Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
161. Berpura-pura pingsan.


Pukulan demi pukulan telah Xiulin terima, hingga punggungnya tampak basah karena banyak darah yang merembes keluar dari kulitnya.


Pakaian lusuh yang menempel di badan, kini juga hampir robek di bagian punggungnya karena terus di tempa oleh papan yang mendarat keras di permukaan kulit Xiulin.


Suara teriakannya kini sudah tak terdengar lagi dengan bertambahnya jumlah pukulan yang Xiulin terima di punggungnya.


Entah pingsan atau bagaimana, yang jelas semua orang merasa ketakutan ketika menyaksikan kejadian saat ini.


Di dalam hati mereka berjanji, bahwa ketika pulang nanti ke kediaman mereka masing-masing, mereka akan mengingatkan para Putri Murba mereka untuk tidak mengusik kedudukan Putri sah seperti yang di lakukan oleh Xiulin terhadap Hu Liena.


Kaisar Li Jinhai berdiri di atas podium dengan tegak, dia menyaksikan hukuman yang di berikan kepada Xiulin tanpa memalingkan wajahnya sama sekali.


Berbeda dengan Kaisar, wajah Hu Boqin tampak sendu ketika Putri kesayangannya terdahulu mendapatkan banyak pukulan di punggungnya.


Meskipun Xiulin sering berbuat kejahatan, bukan berarti Hu Boqin begitu saja membencinya.


Tidak, perasaan Hu Boqin tetap sama, dia tetap menyayangi Xiulin meskipun memang sering melakukan tindak kriminal.


"Tabib, periksa terdakwa." titah Kaisar saat Xiulin sudah tak berkutik lagi.


Tabib Istana mengangguk, lalu bergerak naik ke atas panggung penyiksaan untuk memeriksa kondisi lengkapnya Xiulin.


Setelah selesai, sang Tabib lalu turun kembali dan berjalan ke hadapan Kaisar Li Jinhai.


"Hormat hamba Yang Mulia! Terdakwa sekarang sedang dalam keadaan kritis, hamba tidak yakin jika dia bisa melanjutkan hukuman." lapor Tabib.


Semua orang menahan nafas menantikan jawaban Kaisar, di dalam hati mereka, semua orang berharap agar Kaisar menghentikan hukuman karena orang yang menjadi terdakwa sudah hampir sekarat seperti apa yang telah di katakan oleh Tabib.


"Tunggu sampai beberapa menit, jika dia masih kritis, kita hentikan hukumannya. Jika dia membaik, kita lanjutkan, sampai hukuman seratus cambukan selesai di lakukan." ucap Kaisar tanpa berkedip.


Semua orang yang mendengar, kini menatap ke arah panggung penyiksaan dengan pandangan mata yang sangat tajam.


Hati mereka semua berdebar menantikan kejadian selanjutnya yang akan menimpa hidup Xiulin.


Akankah dia bisa selamat, ataukah harus mati di atas meja penyiksaan?


Beberapa saat 'pun berlalu, tak ada pergerakan lagi yang terlihat dari Xiulin selain hembusan nafasnya yang sudah mulai tidak beraturan.


Tabib Istana kembali memeriksakan kondisinya setelah mendapat instruksi dari Kaisar Li Jinhai.


Bukan hanya satu, kini Kaisar menambahkan dua orang Tabib agar pemeriksaannya lebih akurat dan dapat di percaya.


Tabib Istana yang pertama menggelengkan kepala, tanda bahwa Xiulin sedang ada dalam keadaan kacau balau.


Detak jantungnya sudah semakin melemah, dan mungkin tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.


"Biar saya coba ...," ujar Tabib yang kedua.


Dia perlahan mendekat, lalu menyentuh urat nadinya Xiulin untuk memastikan keadaannya.


Namun, betapa terkejutnya ia, saat mendapati denyut nadi Xiulin sangat tidak baik.


Dan setelah berdiskusi, kedua Tabib yang di utus Kaisar 'pun, akhirnya kembali menghadap untuk memberikan laporan.


"Mohon ampun, Yang Mulia! Kondisi terdakwa saat ini sedang dalam keadaan sekarat, jika di berkenan, sebaiknya kita pindahkan saja dia ke tempat yang lebih layak." tutur Tabib Istana yang di tunjuk sebagai pembicara.


Kaisar Li Jinhai mendengus tidak senang, hukuman belum selesai di laksanakan. Bagaimana bisa, Tabib Istana mengusulkan untuk pemindahan?


Tidak! Kaisar tidak ingin melakukannya.


"Jika memang tubuhnya sudah semakin lemah, biarkan saja di sana!" titah Kaisar geram.


Tabib Istana tertunduk lesu, sebagai seorang praktisi pengobatan, tentu dia tidak bisa membiarkan orang yang terluka di biarkan begitu saja.


Dan saat ini, tubuh Xiulin menurut Tabib sudah terlalu mengalami banyak luka pukulan, hingga beberapa bagian kulitnya terkoyak dan mengeluarkan banyak darah.


