
Kehebohan Kakak beradik ini, memancing perhatian dari Li Junjie, dan juga Hu Liena.
"Kalian sedang apa? Mengapa membuat keributan di dalam perjamuan?" tegur Li Junjie dengan memasang wajah datar.
"Ini semua ulah Kakak Kedua!" tuding Putri Li Jiang.
"Aku?! Tidak!" bantah Pangeran Jing sambil mundur beberapa langkah ke belakang.
"Jangan berbohong, Kakak! Kau 'kan yang tadi membahas tentang Kakak Ipar yang akan memberikan kita keponakan yang lucu-lucu! Di saat aku tidak mengerti ucapanmu, kau malah menyuruhku mencari pendamping agar lebih paham tentang hal itu. Benar, 'kan?"
"Pangeran Jing! Kau tidak boleh mengatakan hal memalukan seperti itu, kepada Adikmu! Mengerti?!" ucap Li Junjie dengan tegas memberikan peringatan kepada Li Jing Sheng.
"Mengerti, Kakak! Aku minta maaf! Aku tidak akan mengulanginya lagi!" Li Jing Sheng menundukkan kepala karena menyesali ucapannya yang di anggap tidak sopan.
Memang benar, ucapannya itu sedikit keterlaluan. Adiknya adalah seorang Putri kebanggaan kerajaan dinasti Ying, dan dia akan menikah dengan pria yang di anggap cocok untuknya. Bukan harus mencari, seperti yang dia katakan tadi.
"Dan mengenai keponakan kalian, aku berjanji akan mengusahakan secepatnya setelah kami menikah. Benar 'kan, calon Istriku?"
_Wuusshhh!_
Wajah Hu Liena langsung berubah merah seperti tomat. Ucapan Li Junjie langsung membuatnya merasa tersipu, sampai tak berani mengangkat kepalanya karena malu.
"Kakak Ipar! Kenapa wajahmu memerah begitu? Apa kau sakit?" tanya Putri Li Jiang dengan polosnya.
Hu Liena menggeleng perlahan, dia bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan dari Putri Li Jiang.
Namun, ucapan Putri Li Jiang malah di anggap serius oleh Li Junjie yang langsung terlihat cemas ketika mendengar Hu Liena sedang sakit.
"Putri! Apa yang di ucapkan Adikku benar? Apa kau sakit? Sakit apa? Bagian mana yang sakit? Cepat katakan padaku!" ucap Li Junjie sambil menempelkan telapak tangannya di kening Hu Liena.
Li Jing Sheng juga ikut-ikutan panik, dan berniat untuk mencari Tabib. Namun Hu Liena segera menghentikannya sebelum semua berubah menjadi kekacauan karena ulah para Putra, dan Putri Kaisar tersebut.
"Aku tidak apa-apa! Aku juga tidak butuh Tabib! Aku hanya butuh air, itu saja!" jawab Hu Liena sambil menatap satu-satu ketiga orang yang akan menjadi keluarga barunya itu.
"Ah, ternyata Kakak Ipar hanya haus. Aku pikir, sakit!" ucap Putri Li Jiang sambil menepuk dahinya pelan.
"Sebaiknya kita pergi saja, tidak baik jika kita berlama-lama dengan kedua orang aneh ini. Hampir saja, aku mati ketakutan karena mendengar calon Istriku sedang sakit." cibir Li Junjie kepada kedua Adiknya yang saat ini menatapnya kebingungan.
Setelah Li Junjie pergi, Li Jing Sheng berbisik kepada Adik perempuannya.
"Kakak Pertama memanggil dua orang aneh itu, bukan kepada kita 'kan, Adik?" tanya Pangeran Li Jing Sheng sambil garuk-garuk kepala tak gatal.
"Aku juga tidak tahu, Kakak!" Putri Li Jiang juga heran dengan ucapan Kakak Pertamanya.
Yang harusnya di bilang aneh 'kan seharusnya Kakak Pertamanya itu, bukan orang lain. Semenjak jatuh cinta, sikapnya berubah konyol, tidak dingin dan kejam seperti biasanya, pikir Putri Li Jiang.
Li Jing Sheng juga berpikiran yang sama, sejak Kakak Pertamanya semakin dekat dengan sang Kakak Ipar, tingkahnya semakin banyak berubah. Apalagi di hadapannya, Kakak Pertamanya sering marah-marah tak jelas, dan sering memintanya untuk tidak terlalu dekat dengan Putri Perdana Menteri tersebut. Apa salahnya? Bukankah dari dulu dia dan Hu Liena berteman?
