Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
58. Kau ini tetaplah lucu di mataku!


Putri Jiang cemberut di sebut Putri oleh Hu Liena, padahal sudah jelas mereka sebentar lagi akan menjadi keluarga.


"Kakak Ipar, jangan memanggilku seperti itu lagi.''


"Adik benar Kakak Ipar! Panggil kami seperti dulu lagi ...," Timpal Li Jing Sheng sembari berjalan mendekati Putri Jiang.


Sebenarnya, Li Jing Sheng ingin mendekati Hu Liena. Namun dia urungkan karena takut dengan tatapan Li Junjie yang seakan ingin membunuhnya.


"Panggilan seperti dulu?" Tanya Hu Liena yang jadi terheran dengan ucapan Li Jing Sheng.


Putri Jiang kembali maju satu langkah dan mulai berbicara lagi. ''Iya, seperti dulu Kakak Ipar sering memanggil kami berdua. Aku si 'cantik' dan Kakak Kedua si 'tampan'."


Hu Liena mengangguk-angguk tanpa ingin menolak permintaan mereka.


Dia mulai mengerti keterikatan antara kedua Adik Li Junjie ini dengan dirinya.


Meskipun tidak ada bayangan sama sekali dari pemilik asli tubuh ini. Namun bagi Hu Liena, permintaan mereka tidak buruk juga.


Justru ini semakin bagus untuk Hu Liena.


Jika semua keluarga kerajaan mendukungnya, posisi Hu Liena akan semakin kuat. Dan keselamatannya akan otomatis terjaga, dari berbagai arah.


"Baiklah, tidak masalah!" Ucap Hu Liena dengan senyuman termanisnya.


Namun berbeda halnya dengan Hu Liena!


Li Junjie justru menolak permintaan kedua Adiknya dengan tegas.


"Tidak! Kau tidak boleh memanggil mereka dengan panggilan seperti itu!"


Putri Jiang berikut Kakaknya Li Jing Sheng langsung murung mendengar penolakan dari Kakak Pertamanya, Li Junjie.


"Kenapa?" Tanya Hu Liena penasaran.


Li Junjie menoleh dulu ke arah kedua Adiknya lalu menjawab perkataan Hu Liena.


"Tidak ada yang lebih cantik darimu! Dan tidak ada yang lebih tampan dariku!"


Hu Liena langsung merasa mual mendengar ucapan Li Junjie.


Tak pernah ia temui, pria naif seperti ini sebelumnya.


"Ish, kau ini Pangeran. Jangan seperti itu kepada Adik-Adikmu sendiri. Putri Jiang ini memang cantik, dan Pangeran Jing juga tampan. Apa yang salah dengan sebutan itu?" Ujar Hu Liena dengan kesal.


"Tapi ...,"


"Sudah! Aku tidak ada masalah, jika harus memanggil mereka seperti itu!" Hu Liena langsung memotong ucapan Li Junjie.


Putri Jiang dan Pangeran Jing langsung merasa senang di bela seperti itu oleh calon Kakak Iparnya.


Namun begitu mereka melirik ke arah Kakaknya. Mereka di suguhi dengan pemandangan yang sangat menakutkan. Di mana Li Junjie memelototkan matanya ke arah mereka berdua.


"Adik, sebaiknya kita jangan terlalu lama berada di sini." Bisik Li Jing Sheng kepada Adik perempuannya


Putri Jiang juga sebenarnya sudah tidak ingin berada di dekat Li Junjie. Bisa mati berdiri Putri Jiang jika terlalu lama berada di sana.


"Aku juga ada urusan mendadak, Kakak." Balas Putri Jiang perlahan.


Mereka berdua 'pun langsung pamit dengan alasan yang tak masuk akal.


"Kakak Pertama! Kakak Ipar! Aku harus pergi dulu, ada urusan yang harus aku selesaikan secepatnya."


"Iya Kakak Pertama, Kakak Ipar, aku juga akan ikut membantu Kakak Kedua untuk lari dari sini." Timpal Putri Jiang yang membuat Hu Liena mengernyitkan alisnya.


"Lari?" Tanya Hu Liena heran.


Li Jing Sheng langsung menyikut pelan Adik perempuannya karena salah berbicara.


Sambil meringis menahan sakit, Putri Jiang kembali mengulang kata-katanya.


