Istri Ceo

Istri Ceo
Claretta Daniza Leonard


Hari terus berganti minggu hingga berganti bulan. Saatnya Amanda menunggu kelahiran anaknya bersama Kendra.


Sudah hampir satu bulan Amanda dan Kendra berada di rumah mewah milik keluarga Leonard. Ibunya memaksa Kendra untuk tinggal disana karena tidak ingin Amanda melahirkan di apartemen miliknya tanpa ada yang mendampingi.


"Bie, tolong usap punggung ku" Hampir setiap malam Amanda mengalami kontraksi palsu. Rasa sakit itu akan hilang ketika Kendra mengusap punggung dan perutnya. Dengan penuh kesabaran Kendra mengusap punggung Amanda hingga dia tertidur. Kendra selalu merasa bersalah ketika Amanda merasakan nyeri di seluruh tubuhnya hingga terjaga sepanjang malam.


"Bie, kenapa semakin bertambah sakit" Amanda merasakan sakit saat anak dalam kandungannya bergerak.


"Kita ke dokter aja ya sayang?"


"Tidak tidak Bie, mungkin ini kontraksi palsu juga" Amanda menahan sakitnya.


"Sayang, wajahmu terlihat pucat dan keringat keluar dari tubuhmu"


"Tidak Bie, aku mau jalan-jalan saja" Saat Amanda berdiri tiba-tiba cairan membasahi selangkangannya.


"Bie, Hubbie... Tolong" Amanda hampir terjatuh. Kakinya sangat sulit untuk digerakkan.


"Sayang, ayo kita ke rumah sakit" Kendra menggendong tubuh Amanda.


"Ibuuu, Ayaaaah... Amanda akan melahirkan" Sontak saja itu membuat mereka terkejut dan segera menuju L hospital.


Seluruh dokter dan perawat menyambut kedatangan mereka. Amanda segera dibawa menuju ruang bersalin. "Tenanglah Tuan Muda, ini hanyalah air ketuban. Ini biasa terjadi ketika akan melahirkan" Dokter Seni menenangkan Kendra.


"Kapan dia akan melahirkan? Apa dia akan baik-baik saja? Apa yang harus saya lakukan?" Kendra semakin panik.


"Tenanglah Tuan. Anda hanya perlu berada di sisinya dan menenangkannya"


"Baiklah, saya akan menemuinya" Kendra kembali memasuki ruangan bersalin. Dia melihat Amanda yang terlihat sangat pucat namun masih tersenyum ke arahnya.


"Bie, aku tidak apa-apa" Amanda melihat bagaimana Kendra dan keluarganya begitu panik. Bahkan Ayahnya sudah menelpon dokter spesialis kandungan dari Singapura untuk segera menangani menantunya.


"Sudah pembukaan sembilan dok" Salah satu perawat memberitahukan kepada dokter Seni.


"Hebat sekali Anda Nyonya. Sudah pembukaan sembilan dan Anda masih terlihat tenang seperti ini" Dokter Seni mempersiapkan semua alat untuk membantu kelahiran pewaris keluarga Leonard.


"Sekarang tarik nafas, keluarkan lewat mulut Anda Nyonya" Amanda mengikuti intruksi dari dokter Seni.


"Bantu kami untuk mendorong ya Nyonya. Dorong sekarang" Amanda melakukannya, Kendra meneteskan air matanya ketika melihat Amanda berjuang melahirkan anaknya.


"Kamu bisa sayang, kamu kuat" Kendra mengusap kepala Amanda. Amanda terus berjuang dengan air mata mengalir di pipinya. "Bie, sakiit..." Amanda menatap Kendra. Kendra benar-benar merasakan sakit yang dirasakan Amanda.


"Kamu kuat sayang, kamu ibu yang sangat hebat"


"Satu kali lagi Nyonya" Amanda mengedan dan terdengar suara tangisan bayi.


"Selamat Tuan, Nyonya. Bayi yang sangat cantik, sama seperti ibunya" Amanda menangis haru, begitu juga dengan Kendra.


"Terimakasih sayang" Kendra mengecup kening Amanda.


Dokter Amanda memberikan bayi kepada Amanda untuk melakukan skin to skin. "Lihatlah sayang, hidungnya mirip denganmu" Kendra memperhatikan bayinya.


"Hallo babby girl. Aku Daddy mu dan dia Mommy mu. Terimakasih sudah hadir di antara kami" Kendra meneteskan air matanya.


"Bie, kamu sudah siapkan nama?"


"Tentu saja, Claretta Daniza Leonard. Itu nama mu girl" Amanda tersenyum.


"Call me babby Cla" Kendra tersenyum menatap Amanda dan anaknya bergantian.