
Setelah sampai apartemen, mereka dikejutkan dengan kehadiran Ziano di depan apartemen.
Ziano melihat kedatangan Kendra dan Amanda kemudian mendekat. Amanda terlihat menegang saat Ziano mendekatinya
"Jadi kamu lebih memilih dengan laki-laki brengsek ini ?" Ziano menunjuk Kendra.
"Aku lagi pengen sendiri Kak, jadi please jangan ganggu aku" Amanda hendak meninggalkan Ziano, nambun Ziano menarik tangan Amanda dan mencium bibirnya dengan sangat kasar. Kendra terkejut melihat apa yang terjadi, namun tiba-tiba Amanda mendorong tubuh Ziano kemudian menampar pipi Ziano "Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu. Aku tidak suka apa yang sudah dipakai orang lain kemudian kamu berikan lagi pada ku" Amanda berlari meninggalkan Ziano sambil menangis.
Kendra menarik kerah baju Ziano, "Jangan pernah menyakitinya lagi, saat ini gue ngga bisa apa-apa. Tapi setelah surat gugatan cerai sampai di pengadilan, gue bakalan habisin lo"
Ziano kembali menarik kerah baju Kendra "Apa maksud lo ? Amanda ngga mungkin melakukan itu, jangan pernah menghasut Amanda untuk melakukan apa yang pengen lo lakukan"
"Hahaha, gue cuma bantu dia mewujudkan apa yang dia inginkan. Gue cuma membantu dia untuk melancarkan rencana nya" Kendra menekan kata-kata terakhirnya kemudian pergi meninggalkan Ziano.
"Brengsek lo Ken, gue bakalan kasih perhitungan sama lo"
Kendra mengetuk pintu apartemen dan Amanda membukanya. "Maaf kak" Amanda mempersilahkan Kendra masuk.
"Apa kamu baik-baik saja ?"
"Aku baik-baik saja kak, tapi..."
"Kenapa ?" Kendra menatap Amanda
"Aku benar-benar terngiang kata-kata Sasa. Kak Zino tidak akan tinggal diam. Dia akan melakukan berbagai cara untuk menyerang kita"
"Aku tidak bisa berjanji kalau Ziano tidak akan melakukan itu, tp aku bisa berjanji kalau dia tidak akan bisa menyakitimu lagi, apalagi melakukan hal seperti tadi"
Amanda tertunduk "Aku... Aku tidak ingin melibatkan Kak Kendra ke dalam masalah ku. Aku tidak ingin gara-gara masalah ku, Kak Kendra justru berada dalam masalah" Amanda meneteskan air matanya.
Amanda hanya menganggukkan kepalanya "Terimakasih kak, aku benar-benar tidak tahu lagi bagaimana aku harus berterimakasih kepada mu" Amanda semakin terisak.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, aku benar-benar ikhlas membantu mu. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya" Amanda menganggukkan kepalanya.
"Aku akan pesankan makanan untukmu, dan setelah itu kamu harus beristirahat. Aku akan menemui mu lagi besok"
"Baik kak, terimakasih"
Kendra pergi meninggalkan Amanda. Amanda merasa gelisah, dia benar-benar tidak ingin Ziano menyakiti siapapun apalagi setelah mendengarkan penjelasan Sasa bahwa kemungkinan Ziano tidak bisa mendapatkan keturunan.
"Bagaimana ini ? Apa meninggalkannya adalah keputusan yang tepat ? Jika aku meninggalkannya dia akan menyakiti banyak orang, namun jika sebaliknya dia akan terus mengurungku dalam dunia nya" Amanda kembali menangis hingga bel apartemen berbunyi, Amanda mengintip dan ternyata seorang kurir yang mengantarkan makanan.
"Cepat sekali Kak Kendra memesankan makanan" Amanda pun memakan makanan nya dengan sangat lahap karena perutnya sudah sangat lapar. Setelah makanan habis dia membersihkannya dan duduk di atas sofa sambil menonton tv, tiba-tiba panggilan masuk melalui ponselnya.
"Kenapa Kak ?"
"Aku sedang di tempat makan, tapi lupa menanyakan kamu mau pesan apa ?"
Amanda terkejut ketika mendengar pertanyaan Kendra, dia hanya menutup mulutnya.
"Hallo, Amanda kamu baik-baik saja ?"
"Ah iya kak, aku sepertinya akan langsung istirahat, aku sangat lelah hari ini. Terimakasih ya kak" Amanda menutup panggilannya kemudian mengecek kembali resi makanan yang tadi dikirimnya. Dia takut kurir itu salah mengirimkan makanan. Namun dia semakin terkejut saat melihat nama pemesan, disana tertulis nama Ziano. Makanan kesukaan Amanda yang dulu selalu menjadi makanan wajib saat mereka bergi berkencan. Amanda mengingat semua kenangan manis saat dia bersama Ziano. Walaupun awalnya mereka dijodohkan, tetapi setelah adanya pertemuan mereka mulai merasa nyaman satu sama lain.
"Kenapa kamu melakukan ini kepada ku ?" Amanda kembali menangis.