
Ziano kembali menuju meja kerjanya dan membaca laporan yang diberikan oleh Candra.
"Nanti kalau ada laki-laki, ehm maksudnya orang lain lebih baik kamu tunggu di luar"
"Maaf Tuan, Saya tidak tahu kalau di dalam ada tamu. Ta...Tadi Kak Bianca sedang mengcopy berkas jadi Saya tidak bertemu dengannya"
"Tidak apa, ini bukan salahmu. Tapi salahnya"
"Maaf Tuan..."
"Ah lupakan saja" Ziano kembali fokus kepada pekerjaannya.
Kevin tampak bercerita tentang pengalaman bermainnya, dia jarang sekali bermain seperti itu dikarenakan mengikuti Ziano yang menghabiskan waktu di kantor.
"Benar benar Tuan Muda, Kamu memang hebat dalam memainkan permainan itu"
"Kak Vita kalah hahaha"
"Iya iya, apalah daya hamba mu yang tidak mampu ini hiks hiks" Vita pura-pura menangis. Tanpa diduga Kevin langung memeluk Vita "Anan angis Kakak, cup"
"Wah wah wah pintar sekali mengambil kesempatan Tuan Muda ini" Vita menggelitiki Kevin. Ziano yang melihat Kevin dan Kendra ikut tersenyum.
Tanpa sengaja Vita melihat ke arah Ziano, mereka sempat menatap satu sama lain sebelum keduanya membuang muka.
"Ah kenapa Aku begitu bahagia melihat mereka seperti itu" hati Ziano bergumam.
Dia kembali mengerjakan beberapa pekerjaannya. Namun fikirannya benar-benar tidak bisa fokus. "Ayolah fokus saja pada pekerjaanmu" Ziano memukul-mukul kepalanya. "Emm Tuan, apa Anda baik-baik saja?"
Ziano terkejut "Ya baik-baik saja, hanya sedikit pusing" Ziano memijat kepalanya.
"Saya buatkan teh panas untuk Anda Tuan"
Vita membuatkan teh panas untuk Ziano dan memberikannya. "Silahkan Tuan" Ziano hanya menganggukkan kepalanya.
Ziano menyesap teh tersebut dan entah kenapa itu merelaxkan fikirannya "Aku baru tahu kalau teh panas berkhasiat seperti ini" kemudian Ziano menghabiskan minumannya.
"Boleh"
Vita kembali membawa minuman untuk Ziano, Ziano menghabiskannya kembali sampai tiga kali. Akhirnya Vita memberikan gelas beserta teko yang berisi teh panas kepada Ziano. "Kenapa?"
"Maaf Tuan sepertinya Anda sangat kehausan"
"Ya mungkin karena AC ny terlalu dingin jadi aku suka teh panas"
"Ta...Tapi Tuan AC nya otomatis, menyesuaikan dengan suhu ruangan"
"Entahlah, Aku suka teh panas" Ziano tersenyum kepada Vita, Vita merasa terkejut melihat Ziano tersenyum seperti itu. Bahkan itu terlihat menakutkan baginya mengingat Bianca yang berkata bahwa Ziano bos yang sulit untuk tersenyum. Vita menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kak Vita ayo cini maen lagi"
"Oh..Oke siap Tuan. Emm maksudku Tuan Muda" Vita kembali mendekati Kevin. Vita benar-benar takut jika dia melakukan kesalahan kepada Ziano.
Jam pulang tiba, Vita pulang bersama Bianca yang kebetulan hari ini mereka tidak bekerja lembur.
"Besok Kamu tidak perlu kemari"
"Hah? Kenapa Tuan? Aku mohon jangan pecat Aku di hari pertama ku bekerja Tuan. Aku mohon" Vita menangis dan menggenggam tangan Ziano. Bianca terkejut dengan apa yang terjadi. "Maaf Tuan, apa maksud Anda adik Saya dipecat?" Bianca menarik Vita dari tangan Ziano.
"Pecat? Aku hanya memintanya untuk menjaga Kevin di rumahku. Apa Kamu keberatan?"
"Ah be..begitu ya Tuan. Ten..Tentu saja Saya tidak keberatan" Vita menghapus air matanya dan wajahnya terlihat sangat merah karena malu.
"Jam tujuh sudah ada di rumahku"
"Ba..Baik Tuan" Ziano pergi meninggalkan Vita dan Bianca dengan menggendong Kevin.
Bianca menarik lengan Vita dan meminta penjelasan. Vita hanya tersenyum malu.