
Mo Chong an mulai merasa gelisah karena sudah sejak lama dia berdiri, Tuan Bao belum juga membuat keputusan.
Bahkan sekarang, dia dan Putranya sudah merasa pegal karena berdiri di sana sudah hampir setengah harian lebih. Dan tak ada satupun pelayan dari kediaman Tuan Bao, menawarkan minum kepada mereka berdua.
"Yan Zhen, apa kau yakin datang ke tempat yang tepat?" tanya Mo Chong an yang mulai ragu dengan kredibilitasnya Tuan Bao.
Mo Yan Zhen menjadi bingung ingin menjawab seperti apa pertanyaan Ayahnya.
Dia sendiri juga mulai berpikir hal yang sama dengan sang Ayah. Oleh sebab itu, dia menjawab Mo Chong an hanya dengan gelengan kepala saja.
"Sebaiknya, kita segera pergi dari sini. Kita bukanlah seorang pengemis yang hanya akan berdiri di depan pintu rumah orang lain untuk mengharapkan belas kasihan." ucap Mo Chong an seraya mengepalkan tangannya dengan erat.
"Jangan dulu, Ayah. Kita sudah berusaha sejauh ini, jika kita berdua pergi, pengorbanan kita akan menjadi hal yang sia-sia." Mo Yan Zhen masih merasa jika keputusannya datang ke tempat Tuan Bao masih menyisakan sebuah harapan besar.
Namun Mo Chong an tidak memiliki pemikiran yang sama dengannya.
Dia sudah terlanjur kecewa dengan perlakuan dari orang-orang yang berada di kediaman Tuan Bao.
Mo Chong an dan Putranya, tidak di perlakukan sebagai orang terhormat di sana. Bahkan mereka cenderung mengabaikan keberadaan dia dan Putranya yang jelas-jelas sebagai orang terpandang di kerajaan dinasti Ying.
"Kita bisa mencari orang lain untuk di ajak bekerja sama. Lagipula, kita masih mempunyai waktu beberapa hari lagi untuk memulai rencana besar kita." balas Mo Chong an dengan perasaan kesal.
Mo Yan Zhen akhirnya setuju dengan ajakan Ayahnya untuk pergi dari tempat Tian Bao. Dia juga sebenarnya merasa lelah karena harus berdiri seharian di sana.
Kakinya sudah mulai merasa pegal, bahkan sudah hampir mati rasa karena terlalu lama berdiri di depan pintu, tanpa ada seorangpun yang menawarkan tempat duduk untuknya.
"Mau kemana kalian?"
Langkah Mo Chong an mengambang di udara, karena tiba-tiba ada seseorang yang menegurnya dari arah belakang.
"Ayah, mungkin Tuan Bao sudah berubah pikiran dan membuat keputusan untuk membantu menjalankan rencana kita." Bisik Mo Yan Zhen yang di balas anggukkan kepala oleh bangsawan Mo.
"Kami hanya ingin berjalan-jalan saja sebentar, Tuan." ucap Mo Chong an berbohong sambil membalikkan badannya ke arah orang yang tadi berbicara.
"Tidak perlu! Tuan Besar memanggil kalian untuk masuk ke dalam." ucap orang tadi yang berbicara bukan lain adalah orang kepercayaannya Tuan Bao.
Meskipun merasa kesal, Mo Chong an tetap menganggukkan kepala dan mengikuti langkah kaki pengawal Tuan Bao masuk ke dalam ruangan bersama Putranya.
"Duduklah, ada yang ingin Tuan bicarakan dengan kalian." ucap orang kepercayaan Tuan Bao.
Mo Chong an dan Putranya menjadi saling lirik karena kebingungan dengan sikap orang kepercayaan Tuan Bao yang tiba-tiba menjadi lembut kepada mereka berdua.
Setelah Mo Chong an dan Mo Yan Zhen duduk di kursinya, beberapa pelayan wanita datang dengan membawa berbagai macam makanan dan minuman yang khusus di sajikan di meja mereka.
