
Tabib Hong yang melihat Hu Liena hanya diam saja, kembali membuka suara. "Anda ini lupa, atau hanya berpura-pura lupa saja."
"Apa maksudmu?" Ujar Hu Liena seraya memicingkan kedua matanya.
Ucapan Tabib Hong semakin meningkatkan kewaspadaan Hu Liena untuk saat ini.
Tabib Hong menarik nafas panjang sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. "Nona, saya itu orang yang mendapat tugas menjaga tempat rahasia itu. Sedikit banyaknya, saya tentu tahu tentang apa yang tersimpan di dalamnya. Bahkan siapa orang yang membuat dan memiliki ruangan itu, saya tahu semua. Namun anda tenang saja, saya tidak akan membocorkan segalanya. Bukankah anda masuk kesana juga, atas bantuan saya."
Tabib Hong menjelaskan secara panjang lebar tentang rahasia yang selama ini di jaganya. Dan otomatis, ucapan dari Tabib Hong tersebut, membuat Hu Liena menurunkan kewaspadaan dirinya.
"Maafkan aku, Tabib. Aku lupa akan hal itu, aku selalu saja bersikap waspada dan mencurigaimu." Ujar Hu Liena yang sudah terlihat lebih tenang.
"Aku mengerti, itu merupakan hal yang wajar. Dan aku rasa, kewaspadaanmu itu memang harus di lakukan. Mengingat banyaknya orang yang akan menargetkan dirimu, seandainya salah satu dari mereka tahu, bahwa kaulah Tabib dalam ramalan yang mereka cari-cari itu." Jelas Tabib Hong sekaligus memperingatkan Hu Liena, tentang pentingnya rasa waspada.
"Terima kasih Tabib, atas pengertiannya." Ucap Hu Liena seraya menangkupkan kedua tangan.
Hu Liena bukanlah orang yang tidak tahu sopan, ketika Tabib Hong mengucapkan itu, dia langsung mengerti, itu untuk kebaikannya sendiri.
"Tapi Nona, aku ingin meminta satu hal darimu." Lanjut Tabib Hong.
"Katakan saja, Tabib. Tidak perlu sungkan begitu. Selama aku bisa, aku pasti membantumu." Ujar Hu Liena.
"Obati, Pangeran Jun! aku tahu, kaulah satu-satunya orang yang bisa menawarkan racunnya. Dan aku juga tahu, jika di sisi Pangeran Jun, hidupmu akan aman dari kejaran orang-orang yang mengincarmu nanti. Godaan tentang Tabib dalam ramalan sangat kuat, seandainya mereka tahu identitasmu sebenarnya, maka kau akan benar-benar tamat hari itu juga. Namun, jika kau bersama dengan Pangeran Jun, hidupmu dan juga orang-orang terdekatmu, akan terjamin keselamatannya. Maka dari itu, pertimbangkanlah kata-kataku ini. Dan ingatlah, jika kau mati, dimensi rahasia tidak akan aman lagi. Dan semua usaha Ayahmu, akan menjadi sia-sia belaka."
Hu Liena termenung, ucapan Tabib Hong ada benarnya juga. Cepat ataupun lambat, orang-orang yang mencari keberadaan Tabib dalam ramalan, pasti akan menemukannya juga. Bukan tidak mungkin, jika orang-orang itu secara tidak segan akan berani melukai, ataupun juga membunuhnya jika di perlukan.
Di tambah lagi dengan keberadaan dimensi rahasia yang di buat dengan susah payah oleh kedua orangtuanya, harus tetap ia jaga. Jika dirinya sampai jatuh ke tangan orang-orang yang ingin memanfaatkannya saja, bukan mustahil, jika dimensi rahasia juga akan terancam dan mereka akan menggunakannya untuk kekacauan dan menyakiti sesama manusia.
Lagipula, jika di pikir-pikir lagi, Li Junjie tidak pernah menyakiti dirinya. Hanya saja, bayangan pengkhianatan tunangan yang dengan tega berkhianat dan membunuh dirinya beserta sang Ayah di kehidupan pertamanya. Selalu saja membuat Hu Liena, menjadikan Li Junjie sebagai pelampiasan kekesalannya. Egois memang, tapi apalah daya, Hu Liena juga hanya sebagai korban. Korban dari keserakahan kaum lelaki, yang kini di bencinya.
