
Xiulin beringsut mundur saat Hu Liena kembali mendekat ke arahnya.
Tendangan yang barusan saja sudah mampu membuat tubuhnya terasa remuk, dan juga susah untuk di gerakkan.
"Jangan sakiti, Putriku!" teriak Yueqin geram.
"Memangnya, bisa apa kau untuk menyelamatkan Putrimu?" cibir Hu Liena.
Yueqin perlahan bangkit, dan dengan badan masih terhuyung, Yueqin berusaha menerjang ke arah Hu Liena yang saat ini berdiri tak jauh darinya.
"Awas kau, gadis sialan!" teriak Yueqin keras.
"Putri ...,"
Semua orang menahan nafas saat melihat Yueqin yang entah bagaimana, menyerang Hu Liena dengan membawa batu runcing di tangannya.
Shuuttt!
Brukkk!
"Ibu ...," Xiulin berteriak kencang saat melihat Ibunya tumbang di hadapan semua orang.
Bukan hanya itu saja, batu yang tadinya ingin di gunakan untuk menyerang Hu Liena. Kini malah berbalik menusuk perutnya sendiri, setelah tubuhnya terjatuh secara menelungkup dan batu yang runcing menusuk perutnya hingga mengeluarkan banyak darah yang kini tergenang memenuhi di lantai.
"Ibu, bangun! Buka matamu, Ibu!" Xiulin menangis tersedu memeluk tubuh Yueqin yang berlumuran banyak darah.
"Maafkan Ibu, Xiulin. Ibu sudah tidak kuat lagi." ucap Yueqin sambil merintih kesakitan.
"Tidak Ibu, jangan bicara seperti itu. Ibu tidak boleh pergi, Ibu tidak boleh meninggalkan aku di sini sendirian." ratap Xiulin dengan airmata yang membasahi kedua matanya.
Dengan nafas tersengal-sengal, Yueqin berusaha mengatakan sesuatu lagi kepada Putrinya.
Namun sayang, Dewa Yama sudah terlebih dahulu mencabut nyawanya hingga Yueqin meninggal dengan mulut yang menganga dan mata yang terbuka lebar.
"Ibu, bangun Ibu! Jangan tinggalkan aku! Ibu ...," Xiulin berteriak histeris memeluk erat tubuh Yueqin.
Hu Boqin menarik nafas dalam, ketika menyaksikan kematian mantan Istrinya tersebut.
Meskipun dia sudah memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan urusan keduanya, namun tak ayal hatinya merasa terenyuh dengan kondisi Xiulin.
Xiulin mengangkat wajahnya menatap nyalang ke arah Hu Liena, yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
Kedua tangannya mengepal erat, dan giginya gemeretak tanda dia menahan kemarahan yang sangat hebat.
"Hu Liena, awas kau! Aku tidak akan memaafkanmu! Kau harus menerima ganjaran atas semua perbuatanmu!" bentak Xiulin keras.
Hu Liena terkekeh geli, mendengar bentakan Xiulin barusan. Memangnya, apa yang dia lakukan?
Yueqin terbunuh karena perbuatannya sendiri, bukan karena dirinya yang membunuhnya.
Siapa suruh dia membawa batu runcing dengan tidak hati-hati, hingga menusuk perutnya sendiri.
"Hu Liena! Apa yang kau tertawakan? Apa kematian Ibuku hanyalah sebuah lelucon bagimu?"
"Bukan, aku bukan menertawakan kematian Ibumu! Aku hanya menertawakan kebodohan kalian berdua, yang selalu menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi kepada hidup kalian." balas Hu Liena sinis.
Xiulin mendengus kasar, dengan mata yang masih memerah dia lalu meraih batu runcing yang telah merenggut nyawa Ibunya. Dengan beringas, Xiulin menerjang ke arah Hu Liena dengan kecepatan tinggi, hingga orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut merasa terkejut dan mengkhawatirkan keselamatan Hu Liena.
"Kakak Ipar, awas!'' Li Jing Sheng melompat ingin menghalau serangan Xiulin yang sebentar lagi akan mengenai tubuh Hu Liena.
Tak hanya Li Jing Sheng saja, Li Junjie juga berusaha sebisa mungkin untuk mendahului pergerakan dari Xiulin. Namun terlambat, batu runcing tersebut telah terlebih dahulu mengenai tubuh Hu Liena.
Bugghhh!
"Agghhh!"
Xiulin terlempar hingga punggungnya terbentur tembok kasar ketika terkena tendangan Li Junjie.