"Silahkan di nikmati, Tuan!" ucap si orang kepercayaan Tuan Bao dengan sopan.
Hati Mo Yan Zhen merasa senang, karena akhirnya Tuan Bao memperlakukan dia dan Ayahnya dengan sangat baik.
Berbeda halnya dengan Mo Chong an yang saat ini menaruh curiga dengan apa yang di lakukan oleh pelayan Tuan Bao. Menurut Mo Chong an, perubahan sikap mereka terlalu mencurigakan. Seperti ada sesuatu yang ingin mereka lakukan kepada dia dan Putranya.
"Ayah, cepat di makan! Semua makanan ini sangat lezat!" bisik Mo Yan Zhen sambil dia menyuapkan camilan manis ke dalam mulutnya.
Mo Chong an masih merasa penasaran, tentang hal apa yang ingin di bicarakan Tuan Bao padanya.
"Tuan, jika anda tidak merasa keberatan, bolehkah saya tahu, tentang apa yang ingin bicarakan kepada kami berdua?" Mo Chong an memberanikan diri untuk bertanya kepada Tuan Besar Bao yang masih tetap duduk membelakanginya.
"Sebentar lagi, kau akan mengetahuinya ...," jawab Tuan Bao tanpa menoleh sama sekali.
Mo Chong an sedikit merasa kesal karena menurutnya, Tuan Bao ini seperti menyimpan sesuatu yang sangat membahayakan posisinya.
Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain melakukan apa yang Tuan Bao katakan. Menunggu!
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka dengan lebar.
Dan yang membuat Mo Chong an terkejut, Pangeran Jun masuk ke dalam ruangan Tuan Bao bersama dengan Hu Liena di sebelahnya.
Apa-apaan ini? batin Mo Chong an.
Sedangkan Mo Yan Zhen, kini sedang di landa ketakutan yang teramat sangat.
Masih segar di ingatannya, perlakuan Pangeran Jun kepada dirinya di penjara.
Dia di siksa tanpa ampun sama sekali, dan yang lebih parahnya lagi, dia sampai trauma secara pisik dan mental.
"Ayah ...," Mo Yan Zhen menoleh kepada Ayahnya dengan ekspresi wajah yang menyedihkan.
"Selamat siang, bangsawan Mo!" ucap Hu Liena dengan sinis ke arah Mo Chong an yang saat ini sedang mengutuk Hu Liena di dalam hatinya.
"Tuan Bao, apa maksudnya ini? tolong jelaskan!" ucap Mo Chong an dengan geram.
Dari balik kursi besar, terdengar suara tawa yang sangat panjang.
"Apa yang harus di jelaskan, Tuan Mo?" Ucap Tuan bao sambil berdiri menghadap langsung ke arah bangsawan Mo yang sangat terkejut ketika melihat wajah asli Tuan Bao.
"Kau!"
Mo Chong an menunjuk ke arah muka asli Tuan Bao, yang ternyata adalah Pangeran kedua Li Jing Sheng Adiknya Pangeran Jun.
"Kenapa, Tuan? Apa anda terkejut?" goda Li Jing Sheng kepada Mo Chong an yang semakin geram.
"Ini tidak benar! Kalian semua, sengaja menjebakku di tempat ini, 'kan?" ucap Mo Chong an sambil memasang wajah garang.
Hu Liena tampak tenang meskipun Mo Chong an menatapnya dengan penuh kebencian.
Sementara Li junjie, dan juga Adiknya Li Jing Sheng, kini tersenyum penuh kemenangan karena rencana mereka menjebak Mo Chong an berhasil dengan sangat baik.
"Ayah, bagaimana ini?"bisik Mo Yan Zhen yang kini menjadi semakin panik setelah tahu mereka masuk ke dalam jebakan yang di sediakan oleh Pangeran Jun dan Hu Liena.
Jika dia dan Ayahnya tertangkap hari ini, bisa di pastikan jika tidak akan ada yang bisa mengeluarkannya lagi dari dalam penjara.