Istri Ceo

Istri Ceo
Jalan-jalan Malam


Ziano berada di belakang kemudi dan Vita duduk disampingnya, perasaannya menjadi sangat canggung. Bagaimana tidak, dia diantar oleh Ceo nomor satu di negeri ini.


Ziano sering mencuri pandang kepada Vita. Dia tersenyum melihat wajah polosnya, ya Vita tidak bermake up tetapi wajahnya sangat bersih dan terlihat natural. Wajahnya tanpa make up membuat Ziano kagum karena sudah sangat jarang ia temui. Rata-rata perempuan memakai make up tebal saat hendak bertemu dengannya.


Vita merasa perjalanan menjadi sangat lambat, itu membuatnya mengantuk. Vita beberapa kali menguap "Mengantuk?"


"Aahmp, maaf Tuan"


"Tidurlah"


"Ti...Tidak Tuan terimakasih. Entah mengapa Saya merasa perjalanan cukup lambat"


"Oh ya? Aku sedang menikmati perjalanan kali ini. Jarang sekali melihat suana malam seperti ini, melihat orang-orang berjalan di pinggir taman, mereka sangat menikmatinya. Biasanya Aku selalu dikejar waktu tanpa memperdulikan suana kota"


"Dulu sewaktu Saya masih kuliah, perjalanan dari kampus menuju rumah melewati beberapa taman. Saya selalu pulang malam karena tugas, tapi suasana di taman selalu memberikan ketenangan. Melupakan lelah yang Saya dapat seharian" Vita menerawang dengan senyum di bibirnya, Ziano memperhatikan setiap ekspresi yang diberikan oleh Vita. Tiba-tiba Vita merasa mobil berhenti di pinggir jalan.


"Loh kenapa Tuan? Apa ada sesuatu dengan mobil Anda? Apa Saya perlu menelpon bengkel?"


"Tidak, Aku ingin membuktikan perkataanmu"


"Maksud Anda Tuan?"


"Suasana taman dapat membuat kita melupakan lelah yang kita dapat seharian"


Ziano menuruni mobil dan membuka pintu di sebelah Vita.


"Terimakasih Tuan, tapi Anda tidak perlu melakukan itu"


Ziano berjalan menuju taman, Vita mengikuti dari arah belakang.


"Sangat berbeda dengan suana siang yang terik, udara sejuk masih terasa dari pohon-pohon ini" Ziano melihat sekitar. Vita mengikuti arah pandang Ziano.


Ziano mendekat dan memakaikan jaket itu pada Vita, "Aku tidak ingin Kamu sakit. Kevin akan sangat sedih jika melihatmu sakit"


Entah kenapa ada perasaan sakit pada hati Vita saat mendengar kata-kata Ziano. Vita hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya "Bagaiamana mungkin Aku berfikiran lebih, Aku hanya seorang pengasuh di mata Tuan Ziano. Jangan berkhayal Vita. Ini bukan cerita sinetron yang mana seorang pengusaha jatuh cinta kepada sorang gadis biasa yang bahkan seorang pengasuh"


"Kenapa?" Ziano melihat Vita sedikit melamun.


"Ti.. Tidak Tuan"


Ziano melanjutkan duduk di kursi taman, Vita mengikutinya dan duduk di samping Ziano.


"Terimakasih karena sudah menjaga Kevin"


"Hah?"


"Dia satu-satunya orang yang selalu ada untukku. Semua orang memandangku karena harta. Tapi mungkin itu adalah karma. Karma karena Aku menyia-nyiakan orang yang begitu tulus kepadaku"


Vita tidak berani bertanya, dia hanya mendengarkan ucapan Ziano.


"Tidak pantas bagiku untuk menyesalinya, dia pantas untuk bahagia. Aku tidak boleh menyesalinya dan mengganggu kebahagiaannya" Vita menatap wajah Ziano, ada garis penyesalan disana.


"Ah Kamu masih sangat muda, tidak pantas mendengar cerita seperti ini. Semoga hidupmu selalu bahagia"


"Begitupun Anda Tuan, Anda orang yang baik. Semoga Anda bahagia selalu"


"Tidak, Aku bukan orang yang baik. Jika bukan karena uang, semua orang mungkin membenciku. Terutama Amanda"


Vita terkejut "Amanda?"