
Nathar tiba di lokasi, dia menaiki lift menuju ruangan yang telah dijanjikan.
Flo tampak tergesa-gesa, dia mencegah lift yang ditempati Nathar untuk menutup pintunya. Flo segera memasuki lift.
"Seenaknya menghentikan lift yang sedang dinaiki oleh orang lain."
Flo menatap Nathar, "Anda lagi? Kalau saja Saya tahu Anda berada di dalam sini, Aku tidak akan menghentikan lift ini. Lagian siapa yang mau satu ruangan bersama orang mesum."
Nathar membelalakkan matanya, "Kamu mau tahu bagaimama mesum yang sesungguhnya?"
"What? Anda berani mengatakan itu kepada ku? