Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
162. Hu Liena jatuh pingsan.


"Aku baik-baik saja, Pangeran." jawab Hu Liena sambil mengibaskan lengan bajunya.


Li Junjie dengan penuh perhatian menuntun Hu Liena kembali menuruni panggung tempat hukuman Xiulin di adakan.


Dia tidak mau, jika tiba-tiba Xiulin kembali bangkit dan menyerang calon Istrinya tersebut.


Meskipun Li Junjie yakin, jika Hu Liena pasti bisa membalikkan keadaan jika Xiulin kembali menyerangnya. Namun tetap saja, Li Junjie merasa was-was dan tak bisa tenang memikirkan keselamatan Hu Liena.


"Kakak Ipar, kau hebat sekali!" Putri Li Jiang yang menyambut kedatangan Hu Liena di sampingnya.


"Itu bukanlah sesuatu yang istimewa." balas Hu Liena datar.


Putri Li Jiang mengangkat jempolnya tinggi-tinggi untuk memuji kehebatan Hu Liena tanpa bersuara.


Di kursi tempat para Menteri, Hu Boqin duduk dengan di penuhi rasa khawatir akan keselamatan Putri kandungnya yang lagi-lagi terancam keselamatannya akibat Xiulin.


Hatinya yang tadi mulai luluh menyaksikan penderitaan Xiulin, kini kembali keras bagaikan batu karena perbuatan Xiulin sendiri yang lagi-lagi mengincar nyawa Hu Liena.


Tak ada lagi simpati di matanya Hu Boqin, yang ada hanyalah kekesalan dan juga kekecewaan yang teramat sangat untuknya.


Di atas podium, Kaisar yang semakin geram dengan kejahatan yang di lakukan saudara tiri calon menantunya tersebut, langsung berteriak mengumumkan hukuman yang lebih berat lagi kepada Xiulin.


"Aku perintahkan kalian untuk mencambuk terdakwa Xiulin hingga selesai! Jangan pernah berhenti memberikan hukuman, meski dia sekarat sekalipun. Kalian paham?!" teriak Kaisar Li Jinhai dari atas podium.


"Paham Yang Mulia!" jawab para algojo serentak.


Setelah memberi hormat terlebih dahulu kepada Kaisar dan para Pangeran juga Putri, ke empat algojo lalu kembali mengikat kaki dan tangan Xiulin yang sempat di lepaskan karena permintaan Tabib, ke meja tempat hukuman berlangsung.


Dan karena telah mendapatkan perintah dari Kaisar Li Jinhai, ke empat algojo tersebut, kembali mengayunkan papan secara bergantian ke punggungnya Xiulin dengan keras.


Teriakan demi teriakan yang menyayat hati, keluar dari mulut Xiulin. Awalnya, teriakannya sangat keras hingga semua orang yang hadir di sana bisa mendengarnya dengan jelas.


Namun, makin bertambahnya jumlah pukulan yang dia terima. Makin terdengar pelan teriakannya di telinga semua orang-orang. Bahkan banyak orang yang mengira, jika Xiulin kembali pingsan karena tidak kuat menahan kesakitan tubuhnya yang di dera dengan pukulan para algojo.


Dan setelah algojo terakhir menyelesaikan tugasnya, Tabib kembali di datangkan untuk memeriksa kondisi Xiulin yang sudah tidak bergerak lagi.


"Maafkan hamba, Yang Mulia! Kondisi terdakwa kini sudah tidak bernyawa lagi." ucap Tabib sambil memberi hormat di depan Kaisar.


"Apa kau yakin?" tanya Kaisar ragu.


Seperti yang telah di ketahui sebelumnya, Tabib Istana pernah berbuat kesalahan mendiagnosis kondisi Xiulin yang katanya pingsan, ternyata hanya berpura-pura saja untuk mengecoh semua orang.


Jadi, Kaisar Li Jinhai sedikit meragukan laporan dari sang Tabib karena takut terjadi kesalahan lagi di dalam pemeriksaannya.


"Kali ini, hamba tidak salah memeriksa, Yang Mulia. Denyut nadinya sudah tidak terasa, dan di pastikan jika dia sudah meninggal sebelum hukuman selesai di lakukan." tutur Tabib Istana dengan perasaan malu yang tiada terhingga.