Bukan hanya tendangan saja, Xiulin juga terkena sabetan pedang milik Pangeran Jing yang melukai pergelangan tangannya hingga meneteskan darah.
"Putri, bahumu berdarah!" ucap Li Junjie dengan cemas sambil menggendong tubuh Hu Liena yang terkulai lemas di lantai.
"Aku tidak apa-apa, Pangeran!" lirih Hu Liena.
"Kalian, cepat ikat perempuan jahat ini!"
Terdengar suara Li Jing Sheng yang memerintahkan para pengawal untuk mengikat tubuh Xiulin karena membahayakan bagi orang-orang jika dia di biarkan begitu saja.
Hu Liena dan Li Junjie melirik ke arah Xiulin secara bersamaan, setelah beberapa para pengawal berlari ke arahnya guna melaksanakan tugas yang di berikan oleh Li Jing Sheng.
"Tidak! Lepas! Lepaskan aku!" Xiulin terus saja memberontak saat para pengawal mengikat kedua tangannya menggunakan tali.
"Putri, bagaimana keadaanmu?" Kaisar Li Jinhai tampak khawatir dengan kondisi Hu Liena.
"Aku baik Yang Mulia, terima kasih karena telah mengkhawatirkanku." jawab Hu Liena yang membuat Kaisar Li Jinhai merasa terenyuh.
Hu Boqin berjalan menghampiri Hu Liena dengan tergesa-gesa. Dia tidak menyangka, jika Putri Tirinya, akan dengan nekad menyerang Hu Liena membabi buta seperti barusan.
"Nak, bagaimana lukamu?" tanya Hu Boqin cemas.
"Tidak apa-apa, Ayah. Hanya luka kecil saja." dalih Hu Liena.
Hu Boqin memberikan isyarat kepada Tabib Hong, agar memeriksakan kondisi luka Putrinya yang terkena hantaman batu dengan keras oleh Xiulin.
Tanpa berlama-lama, Tabib Hong 'pun segera melakukan penanganan pertama untuk menghentikan pendarahan di luka Hu Liena.
Meskipun mengeluarkan banyak darah, namun luka yang di derita Hu Liena tidak terlalu parah. Hanya luka goresan yang tidak terlalu dalam, karena mungkin batu yang di hujamkan oleh Xiulin tidak terlalu tepat sasaran.
Mungkin jika Li Junjie tidak terlebih dahulu menendang Xiulin hingga terpental, niscaya bahu Hu Liena akan mendapat luka robek yang memanjang. Karena nyatanya, ujung batu tersebut, sangatlah runcing melebihi benda tajam.
Entah darimana, Yueqin dan juga Xiulin mendapatkan batu tersebut. Yang jelas, batu runcing itu sangatlah berbahaya, dan telah memakan korban jiwa. Yueqin salah satunya, dia mati setelah perutnya secara tidak sengaja terkena batu runcing tersebut.
Lalu Hu Liena, yang bahunya terluka karena serangan yang dia dapatkan dari Xiulin.
"Masukkan dia ke dalam penjara khusus sampai besok pagi!" perintah Kaisar Li Jinhai tegas kepada para pengawal yang telah membekuk Xiulin.
Dengan kasar, para pengawal menyeret tubuh Xiulin hingga beberapa kilo meter jauhnya untuk menuju ke penjara khusus yang di maksud Kaisar.
Sepanjang perjalanan, Xiulin tak henti-hentinya memanggil-manggil nama sang Ibu sambil berteriak histeris.
Xiulin bahkan memaki para pengawal yang bertugas membawanya ke ruang pengasingan.
Mulutnya terus mengumpat, memaki dan menghardik semua orang.
Termasuk juga Hu Liena, yang tak luput dari makian kemarahan Xiulin selama perjalanan.
Sumpah serapah Xiulin sematkan kepada Hu Liena, yang dia anggap sebagai penyebab kematian Ibunya.
Jika bukan karena ingin menyerang Hu Liena, mungkin Ibunya sampai saat ini akan tetap hidup bersamanya.
"Ibu, mengapa kau meninggalkanku secepat ini? Bagaimana bisa, kau tega membuatku menjalani kehidupan ini sendirian? Aku butuh teman! Aku butuh Ibu!" lirih Xiulin sambil meneteskan airmatanya
Xiulin duduk sambil memeluk kedua lututnya sendiri, dia menangis sejadi-jadinya untuk di ruang yang tertutup dan juga gelap tanpa seorangpun yang ada bersamanya di sana.