"Maksudku bukan lari Kakak Ipar, tapi pergi!"


"Oh baiklah, aku juga harus kembali sekarang!" Ujar Hu Liena seraya bersiap untuk pergi meninggalkan Aula perjamuan.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk berpisah di sana.


Namun sebelum langkahnya semakin menjauh, Hu Liena berbalik dan memanggil kembali kedua Adik dari calon Suaminya.


"Si 'cantik', si 'tampan', sampai jumpa!" Ucap Hu Liena setengah berteriak dan melambaikan tangannya ke arah mereka yang tampak kegirangan.


Di samping Hu Liena, Li Junjie cemberut karena panggilan tersebut.


Dia langsung meraih tangan Hu Liena yang sedang melambai ke arah Adik-Adiknya.


"Sudah cukup! Nanti juga kalian akan bertemu lagi!"


Hu Liena menarik tangannya dari genggaman Li Junjie. "Kau ini kenapa? Dari tadi bertingkah aneh, apa kau sakit?"


Li Junjie merasa frustasi dengan sikap Hu Liena yang tak mengerti dengan perasaannya.


Haruskah Li Junjie bilang cemburu?


Tidakkah Hu Liena mengerti akan hak itu?


"Pangeran! Kenapa kau hanya diam saja? Katakan di mana yang sakit? biar aku periksa?" Ucap Hu Liena ketika melihat Li Junjie hanya diam saja.


Li Junjie memegangi dadanya sendiri.


Sungguh dia merasa sesak dengan perlakuan Hu Liena.


Adiknya saja Li Jing Sheng di sebut tampan, sungguh perhatian.


Tapi dirinya, hanya di perlakukan seperti pasien saja oleh calon Istrinya itu.


"Apa dadamu terasa sakit? apa racun itu bereaksi lagi?" Tanya Hu Liena yang mendadak panik.


Tanpa jawaban Li Junjie, Hu Liena menyimpulkan jika racun di tubuh Li Junjie kembali menyerang.


Dia dengan sigap meraih tangan Li Junjie dan memeriksa nadinya dengan teliti.


Namun setelah memeriksa denyut nadi Li Junjie, Hu Liena mengernyitkan dahinya.


"Denyut nadi anda sangat normal, tapi kenapa anda seperti kesakitan?" Tanya Hu Liena dengan terheran-heran.


Li Junjie mulai membuka suara dan memberitahukan kondisi dia yang sebenarnya.


"Aku tidak apa-apa! Aku hanya tidak suka kau lebih peduli kepada orang lain, daripada aku yang nota bene sebagai calon Suamimu. Hatiku rasanya sakit, sakit sekali!"


Hu Liena tak kuasa menahan tawanya begitu mendengar perkataan Li Junjie.


Bisa-bisanya pria tampan satu ini memiliki rasa cemburu kepada Adiknya sendiri.


Naif! benar-benar naif!


"Ha-ha-ha! Pangeran, anda lucu sekali!"


Li Junjie mendengus, ia benar-benar merasa tidak senang saat ini.


"Aku bukan anak kecil, jadi berhenti bilang aku lucu!"


Hu Liena semakin merasa geli melihat tingkah Li Junjie yang sedang cemburu seperti sekarang.


Kata orang, Li Junjie itu adalah Pangeran yang menakutkan dan paling kejam. Tapi bagi Hu Liena, Li Junjie adalah Pangeran yang paling imut dan lucu.


Apalagi saat ini, ketika Li Junjie sedang uring-uringan. Semakin membuat Hu Liena merasa gemas di buatnya.


"Kalau bukan lucu, lalu apa?" Goda Hu Liena.


"Apa saja, yang penting jangan lucu!" Ucap Li Junjie kembali merajuk.


Hu Liena mendekat, lalu memegang kedua pipi Li Junjie dengan kedua tangannya.


"Kau ini tetaplah lucu di mataku! Mau marah, cemberut, atau merajuk sekalipun, kau tetaplah Lucu! Dan aku sangat suka akan hal itu!"


Ucapan Hu Liena yang lembut, mampu membuat kedua pipi Li Junjie yang sudah merah karena marah, menjadi semakin merah lagi.


Kali ini bukan marah, ataupun cemburu!


Tapi karena malu, malu di puji oleh Hu Liena.