
Selesai melakukan transfusi, Amanda dipindahkan ke ruang perawatan.
Kendra terus menangis sambil menggenggam tangan Amanda yang masih sangat lemah.
Kevin dan Vita duduk di sofa menunggu kesadaran Amanda. Mereka pun masih terlihat lemah.
"Sayang, bangun. Apa Kamu tidak ingin melihat anak Kita? Mereka sangat lucu, mereka ingin segera bertemu denganmu. Apalagi Cla"
Tangan Amanda bergerak kemudian matanya mengerjap menandakan pemiliknya sedang berusaha untuk membuka matanya.
"Sayang, Kamu dengar Aku?"
Perlahan mata Amanda terbuka, dia masih mengerjapkan matanya karena pencahayaan. "Bie..." Amanda menangis dan memeluk Kendra.
"Terimakasih Tuhan sudah mengembalikan istriku" Kendra memeluk tubuh Amanda.
Vita dan Ziano menatap haru, tanpa terasa air matanya ikut membasahi sudut matanya.
"Syukurlah Kamu sudah sadar" Ziano bergumam. Vita mengalihkan pandangannya kepada Ziano "Apa Kita akan menghampirinya?"
"Tidak, biarkan saja dulu"
Vita menganggukkan kepalanya.
Amanda melepaskan pelukan Kendra "Bie, dimana anak Kita?"
"Dia di ruang bayi, Ibu dan Ayah sedang menjaganya disana"
"Aku mau kesana Bie" Amanda berusaha turun hingga tubuhnya hampir terjatuh.
Ziano refleks mendekatinya, namun Kendra lebih dulu menangkapnya.
"Kamu masih belum stabil sayang, Aku akan meminta Ibu untuk membawa anak kita kemari"
"Biar Aku yang menyusul mereka Tuan" Vita angkat bicara.
Kendra dan Amanda mengalihkan pandangannya pada Vita dan Ziano yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Iya terimakasih Vita"
"Kak Zino?" Amanda melihat Ziano yang terlihat masih sedikit lemah.
"Dia yang menyelamatkanmu Sayang" Kendra mengecup tangan Amanda. Amanda terkejut dengan apa yang dikatakan Kendra. Kendra menceritakan semuanya.
"Terimakasih Kak, Aku benar-benar berterimakasih kepadamu dan juga Vita"
Ziano menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
"Aku akan selalu menggenggam tanganmu Sayang" kemudian Kendra mengecupi tangan Amanda.
"Terimakasih karena selalu menemaniku Bie"
Ziano hanya menundukkan kepalanya saat mendengar dua orang manusia yang sedang melepas rindu itu.
Nyonya Leonard dan Vita datang membawa roda bayi.
Amanda tersenyum lebar saat melihat dua bayi yang sangat mirip itu.
"Mereka, mereka anakku?" Amanda menangis haru.
"Iya sayang, mereka anak kita" Kendra mengambil alih roda bayi yang dibawa Vita.
"Lucu sekali anak-anak Mommy" Amanda memandang mereka secara bergantian.
"Nathan Cashel Leonard, Nathar Cashel Leonard" Air mata membasahi pipi Amanda.
"Nathan dan Nathar? Nama yang bagus, kapan kamu merencanakan nama itu?"
"Aku tidak pernah merencanakannya, tiba-tiba saja nama itu muncul" Amanda tersenyum.
"Hallo Babby Nathan, Babby Nathar. Coba lihat, disini ada Mommy, Daddy, Grandmom, Grandfa, Uncle sama Aunty. Nanti juga kalian akan bertemu dengan Kakak kalian, Kakak Cla" Kendra menggendong Babby Nathan dan Babby Nathar secara bersamaan.
"Kapan Cla akan kemari? Aku merindukannya"
"Apa Aku perlu menjemput Cla?" Ziano menawarkan diri.
"Hmm apa itu merepotkanmu?"
"Tentu tidak. Vita apa Kamu mau ikut atau disini?"
"Saya ikut Tuan"
Ziano dan Vita meninggalkan mereka.
"Mereka benar-benar keluarga yang harmonis. Nyonya Amanda benar-benar cantik dan baik, apalagi sekarang Nyonya Amanda dikaruniai dua anak kembar. Pasti kebahagiaan mereka sangat lengkap"
"Dia pantas mendapatkan kebahagiaan itu"
Vita menatap Ziano yang sedang fokus menyetir mobil.