Namun, setelah Tabib Hong membuka jalan pikirannya. Hu Liena jadi tersadar, jika yang dia lakukan selama ini kepada Li Junjie, tidaklah beralasan.
"Baik Tabib, jika itu memang keinginanmu, maka akan aku lakukan. Tapi apa kau menjamin, jika Pangeran som ... eh tidak, maksudku, Pangeran Jun itu, bisakah dia menjaga rahasia tentang identitasku nanti?"
Tabib Hong mengangguk, "Aku jamin itu, Pangeran Jun bukanlah orang sembarangan yang akan dengan mudahnya membuka rahasiamu begitu saja."
"Baik, aku percaya padamu! aku juga akan segera menemuinya malam ini juga, Tabib." Balas Hu Liena.
"Terserah anda saja, Nona. Tapi ingat, kau harus tetap berhati-hati di setiap langkah yang akan kau jalani." Ujar Tabib Hong sekali lagi dia memperingatkan Hu Liena.
"Terima kasih, Tabib!" Hu Liena kembali menangkupkan kedua lengannya.
...----------------...
Malam harinya, Hu Liena yang telah berniat menyambangi kediaman Pangeran Jun, segera mempersiapkan diri.
Ia memakai baju stelan warna hitam, lengkap dengan penutup kepala dengan warna yang senada.
"Baiklah, aku harus bisa membuang egoku sendiri, dan nyawa Pangeran Jun harus aku selamatkan."
Hu Liena sudah bertekad di dalam hatinya, jika dia akan memulai kembali lembaran baru di kehidupan keduanya ini. Itu berarti, dia juga harus bisa menerima Pangeran Jun sebagai calon Suaminya, di kehidupannya saat ini.
Baru saja Hu Liena akan menyelinap melalui jendela, dua bayangan hitam telah terlebih dahulu menghadang jalannya.
"Berhenti, Nona! anda tidak boleh pergi kemanapun juga!" Ucap pria tinggi tegap yang berdiri di hadapan Hu Liena.
"Ckk ... aku kira siapa." Ujar Hu Liena seraya mendelik ke arah orang yang baru saja bersuara.
Wang Shu yang merasa tak enak hati dengan Hu Liena langsung kembali berbicara. "Maafkan saya Nona, saya terpaksa harus menghentikan niat anda."
Hu Liena tidak merasa marah kedua orang ini menghadangnya, hanya saja, kali ini dia harus benar-benar pergi.
"Tolong biarkan aku pergi, Paman! Aku janji, aku akan baik-baik saja saat kembali nanti!" Balas Hu Liena seraya menangkupkan kedua lengannya di depan dada.
Melihat sikap Hu Liena yang sopan, membuat kedua kakak beradik ini jadi terenyuh.
Tapi tugas adalah tugas, mereka tidak boleh terbawa oleh perasaan. "Tidak, itu akan berbahaya bagi anda." Wang Shu tetap menolak dan tetap menghadang jalan Hu Liena.
"Aku tidak bisa, Paman. Aku harus tetap pergi malam ini, tolong mengertilah." Ucap Hu Liena setengah memohon.
Dia bisa saja memaksa dengan cara bertarung melawan keduanya, namun ia tahu, mereka berdua menghadangnya karena merasa khawatir dan juga karena perintah dari Ayahnya, Hu Boqin.
"Jika anda tetap seperti ini, tidak ada cara lain, kami harus ikut bersama, Nona." Ucap Wang Shu seraya bergerak maju ke arah Hu Liena.
Hu Liena menggelengkan kepala berniat menolak, tetapi di urungkannya karena melihat Wang Shu yang terus menghadang di depannya.
Kedua Wang bersaudara saling menatap satu sama lain sejenak, setelah itu, mereka pun menyanggupi persyaratan Hu Liena.
"Baik, Nona!" Balas mereka kompak.
"Baik, ayo pergi!" Ucap Hu Liena seraya berlari dengan cepat menuju kediaman Pangeran Jun.
Setelah berlari cukup lama, akhirnya mereka tiba di belakang kediaman Pangeran Jun.
Sengaja mereka pergi lewat jalur belakang, karena Hu Liena yang memintanya.
Hu Liena beralasan, kedatangannya tak ingin di ketahui banyak orang. Dan Wang bersaudara pun langsung menyetujuinya, karena mengingat status Hu Liena yang telah di jodohkan dengan pemilik kediaman tersebut, Pangeran Jun.
