
Pagi hari Vita dan Bianca sudah berada di perusahaan milik Ziano.
"Perusahaannya besar banget Kak, rumahnya pasti besar juga kan ya?"
"Hush siapa bilang Kamu akan bekerja di rumahnya? Pak Ziano selalu membawa anaknya ke kantor, bahkan setiap hari"
"Hah? Kenapa Kak? Apa di rumahnya tidak ada siapa-siapa? Kemana istrinya? Kalau Aku udah menikah ya Kak, Aku bakalan diem di rumah aja buat jagain anak Aku. Gabakalan Aku titipkan ke siapa pun"
"Ssstt jangan ngomong sembarangan. Istri Pak Ziano sudah tidak ada, katanya sih selingkuh. Tapi entahlah"
"Apa Kak? Orang sekaya ini diselingkuhin?" Bianca menutup mulut Vita dengan tangannya. Tujuannya adalah untuk membuatnya berhenti.
"Sudah jangan banyak ngomong, lebih sedikit yang Kamu tahu maka itu akan lebih baik"
"Isshh Kak Bica ini. Aku kan harus kenal bos ku"
Tiba-tiba pintu lift terbuka, pertanda seseorang menaiki lantai teratas gedung ini.
"Selamat Pagi Tuan"
Ziano menuntun Kevin dan hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku masuk dulu ya"
"Iya Kak, Aku tunggu disini"
"Selamat Pagi Tuan. Agenda Anda hari ini (bla bla bla)"
"Baik, apa yang tadi itu adikmu?"
"Iya benar Tuan"
"Panggilkan dia kemari"
"Baik Tuan"
Bianca meninggalkan ruangan Ziano "Masuk Vi"
"Iya Kak, doakan Aku"
"Iya iya"
"Selamat Pagi Tuan"
"Sebutkan namamu!"
"Nama saya Navita Regina Tuan, Anda bisa memanggil Saya Vita"
"Oke Vita, Kamu bisa menjaga Anak Saya?"
"Saya... Maaf Tuan alangkah lebih baik jika Tuan mengizinkan Saya untuk menyapa Tuan Muda. Apabila Tuan Muda merasa cocok dengan Saya, Saya siap menjaga Tuan Muda"
"Bagitukah menurut ilmu yang Kamu ketahui?"
"Maaf Tuan?"
"Bianca bilang Kamu lulusan psikolog bahkan mendapat predikat yang sangat istimewa"
"Benar Tuan"
"Oke berapa lama waktu yang Kamu butuhkan?"
"Mungkin beberapa menit Tuan, Saya hanya ingin melihat reaksinya"
"Oke silahkan. Namanya Kevin, Kevin Argora"
"Baik Tuan"
"Hallo Tuan Kevin"
Kevin terlihat mengamati.
"Aku Vita, Kak Vita" Vita menyodorkan tangannya. Tanpa diduga Kevin mencium tangannya.
"Anak pintar. Mau bermain denganku?"
Kevin langsung membawa pesawat mainannya "Pecawat Kak"
"Ah iya bagus sekali, Kamu suka?"
Kevin menganggukkan kepalanya. "Sepertinya dapat dilanjutkan Tuan"
Vita kembali mendekati Ziano.
"Mulai dari sekarang, jaga dia"
"Baik Tuan"
Seharian Vita bermain bersama Kevin, mengikuti segala keinginan Kevin hingga akhirnya dia tidur karena kelelahan.
"Sekarang Kamu boleh istirahat. Tanyakan juga makanan untukku pada Bianca"
"Baik Tuan"
Bianca memasuki ruangan Ziano dengan nampan yang penuh dengan makanan.
"Dimana dia?"
"Vita Tuan? Maaf dia sedang membeli beberapa makanan di bawah"
"Jika sudah kembali suruh dia kesini"
"Baik Tuan"
Bianca langsung menelpon Vita untuk segera menemui Ziano. Vita yang mendapat panggilang langsung bergegas dan berlari menuju ruangan Ziano.
"Maaf Tuan" Nafas Vita masih tidak beraturan karena berlari.
"Mana makananmu?"
"Aku tidak jadi membeli makanan Tuan"
Ziano melihat wajah Vita yang polos dengan sedikit cemberyt dan nafas ngos-ngosan.
"Aku hanya memintamu makan di ruangan ini, jangan terlalu lama meninggalkan Kevin karena dia bisa saja terbangun"
"Maaf Tuan"
"Pergi ambil makanan mu"
Vita meninggalkan ruangan Ziano dan menemui Bianca. "Jahat Kamu Kak, Aku bahkan meninggalkan antrianku"
"Kenapa? Aku kan bilang segera menemui Pak Ziano, bukan meninggalkan makanan mu. Lagian Kamu beli apa sih sampai antri begitu?"
Vita tidak menjawab dan duduk di hadapan Bianca. "Aku minta makanan mu Kak"
Dalam hitungan menit makanan itu sudah berpindah ke dalam perut Vita dan Vita kembali memasuki ruangan Ziano.
"Mana makananmu?"
"Ha..Habis Tuan hehe"
Ziano hanya geleng kepala melihat kepolosan Vita