
Sepanjang jalan Kevin memeluk Ziano "Anan tinggalin Kevin Daddy, Kevin janji ngga akan nakal lagi. Maafin Kevin Daddy"
"Maafkan Daddy ya sayang, Daddy tidak akan menyakitimu lagi. Maafkan Daddy sudah jahat sama Kevin"
"Kevin cayang Daddy, cayang aneut" Kevin memeluk Ziano, ada perasaan bersalah pada diri Ziano. Anak sekecil itu harus menanggung akibat yang diperbuat oleh ibunya.
Sesampainya di kantor para karyawan terkejut karena melihat Ziano menggendong Kevin. Selama ini belum pernah dia membawa Kevin ke depan publik.
Sesampainya di ruangan Ziano mendudukkan Kevin di atas sofa.
"Tunggu disini ya boy, Daddy akan bekerja. Kalau kamu menginginkan sesuatu katakan pada Daddy"
Kevin hanya mengangguk senang sambil bermain dengan beberapa mainan yang sekretaris Ziano siapkan sebelum dia sampai di kantor.
Jam menunjukkan pukul sebelas siang, Kevin sudah tertidur bersama mainan yang berserakkan di lantai. Ziano menggendongnya menuju kamar yang ada di ruangannya.
"Kasihan sekali Kamu, Ibumu begitu tega mempertaruhkan hidupmu demi kesenangannya. Maafkan Aku karena Aku begitu membencimu." Ziano mencium pipi gembul Kevin.
"Kamu adalah korban sesungguhnya. Aku janji akan menyayangimu walaupun Kamu bukan anak kandungku"
Kendra mendapat info dari orang suruhannya bahwa Ziano sudah mengetahui semuanya.
"Syukurlah, semoga dia bisa mengambil tindakan yang tepat"
Amanda sudah kembali ke apartemen miliknya walaupun sang Ibu tetap menginginkan Amanda dan Cla untuk tinggal di rumahnya.
"Aku janji akan lebih sering berkunjung Bu" Amanda mencoba meyakinkan mertuanya.
"Kalau kalian tidak menemui Ibu, Ibu akan pindah ke apartemen milik kalian"
Amanda tersenyum "Baik Bu, kami akan sering berkunjung. Semoga Ibu dan Ayah sehat selalu" Amanda dan Kendra berpamitan kepada Ibu dan Ayah mertuanya. Dia sangat bersyukur karena merasa kembali mempunyai orangtua.
"Bie, terimakasih ya"
"Untuk apa sayang?"
"Karena sudah memberikanku orangtua kembali"
Kendra tersenyum dan mengusap kepala Amanda.
"Sama-sama sayang, bahkan aku merasa mereka lebih menyayangimu daripada aku"
Amanda tertawa "Aku juga merasa seperti itu"
Sesampainya di apartemen mereka menggendong Cla menuju kamarnya "Selamat tidur princess"
"Iya Bie" Amanda memeluk tubuh Kendra.
"Aku mendapat kabar kalau Ziano sudah mengetahui semuanya"
"Semuanya?"
"Ya, Sasa dipergoki sedang berada di apartemen milik Frans"
"Sasa? Frans? Jadi dia masih berhubungan dengan laki-laki itu?"
"Iya, mereka berhubungan di belakang Ziano"
"Lalu bagaimana hubungan mereka sekarang?"
"Aku dengar Ziano akan mengasingkan Sasa ke suatu pulau"
"Aku harap masalah ini cepat selesai. Lalu bagaimana dengan Kevin?"
"Entahlah, mungkin panti asuhan pilihan terbaik"
Amanda menutup mulutnya "Panti asuhan? Malang sekali nasib anak itu. Dia menjadi korban dari keegoisan Sasa dan Kak Ziano"
"Jadikan pembelajaran untuk kita, kepercayaan kunci segalanya"
"Iya Bie" Amanda menyurukkan kepalanya ke dada bidang Kendra.
"Sayang..."
"Kenapa lagi Bie?"
"Kamu membangunkan sisi lainku"
"Sisi lain?"
Kendra menarik tubuh Amanda dan kini berada di atasnya. Amanda merasa ada sesuatu yang mengeras. "Bieeee....." Amanda memukuli dada Kendra dan Kendra hanya tertawa terbahak-bahak.
Ziano tidur bersama Kevin di kamarnya. Ini adalah momen pertama dalam hidupnya. Sampai saat ini Sasa tidak pernah kembali ke rumah.
Tengah malam Kevin menjerit dan menangis, Ziano langsung memeluk tubuh kecil itu
"Tenanglah boy, ada Daddy disini"
Kevin membuka matanya dan langsung memeluk Ziano "Tidurlah dengan nyenyak boy, tidak akan ada yang bisa mengganggumu"