Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
39. Dekret Kaisar.


Luqiu buru-buru mendekati tempat tidur, dan langsung berseru di balik tirai kepada Hu Liena.


"Nona! Cepat bangun! ada utusan dari Kaisar datang, jika Nona tidak segera bangun. Kita bisa di hukum karena telah mengabaikan utusan Penguasa Negeri, Nona!"


"Ish, Luqiu ... bisa-bisanya kau berteriak sekencang itu padaku, apa kau mau aku sakit jantung karena di teriaki seperti itu, hah?" Gerutu Hu Liena di balik tirai.


Changing yang mendengar omelan Hu Liena langsung mendekat, dan segera berbicara kepada Hu Liena.


"Nona! hamba datang kesini untuk menjemput anda, Kasim Hai datang untuk membacakan 'Dekret Kaisar' untuk Nona. Tapi, bisa-bisanya Nona malah asik-asikkan tidur di sini." Tegur Changing.


Di antara pengawal Hu Boqin, memang Changing-lah yang selalu menegur Hu Liena jika berbuat salah.


"Kasim Hai? siapa itu? mengapa, namanya aneh sekali?" Cibir Hu Liena lagi di balik tirai.


Changing ingin tertawa mendengar ucapan Hu Liena, tapi dia tahan, karena ada sesuatu yang lebih penting yang harus dia lakukan.


"Sebaiknya, kau bantu Nona-mu mempersiapkan diri. Jangan terlalu lama, Kasim Hai sudah menunggu dari tadi pagi." Ujar Changing seraya berlalu pergi dari hadapan Luqiu.


"Ba-baik, Tuan pengawal." Balas Luqiu gugup.


Hu Liena turun dari atas ranjang, lalu ia meminta Luqiu untuk membantunya membersihkan diri.


Di dalam Aula, semua orang kini sedang berada dalam ketegangan. Pasalnya, Hu Liena yang mereka tunggu tak kunjung datang kesana.


Hu Boqin berbisik kepada Changing, yang sekarang sudah berdiri di sampingnya.


"Changing, di mana Putriku? Mengapa belum datang juga?"


"Tuan, Nona Hu Liena belum bangun dari tidurnya. Barulah setelah saya kesana, dia bangun dan akan bergegas datang kemari." Bisik Changing.


Hu Boqin tersentak, bisa-bisanya Hu Liena tertidur di saat semua orang tegang begini, pikirnya.


"Dasar gadis nakal!" Gerutu Hu Boqin setengah berbisik karena takut Kasim Hai mendengarnya.


Xiulin yang berada di samping Yueqin juga, ikut berbisik kepada Ibunya itu.


"Ibu, wanita ****** itu kemana? mungkinkah dia sedang mencari gara-gara?"


"Biarkan saja Putriku, biar dia di hukum karena telah mengabaikan utusan Kaisar saat ini." Balas Yueqin seraya menyeringai licik.


Xiulin hanya mengangguk, ia merasa tak sabar dengan apa yang akan menimpa Hu Liena.


Sementara Kasim Hai, saat ini terlihat begitu tenang, tanpa terganggu dengan ketegangan semua orang sedikitpun.


"Nona Hu Liena memasuki Aula!" Teriak pria yang bertugas berjaga di pintu mengabarkan kedatangan Hu Liena.


Semua orang merasa lega secara bersamaan, terkecuali dua Ibu dan anak yang sekarang memasang ekspresi wajah masam.


"Lihat itu, Ibu! Bisa-bisanya dia datang, dengan tanpa rasa bersalah sama sekali." Cibir Xiulin kepada Ibunya yang di tujukan untuk Hu Liena.


Kali ini, Xiulin sengaja meninggikan suaranya. Agar semua orang bisa mendengar, apa yang sedang dia bicarakan.


"Lancang!" Kasim Hai langsung menggebrak meja di sampingnya.


Xiulin tersenyum sinis, usahanya untuk memancing kemarahan Kasim Hai, telah berhasi.


Rasakan itu, ******! batin Xiulin.


Tak di sangka, kemarahan Kasim Hai bukan di tujukan untuk Hu Liena, melainkan untuk Xiulin sendiri.


"Perdana Menteri! Bagaimana anda mendidik Putri gundik seperti ini?" Kasim Hai langsung mengajukan pertanyaan kepada Hu Boqin, tujuannya jelas, ingin menghina Xiulin.


"Mohon ampuni Putri hamba, Kasim. Hamba akan menghukumnya, nanti." Balas Hu Boqin seraya melirik ke arah Xiulin yang tampak kebingungan.


Kenapa? kenapa aku yang di salahkan? batin Xiulin.