"Ijinkan saya untuk melihatnya dari dekat, Yang Mulia!" Hu Liena tiba-tiba berdiri dan meminta persetujuan Kaisar untuk melihat jasad Xiulin.


Ada Pangeran Li Junjie yang turut serta mendampinginya, karena mengkhawatirkan keselamatan calon Istrinya tersebut.


"Bagaimana? Apa dia benar-benar sudah tewas?" tanya Li Junjie sesaat setelah Hu Liena memeriksa denyut nadinya Xiulin.


"Tabib Istana berkata benar, Kakakku sudah meninggal beberapa waktu yang lalu." balas Hu Liena sambil menatap wajah Xiulin yang sudah tak bernyawa lagi.


Sekilas, bayangan-bayangan masa lalunya muncul di benak Hu Liena. Bayangan ketika dia masih berada di kehidupan pertamanya, sewaktu wajah yang mirip dengan Xiulin, yaitu Qiang Yue muncul ketika dia akan di dorong ke jurang.


Lalu bayangan-bayangan ketika tubuh Hu Liena yang asli di siksa dan di ikat di sebuah kursi juga, tak luput dari ingatan Hu Liena sekarang muncul.


Kesakitan, dendam, dan juga penderitaan Hu Liena akhirnya bisa terbalaskan dengan kematiannya Xiulin sekarang di meja hukuman.


Entah itu Hu Liena di kehidupan pertama, atau juga Hu Liena di kehidupan keduanya, kini merasa lega. Karena beban di pundaknya kini telah berkurang, seiring rasa dendam yang telah terbayarkan.


Mungkin karena terlalu keras berpikir, tubuh Hu Liena akhirnya limbung, dan jatuh tak sadarkan diri di atas panggung. Beruntung Li Junjie yang berada di sampingnya, bisa dengan sigap menangkap tubuh Hu Liena sebelum dia jatuh membentur lantai.


"Tabib Hong! Bantu aku!" teriak Li Junjie panik saat Hu Liena terkulai lemas di pangkuannya.


"Cepat! Bawa Putri ke ruangannya!" teriak Tabib Hong yang juga panik dengan kondisi Hu Liena yang tiba-tiba jatuh pingsan.


Tak hanya mereka berdua, Hu Boqin dan juga Kaisar Li Jinhai 'pun, tampak gusar mengikuti Li Junjie yang berlari sambil menggendong Hu Liena menuju ke kamarnya sesuai perintah Tabib Hong.


"Tabib, tolong selamatkan calon Istriku!" pinta Li Junjie dengan mata yang berkaca-kaca.


Tabib Hong dengan cekatan, lalu memeriksa denyut nadi Hu Liena. Dan ketika dia menempelkan tangan di pergelangannya Hu Liena, alangkah terkejutnya Tabib Hong, karena denyut nadinya kian melemah.


"Ini- ...,"


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu yang buruk kepada Putriku?" tanya Hu Boqin dengan cemas.


Tabib Hong tak bisa membuka mulutnya, dia juga sama khawatirnya dengan semua orang yang sedang berada di sana.


"Tabib, cepat katakan! Apa terjadi sesuatu dengan Putriku?" ucap Hu Boqin setengah berteriak karena Tabib Hong malah terdiam tanpa kata.


"Perdana Menteri, tenanglah! Biarkan Tabib menyelesaikan terlebih dahulu pekerjaannya." tukas Kaisar Li Jinhai.


Sejujurnya, Kaisar 'pun sama khawatirnya dengan Hu Boqin. Namun ia sebisa mungkin bersikap tenang, karena tak ingin mengganggu konsentrasi Tabib Hong yang sedang memeriksakan keadaan calon Menantunya tersebut.


"Pangeran, bisakah anda meminta semua orang untuk meninggalkan ruangan?" bisik Tabib Hong yang langsung di sanggupi oleh Li Junjie meskipun dia juga merasa heran dengan keputusannya.


"Kalian semua, tolong menunggu di luar saja." ucap Li Junjie yang sudah terlebih dahulu membuka pintu kamar dengan lebar.


"Pa- ...," Hu Boqin berusaha menolak, namun Kaisar Li Jinhai segera menghentikan niatnya.


"Ayo, kita semua keluar!" ucap Kaisar yang lalu di ikuti oleh orang-orang yang berada di sana. Termasuk Hu Boqin, yang dengan tidak rela meninggalkan ruangan tempat Putrinya terbaring.