"Nona, apa tidak sebaiknya kita lewat pintu gerbang saja?" Tanya Wang Wey sembari melihat dinding pembatas yang tinggi menjulang di hadapannya.
"Tidak perlu, aku akan memanjatnya." Ucap Hu Liena tenang.
"Ini terlalu tinggi, Nona!" Kata Wang Shu terkejut.
"Ckk ... kalian yang akan membantuku." Ujar Hu Liena seraya melirik ke arah mereka.
"Kami?" Wang bersaudara teriak serempak.
"Um." Hu Liena mengangguk.
Kedua Wang bersaudara kebingungan, mereka tidak mengerti dengan maksud ucapan dari Hu Liena.
Melihat mereka yang hanya diam saja, Hu Liena segera memberi perintah. "Tolong Paman berdua berdiri berhadap-hadapan, lalu satukan kedua tangan kalian."
Tanpa banyak bertanya, kedua Wang bersaudara langsung melakukan apa yang di instruksikan Hu Liena.
Setelah mereka siap, tiba-tiba Hu Liena melompat dengan menggunakan tangan Wang bersaudara sebagai tumpuan.
Dan dalam sekejap mata, Hu Liena sudah berada di atas dinding tembok yang menjulang.
"Paman, aku akan pergi sebentar. Kalian boleh menunggu ataupun pulang terlebih dahulu. Selamat tinggal!" Ucapnya seraya langsung menghilang.
Kedua kakak beradik itu menggelengkan kepala, mereka tidak menyangka, Hu Liena akan bergerak secepat itu.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Wey?" Tanya Wang Shu kepada kakaknya.
"Apalagi, selain menunggu." Balas Wang Wey pasrah.
Mereka pun mencari tempat persembunyian untuk menunggu Hu Liena di sana.
Di kamar utama...
Hu Liena menyelinap masuk melewati jendela kamar yang terbuka.
Tak ada satupun pengawal yang berjaga di sana, memungkinkan Hu Liena untuk memasuki kamar dengan begitu mudahnya, tanpa ada hambatan sama sekali.
Di atas ranjang, Hu Liena melihat seorang pria sedang tertidur dengan sangat tenangnya.
Pantulan sinar rembulan yang masuk lewat jendela kamar, membuat Hu Liena bisa dengan jelas menatap wajah pria yang ada di atas ranjang.
Fitur wajahnya yang tegas, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, dan kulitnya yang bak patung giok itu, membuat jantung Hu Liena tak ayal berdebar tak karuan.
"Ckk ... malang sekali nasib Pangeran tampan ini." Gumam Hu Liena perlahan.
Ia memang tak pernah menatap langsung wajah Li Junjie sebelumnya, karena setiap Hu Liena bertemu atau berdekatan dengan Li Junjie, dia tak pernah mau memandang atau mengangkat kepalanya.
Kebenciannya kepada Yu Zhen dulu, membuat Hu Liena selalu merasa benci setiap ada seorang pria yang berdekatan dengannya. Apalagi setelah tahu, jika di kehidupan keduanya ini, dia telah berjodoh dengan seorang pria yang merupakan Pangeran yang terkenal sombong dan arogan seperti Li Junjie. Kebencian Hu Liena, semakin menjadi-jadi.
Bagi Hu Liena, semua pria itu sama. Arogan, egois, dan juga kejam. Makanya, begitu Hu Liena mendengar cerita dari Luqiu sebelumnya, yang menyebutkan jika Li Junjie Pangeran yang dingin dan terkenal kejam. Ia langsung bisa menyimpulkan, jika Li Junjie bukanlah orang baik untuknya.
Hu Liena berjalan perlahan mendekati tempat tidur, ia akan memeriksa keadaan Li Junjie seperti permintaan Tabib Hong kepadanya.
Setelah memastikan keadaannya, barulah ia bisa memutuskan, pengobatan seperti apa yang akan dia berikan kepada Pangeran calon Suaminya ini.
Tangan Hu Liena terulur ke arah Li Junjie, berniat meraih tangannya dan memeriksa denyut nadi sang Pangeran.
Namun sebelum Hu Liena berhasil menyentuhnya, tangan Hu Liena berhasil di tahan oleh seseorang.