
Hu Liena bersama dengan yang lainnya berjalan menyusuri lorong tempat Xiulin berada saat ini.
Ruang yang gelap dan juga sempit, menjadi pilihan Li Junjie untuk mengurung wanita yang pernah menyakiti calon Istrinya tersebut.
Di ruang itu juga, biasanya Li Junjie memberikan hukuman yang berat kepada para pejabat yang melakukan tindak kejahatan seperti korupsi dan juga sering bertindak semena-mena kepada rakyat kerajaan dinasti Ying.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, Xiulin yang terduduk di sudut ruangan memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat siapa saja orang yang datang.
Dan begitu dia melihat sosok Hu Liena di barisan paling depan, matanya Xiulin langsung memancarkan kebencian yang teramat dalam.
"Dasar pembunuh!" teriak Xiulin sambil dirinya bangkit hendak menerjang ke arah Hu Liena.
Shuuttt!
Sebuah jarum langsung melesat menembus kulitnya Xiulin dan tubuhnya langsung terkulai lemas di lantai
"Apa yang kau lakukan padaku?" teriak Xiulin frustasi karena kaki dan tangannya kini susah di gerakkan.
"Apa harus, aku meminta ijin dulu untuk menyerangmu?" tanya Hu Liena sinis.
Dia lalu meminta Luqiu mengambilkan sebuah kursi yang lalu di letakkan tepat di hadapan Xiulin yang sedang tergeletak tak berdaya di lantai ruangan.
"Brengsek kau, Hu Liena!" maki Xiulin sengit.
Hu Liena tertawa, lalu dengan satu gerakan keras dia menginjak kaki Xiulin hingga terdengar suara tulang yang retak.
Krakkk~
Putri Li Jiang bahkan sampai harus menutup telinga karena tak kuasa mendengar suara tersebut.
"Hu Liena, keparat!" teriak Xiulin sambil merintih menahan kesakitannya.
"Ck, ini belum seberapa, Kakak! Kau dulu pernah melakukan yang lebih kejam daripada ini, benar begitu 'kan, Luqiu?" cibir Hu Liena sambil melirik ke arah Luqiu yang membalasnya dengan anggukkan kepala.
"Anda benar sekali, Putri. Tindakan anda masih belum terbilang kejam, jika di bandingkan dengan kejahatan mereka berdua." jawab Luqiu yang membuat Xiulin menatap nyalang ke arahnya.
"Diam kau, Pelayan!" bentaknya geram.
Bugghhh!
Tanpa di duga, Luqiu langsung menendang perutnya Xiulin dengan keras setelah ia selesai mengucapkan kata makian kepadanya.
"Aku memang seorang Pelayan, tapi setidaknya, aku masih memiliki hati nurani." sindir Luqiu dengan berwajah masam.
Hu Liena ingin bertepuk tangan atas keberanian Luqiu yang membalikkan hinaan dari Xiulin. Sayangnya, pergerakannya saat ini terbatas. Seandainya tidak, mungkin dia akan bertepuk tangan paling kencang untuk menyemangati Luqiu agar lebih berani lagi melawan mantan saudara tirinya yang jahat tersebut.
"Kakak Ipar, orangmu lumayan juga." bisik Putri Li Jiang memuji keberanian yang di tampilkan Luqiu.
"Tentu saja, dia adalah orangku yang paling setia." balas Hu Liena dengan bangga.
Putri Li Jiang mengangguk, lalu kembali melirik ke arah Luqiu yang saat ini masih belum merasa puas membalaskan rasa sakit hatinya terhadap Xiulin.
PLAKK!
PLAKK!
Luqiu beberapa kali menggerakkan tangannya untuk menampar wajahnya Xiulin dengan keras.
Belum puas sampai di situ saja, Luqiu bahkan sempat menjambak rambutnya hingga tergerai dan berantakan.
Penampilan Xiulin kini tampak seperti pengemis dengan pakaian dan juga rambut yang tak bisa di bilang baik. Pakaiannya yang mulai lusuh karena belum di ganti beberapa hari, di tambah dengan rambutnya yang terurai berantakan menambah kesan lusuh pada dirinya.
Hilang sudah Xiulin yang dulu selalu tampil mewah dan juga rapi tersebut. Kini hanya tinggal sosok perempuan kucel berbalut pakaian dekil yang tak akan ada orang yang menyangka, jika sosok perempuan tersebut adalah gadis yang pernah di agung-agungkan oleh semua orang.
"Luqiu, berhenti!" teriak Hu Liena saat Luqiu ingin kembali melayangkan pukulannya.
