
Sesampainya di rumah, Vita disambut hangat oleh Kevin dan Ibu.
"Aku merindukan mu Mommy"
"Maafkan Mommy sayang, Mommy juga merindukanmu. Oh iya Mommy punya oleh-oleh untukmu"
"Tidak Mommy, Nenek bilang kalau Mommy mempunyai adik bayi. Mana adik bayi itu?"
"Mereka di dalam perut" Vita menempelkan tangan Kevin ke perutnya.
"Apa? Mommy memakan mereka?"
Vita, Ziano dan Ibu tertawa mendengar kepolosan Kevin.
Vita menjelaskannya dengan penuh pengertian dan akhirnya Kevin mengerti.
"Jadi nanti setelah mereka besar, mereka akan lahir? Seperti Babby Nathan dan Babby Nathar?"
"Iya benar Sayang. Kamu doakan Kami ya supaya Kami sehat"
"Iya Mommy. Adik-adik bayi, sehat-sehat ya di dalam perut Mommy"
Vita dan Ziano pun pergi beristirahat, Ziano masih mengalami pusing dan mual. Vita dengan telaten memberikan minyak gosok dan Ziano menutup hidungnya.
Beberapa hari kemudian Ziano kembali ke akktivitas hariannya, dia mulai kembali ke perusahaan. Stevan menjaga perusahaan dengan sangat baik sehingga Ziano memutuskan mengangkat Stevan menjadi asisten pribadinya. Semenjak Kendra mengundurkan diri, Ziano tidak memiliki orang keperayaan kembali.
"Terimakasih Stevan, semoga Kita bisa bekerja sama dengan lebih baik lagi"
Ziano dan Stevan pun menyepakati itu.
Hari berganti minggu hingga minggu berganti bulan. Vita yang menghabiskan waktu di rumah mulai jenuh. "Aku bosan Mas. Aku ingin kembali ke kantor"
"Tidak sayang, Kamu harus istirahat. Apalagi sudah beberapa malam Kamu sulit untuk tidur" Saat ini Ziano sedang melakukan video call bersama Vita.
"Aku ingin ikut denganmu kemana pun Kamu pergi Mas"
"Apa perlu Aku mengajukan cuti kembali?"
"Tidak tidak..." Vita merasa tidak enak karena beberapa bulan ini Ziano jadi sering terlambat ke kantor akibat hormon kehamilannya.
"Lalu Aku harus bagaimana sayang? Aku ingin mengabulkan keinginanmu"
"Aku bisa melakukan video call seperti ini" Vita tersenyum.
"Baiklah Sayang"
Ziano menutup panggilan dan kembali fokus bekerja. "Stevan, pukul berapa Kita akan meeting?"
Ziano menganggukkan kepalanya. "Panggilkan Tiara dan persiapkan segala berkas yang dibutuhkan"
"Baik Tuan"
Meeting dimulai tepat waktu, namun tiba-tiba handphone Ziano berdering. "Maaf Tuan, Nyonya Amanda" Tiara memberikannya. Ziano mengangkat panggilan video tersebut setelag headset bloetooth terpasang di telinganya.
"Mas Kamu lagi ngapain?" Vita menatap layar handphone miliknya.
Ziano hanya mengarahkan kamera kepada Stevan yang sedang menjelaskan. "Kamu lagi meeting Mas? Kalau begitu Aku tutup dulu ya"
Ziano memberikan isyarat untuk tidak menutup telponnya. Dia menunjukkan headset yang digunakannya. Vita hanya geleng-gelang kepala.
Hingga meeting selesai Ziano tidak menutup telponnya. Ziano menatap layar handphone yang ternyata Vita sedang tertidur.
"Kenapa Kamu begitu imut? Kalau dekat, sudah Aku makan Kamu" Ziano bergumam sambil terus menatap layar ponsel miliknya.
Waktu terus berlalu, Vita sering mengalami keram di perut bagian bawahnya.
"Apa perlu Kita ke dokter?" Kali ini Vita mengalami sakit yang lebih parah.
"Tidak Mas, mungkin sebentar lagi akan hilang" namun rasa sakit itu semakin menjalar ke bagian pinggangnya.
"Kamu yakin?"
"Mas... Kenapa pinggangku sakit banget. Mas panggilkan Ibu" Vita menahan sakitnya.
Ziano langsung menemui Ibu dan memberitahukan keadaan Vita.
Waku menunjukkan pukul dua dini hari, namun dengan sigapnya Ibu segera menghampiri Vita.
"Kenapa Nduk?"
"Sakit Bu, sakitnya kesini"
"Coba duduk dulu Nduk. Tarik nafas, keluarkan." Vita mengikuti intruksi Ibu.
"HPL nya masih dua bulan lagi kan?"
"Iya Bu, masih lama"
Ibu memijat punggung Vita, Ziano malah terlihat panik saat melihat Vita yang kembali kesakitan.
"Bu, ini apa?"
Vita menunjukkan bagian ************ yang membasah.