"Sudahlah, Adik! Jangan terlalu di pikirkan! Sebaiknya sekarang, kita pergi menemui Ayah saja!" ajak Pangeran Li Jing Sheng sambil menggandeng tangan Putri Li Jiang.
Di dalam Aula Istana, semua orang merasa senang dengan kabar pernikahan Pangeran Jun dan Putri Perdana Menteri Hu Boqin.
Meskipun waktunya masih dua bulan lagi, para pejabat seperti mereka, harus menyiapkan semua keperluan pesta dengan baik mulai dari sekarang.
Sedangkan di kerajaan Qian, kini sang utusan tengah menghadap di depan Kaisar.
"Apa katamu?! Putra Mahkota yang asli kini berada di kerajaan Ying?!" ucap Kaisar Qian setengah berteriak karena terkejut.
Namun karena kondisinya yang semakin lemah, dia kembali menenangkan diri agar tidak terjadi hal yang di inginkan kepada kesehatannya.
"Benar, Yang Mulia! Dan hamba juga datang membawa pesan dari Putri Xia!"
"Putri Xia? Siapa dia?" tanya Kaisar keheranan.
Memang, gelar Putri Xia yang di sematkan kepada Hu Liena hanya tersebar di kalangan rakyat kerajaan dinasti Ying saja. Sedangkan, orang-orang dari Negeri tetangga, tidak mengetahuinya.
"Putri Xia, adalan calon menantu Kaisar Li Jinhai, Yang Mulia! Dia juga orang yang telah menggagalkan pemberontakan Tuan Putri dan yang lainnya." jawab si utusan dengan patuh.
"Apa sehebat itu?" tanya Kaisar Qian penasaran.
Mendengarnya saja, Kaisar Qian sudah merasa takjub. Tak terbayang olehnya, seorang gadis dengan gelar Putri memiliki keberanian besar untuk menumpas para pemberontak dengan kekuatannya sendiri.
"Menurut kabar, memang seperti itu, Yang Mulia!"
"Baik, baik! Aku mengerti!" ucap Kaisar.
"Ada satu lagi, Yang Mulia!" ucap si utusan penuh dengan keraguan.
"Apa itu? Katakan!"
"Putri Xia, mengundang anda untuk datang menjemput Putra Mahkota di kediaman Pangeran Jun!" ucap si utusan sambil menundukkan kepala.
"Apa?! Dia memintaku seperti itu?!" Kaisar setengah berteriak ketika mengatakannya.
Alhasil, batuknya kembali kambuh dan harus di bantu Tabib untuk meredakannya.
"Maafkan hamba, Yang Mulia! Tapi itu memang yang di katakan Putri Xia, dia juga berjanji akan memeriksa, dan memberikan pengobatan kepada anda secara suka rela." si utusan takut dengan kabar yang dia bawa akan membuatnya di hukum karena di anggap tidak sopan kepada Kaisar.
Tak di sangka, Kaisar Qian malah dengan senang hati menerima undangan dari Hu Liena.
Bukan hanya ingin menemui Putranya yang baru saja di temukan. Kaisar Qian juga merasa penasaran dengan sosok gadis yang di elu-elukan semua orang tersebut. Kaisar ingin berpapasan langsung, dengan gadis yang menurutnya seorang pemberani itu.
Keesokan harinya, sesuai dengan yang sudah di jadwalkan. Rombongan Kaisar Qian berangkat ke kerajaan dinasti Ying, menuju kediaman Pangeran Jun untuk menemui Putra kandungnya, dan juga Hu Liena, atau Putri Xia.
Kaisar Qian sudah merasa tidak sabar ingin segera bertemu, dan melepas rindu kepada Putra kandungnya tersebut.
Dan kepada Hu Liena, Kaisar Qian ingin berbicara banyak, serta ingin meminta Hu Liena mengajarkan keberaniannya kepada Putri Li Jia, Putri Kaisar Qian satu-satunya.
Semoga saja, Hu Liena mau menerima permintaannya tersebut.
Akan sangat bagus untuk Putri Li Jia belajar banyak pengalaman dari orang hebat seperti Hu Liena.
Kaisar Qian ingin, agar ketika kelak dirinya meninggal. Putra, maupun Putrinya memiliki ketegasan, kehebatan seperti yang orang-orang sebutkan tentang Hu Liena.
Dengan begitu, kerajaan Qian tidak akan lagi di bodohi, dan di manfaatkan oleh orang lain. Seperti yang baru-baru ini terjadi. Bahkan pelakunya bukan orang luar, tapi Adik Kaisar Qian sendiri.