Sementara Hu Liena, kini sedang membungkuk di hadapan semua dengan penuh kelembutan.


Kasim Hai mengangguk puas dengan perilaku sopan Hu Liena, tak salah Pangeran Jun ingin segera menikahinya, pikir Kasim Hai.


"Hormatmu saya terima, Nona Hu Liena." Ujar Kasim Hai ramah.


Tatapannya kepada Hu Liena sangat lembut, tak seperti tadi yang seakan ingin memakan semua orang yang ada di dalam Aula.


"Terima kasih, Kasim Hai!" Sahut Hu Liena dengan masih membungkuk di sana.


Kasim Hai mengangguk sekali lagi, lalu mulai berbicara. "Karena Nona Hu Liena sudah datang, maka aku tidak akan berbasa-basi lagi."


"DEKRET KAISAR!" Teriak Kasim Hai seraya membuka gulungan yang di bawanya.


Semua orang langsung berlutut, begitu Kasim Hai akan mengumumkan 'Dekret Kaisar' termasuk Hu Liena, yang langsung berlutut begitu mendengarnya.


AKU! LI JINHAI! KAISAR KERAJAAN DINASTI YING!


MENURUNKAN DEKRET PERNIKAHAN, UNTUK PUTRAKU LI JUNJIE DENGAN PUTRI SAH DARI PERDANA MENTERI YANG BERNAMA HU LIENA. YANG AKAN DI LANGSUNGKAN ENAM HARI KE DEPAN, OLEH KARENA ITU AKU BERHARAP NONA HU LIENA MENERIMA DEKRET PERNIKAHAN INI.


DAN KARENA SEBENTAR LAGI NONA HU LIENA AKAN MEMASUKI ISTANA, MAKA AKU AKAN MEMBERIKAN GELAR PUTRI XIA KEPADANYA.


DEMIKIAN DEKRET KAISAR INI AKU SAMPAIKAN


PENGUASA DINASTI YING, LI JINHAI!


"Terima kasih, Yang Mulia Kaisar, semoga Kaisar hidup seribu tahun lagi." Ucap semua orang serentak.


Kasim Hai menggulung 'Dekret Kaisar' di tangannya, lalu menyerahkannya kepada Hu Liena.


"Terimalah ini, Putri!"


Hu Liena menerima 'Dekret Kaisar' tersebut, lalu membungkuk kepada Kasim Hai.


"Terima kasih, Kasim!"


"Tidak perlu, anda adalah Putri Xia Yang Agung, bagaimana mungkin merendahkan diri seperti itu hanya kepada seorang Kasim sepertiku ini." Ucap Kasim seraya menahan gerakan Hu Liena.


Setelah mengatakan itu, Kasim Hai memandang ke sekelilingnya lalu berbicara lantang.


"Kalian semua! Cepat beri hormat kepada Tuan Putri Xia Yang Agung!"


"Hormat kami untuk Tuan Putri Xia Yang Agung!"


Semua orang memberi hormat kepada Hu Liena, termasuk Yueqin dan Xiulin juga.


Mereka membungkuk hormat, meskipun merasa tidak rela.


Xiulin mencengkeram tangannya sendiri, hingga kukunya menembus kulit dan mengeluarkan darah.


Bajingan! harusnya aku, yang menjadi Putri saat ini. Bukan si ****** Hu Liena itu, batin Xiulin.


Rasa dendam dan sakit hatinya, kini tumbuh menjadi berkali-kali lipat besarnya kepada Hu Liena.


Terdengar kembali, Kasim Hai yang bersuara lantang di tujukan kepada semua orang.


"Satu lagi yang harus aku sampaikan kepada kalian, dua hari lagi, Istana akan mengadakan perjamuan untuk menyambut pengangkatan Putri Xia dan sekaligus mengumumkan pernikahannya dengan Yang Mulia Pangeran Jun. Pesta itu akan di hadiri oleh para Pangeran dari Negeri tetangga, Kaisar berharap, kalian semua bisa di ajak bekerja sama, dan bersikap ramah agar mereka terasa berkesan dengan kunjungannya kali ini."


"Terima kasih, Kasim Hai! Kami semua akan mengingatnya!" Ucap semua orang lagi.


Kasim Hai mengangguk-anggukkan kepala, ia merasa puas dengan sambutan baik semua orang.


Karena merasa tugasnya untuk menyampaikan seluruh pesan Kaisar di sana telah selesai, Kasim Hai pun segera undur diri dan berpamitan.


"Baik, karena semuanya telah aku sampaikan kepada kalian. Aku akan pamit sekarang, selamat tinggal."


Semua orang membungkuk sekali lagi, dan memberi hormat kepada Kasim Hai, orang yang paling di percayai oleh Kaisar.