayangiku lagi." balasnya sambil tersenyum.
"Apa kau tidak merasa marah, karena aku merebut semua kehidupanmu?" tanya Hu Liena penasaran.
"Semuanya sudah di takdirkan! Aku malah merasa senang, karena pada akhirnya, semua dendamku sudah terbalaskan olehmu." jawab Hu Liena yang asli dengan tenang.
"Lagipula, dengan adanya kau yang menggantikanku. Aku bisa berada di sini dengan tenang, dan menjalani kebahagiaan bersama Ibuku selamanya."
Hu Liena termenung di dalam diam, karena dia tidak tahu harus berkata apa-apa lagi kepada pemilik asli tubuhnya tersebut.
"Sebaiknya kau tidak berada di sini terlalu lama! Ini bukan tempatmu, pulanglah!" ucap Hu Liena yang asli sambil menepuk pundak Hu Liena perlahan hingga membuyarkan lamunannya.
"Tapi, bagaimana caranya aku pulang?" tanya Hu Liena sambil menatap pemilik tubuhnya.
Hu Liena yang asli tersenyum lembut, lalu mengibaskan lengan bajunya. Dan seketika, muncul pendar cahaya kuning yang muncul di udara.
Mungkin, jika di dunia modern akan di sebut sebagai alat ruang dan waktu seperti halnya dengan ruang dimensi rahasia milik Hu Liena.
"Sebelum pergi, aku ingin memintamu untuk melakukan sesuatu untukku. Apa boleh?" tanya Hu Liena yang asli.
Hu Liena mengangguk, lalu mengiyakan perkataan pemilik tubuhnya.
"Aku ingin kau menyampaikan kepada Ayahku, bahwa aku dan Ibu, sangat menyayanginya hingga kapanpun juga."
"Baik, aku akan menyampaikannya." ucap Hu Liena sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah pemilik asli tubuhnya yang sekarang tubuhnya mulai memudar.
"Ayah!" Hu Liena berteriak dan langsung terbangun dari tempatnya.
"Putri!" teriak Li Junjie dan juga Tabib Hong bersamaan.
"Syukurlah!" ucap Tabib Hong sambil menghela nafas lega karena prediksinya ternyata tidak benar.
Dia mengira, Hu Liena akan terbaring lama seperti sebelumnya sewaktu masih berada di kediaman Perdana Menteri.
Ternyata, Hu Liena akhirnya sadar juga. Padahal Tabib Hong, sendiri tidak memberikannya obat apapun juga selama berada dalam kondisi pingsan.
"Pangeran, aku ingin bertemu dengan Ayahku!" pinta Hu Liena yang langsung di iyakan oleh Li Junjie.
"Putriku!" Hu Boqin berhambur masuk ke dalam ruangan setelah Li Junjie memberitahukan bahwa Hu Liena ingin menemuinya ketika baru tersadar dari pingsannya.
"Ayah, aku menyayangimu." ucap Hu Liena yang membuat Hu Boqin meneteskan airmatanya.
"Ayah juga sangat menyayangimu, Nak!" balas Hu Boqin sambil memeluk Putrinya tersebut.
"Bukan hanya aku, Ibu juga menyayangimu, Ayah. Dia ingin Ayah tahu, bahwa Ibu akan menyayangi Ayah sampai kapanpun juga."
Airmata Hu Boqin semakin meluncur deras, begitu Hu Liena mengucapkan kata-kata tersebut untuknya.
"Ayah juga sangat menyayangi kalian berdua." ucap Hu Boqin di sela-sela tangisannya.
Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut, ikut juga meneteskan airmata karena merasa terharu dengan kasih sayang keduanya.
Bahkan Kaisar Li Jinhai 'pun, ikut sesenggukan di menyaksikan kedekatan Ayah dan Anak tersebut.
"Maaf, Tuan Perdana Menteri. Ijinkan saya untuk memeriksa kembali kondisi Tuan Putri." ucap Tabib Hong yang membuat Hu Boqin melepaskan pelukannya kepada Hu Liena.
"Silahkan, Tabib!" ucap Hu Boqin sambil dirinya bergerak mundur menjauhi tempat tidur.
Tabib Hong mengangguk puas dengan perkembangan kesehatan Hu Liena, yang menurutnya sangat ajaib tersebut.
Beberapa jam yang lalu, kondisinya bahkan sangat memprihatinkan. Denyut nadi yang melemah, kulit menjadi pucat pasi, dan hilangnya kesadaran. Membuat Tabib Hong segera menyimpulkan jika Hu Liena berada kembali ke dalam kondisi vegetatif seperti beberapa bukan yang lalu.
Namun tak di sangka, diagnosanya malah tidak terbukti. Dan Hu Liena kini kembali sadar seperti tidak mengalami hal apapun juga.
Bahkan menurut pemeriksaannya saat ini, kondisi Hu Liena jauh lebih bugar dari sebelumnya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Li Junjie penasaran.
"Tuan Putri sudah baik-baik saja sekarang, Pangeran." tutur Tabib Hong yang membuat semua orang yang mendengarnya merasa lega.
"Syukurlah!" ucap Li Junjie senang.
Semenjak terbangun, Hu Liena menjadi sering terdiam sambil menatap ke arah Perdana Menteri yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
Li Junjie yang menyadari perubahan Hu Liena, kini bergerak mendekatinya perlahan.
"Ada apa, Putri?" tanyanya lembut sambil mengelus pipi Hu Liena.
"Tidak apa-apa, Pangeran. Aku hanya ingin menatap Ayahku saja, tidak ada yang lain lagi." jawab Hu Liena dengan tanpa mengalihkan tatapannya.
Sebenarnya, dalam hati Hu Liena dia merasa sangat bersalah kepada Perdana Menteri Hu Boqin.
Jika bukan karena dirinya memasuki raga Hu Liena yang asli, mungkin saat ini Hu Boqin akan bisa berkumpul dengan Putri kandungnya sendiri.
Namun takdir berkata lain, Hu Liena sekarang malah kembali ke tempat tersebut, untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama orang yang di cintainya.
"Ada apa denganmu, Nak?" tanya Hu Boqin dengan penuh kasih dan sayang saat dirinya mengetahui jika Hu Liena sedang menatapnya saat ini.