
Seperti janjinya, Ziano dan Vita pergi ke kota B. Disana Ziano sangat sibuk dengan pekerjaannya, Vita merasa khawatir kalau Ziano akan kembali di rawat seperti terakhir kali mereka pergi ke luar kota.
"Jangan terlalu capek Mas" Vita dan Ziano kini sedang berada di kamar salah satu hotel mewah di Kota B.
"Tidak sayang, Kita harus segera menyelesaikan proyek ini. Aku masih mempunyai janji kepadamu"
"Janji? Janji apa Mas?" Vita sedikit berpikir.
"Janji kalau Kita akan menyusul Bianca"
"Ke London? Tapi Kak Bica baru berangkat satu bulan lalu mas. Masa kita akan menyusulnya sekarang?"
"Kita akan pergi bulan madu Sayang, bukankah setelah menikah kita hanya sibuk dengan pekerjaan?" Ziano tidur di atas pangkuan Vita.
"Ya Ampun Mas, padahal setiap ada kesempatan Kita melakukan itu di kantor" Vita mengusap kepala Ziano dan menyisir rambutnya yang tebal dengan tangannya.
"Melakukan apa Sayang?" Ziano pura-pura terkejut.
"Me...Melakukan itu Mas"
"Itu apa?"
"I...Iya itu Mas" pipi Vita mulai memerah.
"Aku tidak mengerti maksudmu. Bisakah Kamu menjelaskannya? Atau berikan contoh Sayang" Ziano memeluk tubuh Vita.
"Mulai deh Mas, Kamu bisa aja ya mancing-mancing pembicaraan"
Ziano menjatuhkan tubuh Vita dan menindihnya. Ziano mencumbu Vita hingga nafasnya tersenggal. Ketika hendak melancarkan aksinya Ziano sangat terkejut saat melihat kasur yang terdapat bercak darah.
"Sa..Sayang, apa ini?"
"Kenapa Mas?" Vita terbangun.
"Kamu, Kamu berdarah Sayang. Apa Kamu sakit?"
"Berdarah?" Vita melihat yang dimaksud Ziano.
"Tunggu dulu Mas, sepertinya sekarang jadwalku datang bulan"
"Jadi... Aku harus berpuasa?" Ziano terlihat lemah.
"Iya Mas" Vita tersenyum.
"Sayaaaaaang... Jangan lama-lama ya" Ziano memeluk Vita.
"Satu minggu Mas, atau bisa juga lebih satu atau dua hari"
"Aaaahhhh, nanggung Sayang" Ziano menunjukkan bagian dirinya yang sudah menegang.
"Jadi gimana Mas?"
"Bantu Aku..."
"Bagaimana Mas?"
Ziano membisikkan sesuatu dan Vita membelalakkan matanya. "Bisa?"
"Bisa Sayang, Aku mohon" Ziano memelas.
"Emm baiklah Mas, Aku ganti baju dulu ya"
Setengah jam kemudian Vita keluar dari kamar mandi menggunakan lingerie sesuai dengan permintaan Ziano. Lingerie tersebut menambah gairah pada Ziano. Ziano segera menghampiri Vita dan mengangkatnya ke atas kasur.
"Mas..."
"Aku mohon Sayang"
"Baiklah" Vita duduk di pangkuan Ziano. Dia membantu Ziano menuntaskan hasratnya menggunakan seluruh badannya. Vita menggunakan tenaga ekstra ketika Ziano tak kunjung tuntas.
"Terimakasih Sayang" Ziano dan Vita sama-sama merasa sangat lelah.
***
Setelah satu minggu menjalankan perjalanan bisnis, Ziano dan Vita kembali dengan perasaan sangat puas karena menyelesaikan bisnisnya dengan sempurna. Kini perusahaan Ziano semakin berjaya.
"Bisnis kali ini sangat menyenangkan" Ziano memeluk Vita selama perjalanan.
"Kenapa Mas?"
"Ada Kamu Sayang"
"Bukankah sebelumnya Kita pernah pergi bersama juga?"
"Beda Sayang, Aku menahan perasaan untuk bisa seperti ini. Apalagi menahan ini" Ziano menuntun tangan Vita untuk menyentuh bagian sensitifnya.
"Mas.... Ih ada sopir loh di depan"
"Dia tidak akan mendengarkan Sayang. Aku jamin"
"Ih dasar, suami mesum"
"Mesum sama istri kan sayang"
"Awas aja kalo berani mesum ke cewe lain"
"Aku nggak berani Sayang" Ziano mengangkat tangannya dan Vita memeluknya dengan penuh cinta.
Tiba-tiba ponsel Ziano berdering menandakan panggilan masuk.
"Nomor baru?"
"Angkat saja Mas, siapa tau penting"
"Tidak, biarkan saja" Ziano memeluk Vita. Namun ponselnya kembali berdering.
"Aku angkat dulu ya Sayang"
Ziano menekan tombol berwarna hijau.
"Sayang, Kamu dimana? Aku di rumah tapi Kamu tidak ada disini" rahang Ziano mengeras saat mendengar suara tersebut. Vita yang mendengar ikut merasa menegang, "Mas...?"
"Beraninya Kamu kembali"
"Aku merindukanmu Sayang"
Ziano menutup panggilan dan melempar ponselnya.
"Lajukan lebih cepat"