"Bersihkan tanganmu menggunakan ini." ucap Hu Liena sambil menyodorkan botol cairan disinfektan.
Dahi Luqiu berkerut ketika menatap botol cairan di tangan Hu Liena yang terulur ke arahnya.
Darimana, majikannya mendapatkan cairan tersebut? Padahal ketika datang, sudah jelas jika dia tidak membawa apa-apa di tangannya.
Walaupun kebingungan, tak ayal juga Luqiu mengulurkan tangan untuk meraih botol yang di sodorkan kepadanya.
"Teteskan ke tanganmu, lalu balurkan ke seluruh permukaan tangan." tutur Hu Liena yang langsung di turuti oleh Luqiu.
"Baunya menyengat sekali!" ucap Putri Li Jiang yang langsung menjauh bersamaan dengan Putri Jia Li.
"Memang begitulah baunya, Putri." balas Hu Liena dengan santai.
Setelah Luqiu selesai, dan menutup kembali botol cairan disinfektan, Putri Li Jiang kembali menghampiri Hu Liena dan menanyakan perihal kegunaan cairan tersebut.
"Itu cairan penghilang bakteri, Putri. Luqiu baru saja selesai beraktifitas kotor, aku tidak mau tangannya sampai terkena penyakit gara-gara hal tersebut."
Xiulin menggeram marah, karena Hu Liena sedang menghinanya secara terang-terangan.
Sebaliknya, justru Luqiu merasa terharu karena Hu Liena masih mengkhawatirkan tentang dirinya.
Jujur saja, Luqiu merasa jijik ketika dia terus memberikan tamparan ke arah wajah Xiulin yang tertutup oleh cadar. Tangannya seakan terasa lembab, setelah bersentuhan dengan kulit wajah Putri mantan majikannya tersebut.
Namun dirinya terlanjur marah, hingga tidak memedulikan kondisi tangannya yang setengah basah setelah memukuli wajah Xiulin bertubi-tubi.
Untung saja, Hu Liena memberikannya cairan penghilang bakteri hingga dia tidak perlu merasa risau dengan kebersihan tangannya.
"Putri, bagaimana sekarang?" tanya Luqiu sambil dirinya menoleh kembali ke arah Xiulin yang keadaannya semakin mengenaskan.
"Kita tinggalkan saja dia, ayo!" ajak Hu Liena.
"Kakak Ipar, sebentar!" cegah Putri Li Jiang.
Hu Liena mengangguk, lalu diam memperhatikan apa yang ingin Putri Li Jiang lakukan.
Bukk!
Bukk!
Perut Xiulin di tendang silih bergantian, oleh Putri Putri Li Jiang dan juga Putri Jia Li yang merasa geram setelah mendengar dari beberapa pelayan tentang tindak dan tanduknya Xiulin selama ini.
Baru menjadi seorang Putri murba saja, Xiulin sudah semena-mena menyiksa Putri sah hingga hampir mati karena ulahnya.
Mereka saja, yang nota bene adalah seorang Putri, tidak pernah sekalipun untuk menyiksa orang lain, apalagi sampai mengalami koma seperti yang telah di alami oleh calon Kakak Iparnya.
"Brengsek!" Xiulin mengumpat kasar setelah tubuhnya terbebas dari siksaan.
"Cih, sudah hampir matipun, kau tetap bisa memaki orang lain." sindir Putri Li Jiang kejam.
"Seharusnya, orang seperti dia ini, langsung kita bunuh saja. Tidak ada gunanya, membuatnya hidup berlama-lama di dunia." imbuh Putri Jia Li yang juga merasa kesal dengan kelakuannya.
Hu Liena tersenyum sinis, bukannya dia tidak mau langsung membunuh Xiulin. Namun menurutnya, biarkan saja Xiulin di hukum sesuai peraturan Istana, agar menambah efek jera buat orang lain yang ingin mengikuti jalan hidupnya.
Biar tidak ada lagi, korban yang lain seperti yang telah di alami oleh Hu Liena yang asli.
Di kerajaan dinasti Ying, bukan hanya Hu Liena yang memiliki saudara tiri dari Istri kedua. Banyak sekali para pejabat yang memiliki Istri lebih dari satu, dan memiliki banyak anak dari pernikahan kedua mereka
Semoga saja, dengan di hukumnya Xiulin sesuai peraturan yang berlaku dengan adil. Tidak akan ada lagi, Putri murba yang akan menyiksa dan berebut kekuasaan dengan seorang Putri sah.
Cukup tubuh Hu Liena yang asli saja yang menjadi korban, tidak dengan yang lainnya.