Istri Ceo

Istri Ceo
Tercyduk


Beberapa hari berjalan seperti biasa, Ziano dan Vita kembali ke perusahaan. Ziano memindahkan ruangan Vita ke dalam ruangannya dengan alasan tidak ingin Vita dipandang oleh para klien. Dan tentu saja itu akal-akalan Ziano untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya.


"Aku akan merekrut seseorang untuk menjadi sekretarisku Sayang, Kamu setuju yang mana?"


Ziano menyerahkan arsip yang berisi beberapa identitas dari calon sekretarisnya.


"Pokoknya Aku ingin dia sudah menikah dan mempunyai anak Mas. Aku tidak mau Kamu bekerja bersama gadis-gadis cantik" Vita membolak-balik berkas tersebut, mencari sesuai dengan kriteria yang dicari.


"Kamu paling cantik sayang" Vita menghentikan kegiatannya dan wajahnya kembali memerah.


"Jangan mencoba untuk membujukku Mas, pokoknya Aku ingin dia seperti itu. Titik"


"Baiklah baiklah Ratu ku. Hamba hanya akan mengikuti perintahmu"


Vita tertawa dan memeluk Ziano "Aku mencintaimu Mas"


"Aku tidak harus menjawab kan? Kamu pasti tau perasaanku"


"Tidak, Kamu harus menjawabnya Mas"


"Setiap malam Aku mengatakan itu Sayang"


"Apa susahnya mengatakannya lagi Mas"


"Baik baik, Aku mencintaimu sayangku, sangat mencintaimu"


"Kenapa jadi seperti terpaksa begitu Mas?"


Ziano menepuk keningnya "Kenapa Kamu merasa begitu sayang? Bukankah Kamu sudah tau kalau lebih dulu mencintaimu?"


"Habis Kamu mengatakannya setelah Aku memaksamu Mas"


"Kemarilah" Ziano mendudukkan Vita di atas pangkuannya.


"Tidak, Aku tidak akan pernah sanggup membayangkan saat itu Mas. Maafkan Aku Mas, Aku tidak meragukan perasaanmu"


Ziano merengkuh tubuh Vita "Jangan pernah meragukan itu, saat ini dan selamanya hatiku milikmu Sayang" Ziano mencium bibir Vita. Vita membalasnya hingga nafas mereka terasa berat.


Tok Tok Tok...


Pintu tiba-tiba terbuka saat Vita dan Ziano belum sempat melepaskan bibir mereka.


Vita spontan mendorong Ziano dan kembali duduk di sampingnya. Nafasnya masih tersenggal, wajahnya pun sangat merah.


"Maaf Tuan, Nyonya. Saya tidak tau kalau..."


"Kau dipecat" Suara Ziano terdengar menggelegar. Seorang laki-laki yang ketakutan tiba-tiba menghampirinya, "Maaf, maafkan Saya Tuan, Nyonya. Saya benar-benar tidak tau dan Saya minta maaf Tuan. Tolong jangan pecat Saya Tuan. Saya mohon" Laki-aki tersebut duduk di hadapan Ziano dengan wajah yang sangat ketakutan. Vita merasa tidak tega, "Mas... Maksudku, Tuan. Saya rasa dia tidak bersalah. Tidak seharusnya dia dipecat. Ini salah Kita, emm maksudku salahku. Saya tidak profesional, ini jam kerja dan ini kantor"


"Pekerjaanmu adalah melayani semua kebutuhanku, dan Aku membutuhkan itu saat ini" Ziano menatap Vita.


Vita benar-benar kehabisan akal, bagaimana mungkin Ziano mengatakan itu di depan anak buahnya.


"Sepertinya ide mu untuk mencari sekretaris baru harus dipercepat, Kita akan mencarinya hari ini juga. Aku akan menemui bagian HRD untuk melakukan interview secepatnya" Vita beranjak dari tempat duduknya. Kemudian pandangannya kembali tertuju pada laki-laki yang sedang bersumpuh di depan Ziano.


"Dan sepertinya Anda perlu mengikuti Saya" Vita memberikan kode supaya laki-laki itu mengikutinya.


"Tapi Tuan, Anda tidak jadi memecat Saya kan?"


"Ikut Saya sekarang juga!" Vita memelototi laki-laki itu, namun "Tapi Nyonya Saya harus memberikan berkas ini kepada Tuan Ziano" Vita menarik nafas untuk menahan emosinya, bukankah seharusnya dia tau kalau Ziano saat ini sedang marah kepadanya.


"Simpan berkas itu dan ikuti Saya, apa Anda lupa kalau Saya adalah istri dari pemilik perusahaan ini. Dan Saya bisa memecat Anda kapanpun"


Laki-laki itu begitu terkejut, dia langsung menyimpan berkas dan segera mengikuti Vita.


Ziano hanya tersenyum saat mengetahui kalau Vita saat ini sedang melindungi seseorang yang memang tidak bersalah.