Namun apa mau di kata, jika perkataan Tabib sudah tak di dengarkan Kaisar, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam 'pun telah berlalu.


Tubuh Xiulin yang masih tertelungkup di atas meja bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.


Semua orang menduga, jika Xiulin sudah tak bernyawa lagi setelah di siksa dengan puluhan pukulan papan yang keras.


"Yang Mulia, hamba akan kesana untuk memeriksanya." Hu Liena tiba-tiba bangun, dan mengejutkan semua orang.


Memeriksa?! Apa maksudnya?! Pikir semua orang sambil terus memperhatikan Hu Liena yang masih berdiri di hadapan Kaisar untuk menunggu persetujuannya.


Kaisar Li Jinhai mengangguk, dia sudah di beritahukan segalanya oleh Tabib Hong. Tak ada alasan lagi baginya menolak perkataan Hu Liena, setelah mengetahui kebenaran tentangnya.


"Tentu, kau bisa melakukannya." balas Kaisar Li Jinhai yang membuat semua orang terfana.


Setelah memberi hormat terlebih dahulu, Hu Liena lalu berjalan ke panggung besar tempat hukuman Xiulin di lakukan.


Para prajurit yang sedang berjejer menjaga panggung, langsung menyingkir begitu Hu Liena melewati mereka semua.


Hu Liena menatap dalam punggung Xiulin, yang tampak mengeluarkan cairan merah bercampur dengan darah yabg berwarna putih akibat lukanya di biarkan terbuka terlalu lama.


"Aku tahu kau belum menyerah, oleh sebab itulah, aku datang ke hadapanmu saat ini Kakak!" ucap Hu Liena setengah berbisik setelah berada di sebelahnya Xiulin.


Pada dasarnya, Xiulin memang hanya berpura-pura pingsan saja agar dirinya bisa beristirahat dari hukuman pukulan papan. Bermodal hanya diam saja inilah, akhirnya Xiulin bisa mengistirahatkan tubuh dari sakitnya pukulan para algojo.


Namun secara tak terduga, Hu Liena malah kini berniat menghampiri dirinya di saat dia sedang berpura-pura memejamkan mata.


"Diam kau ******, urus saja urusanmu sendiri." umpat Xiulin kasar di dalam hati karena takut kelakuannya terbongkar dan hukumannya akan kembali di mulai.


Hu Liena mengulurkan tangan berusaha meraih pergelangan Xiulin yang terkulai lemas untuk memeriksa denyut nadinya.


Secara tiba-tiba, Xiulin bangkit dan menggerakkan tangannya untuk menyambar rahang Hu Liena.


"Mati kau, ******!" teriak Xiulin keras.


Kaisar Li Jinhai dan orang-orang yang berada di sana langsung terbelalak menyaksikan kejadian yang secara tiba-tiba tersebut.


Bahkan Tabib yang sebelumnya memeriksa kondisi Xiulin 'pun menjadi merasa ketakutan karena takut di salahkan oleh Kaisar dan para pejabat di sana karena di anggap telah lalai hingga memberikan keterangan yang tidak benar.


"Putri Xia, awas!" teriak Pangeran Jun dan yang lainnya secara bersamaan.


"Agghhh!"


Terdengar teriakan panjang dari atas panggung yang membuat jantung semua orang berdetak lebih kencang dari biasanya.


Semua orang mengira, jika teriakan tersebut berasal dari Hu Liena yang terkena cakaran keras dari Xiulin.


Namun, begitu mereka semua dengan lebih teliti lagi. Hu Liena justru sekarang terlihat baik-baik saja, dan malah Xiulin lah yang kini tengah mengerang kesakitan dengan badan tertelungkup di atas panggung besar.


"Kalian tunggu apalagi! Cepat ikat kaki dan tangannya! Jangan sampai dia kembali menyerang Tuan Putri Xia Yang Agung!" teriak kepala prajurit yang langsung menyadarkan semua orang dari keterkejutan mereka.


Li Junjie langsung berlari menghampiri Hu Liena yang kini tengah membersihkan percikan darah Xiulin di tangannya.


"Apa kau terluka?" tanya Li Junjie cemas.


Hu Liena menggelengkan kepala, dia memang tidak mengalami luka sedikitpun.


Dari awal, Hu Liena sudah bisa menebak jika Xiulin hanya berpura-pura pingsan saja saat para Tabib memeriksa keadaannya.


Oleh karena itulah, Hu Liena sengaja mendatangi panggung tempat hukuman agar dia bisa membongkar siasat licik Xiulin.


Di juga sengaja tidak berusaha menghindar saat Xiulin menyerangnya, justru dia sangat menantikan kejadian tersebut. Karena dengan begitu, Hu Liena memiliki kesempatan untuk menyerang balik Xiulin menggunakan jarum yang telah dia siapkan sebelumnya.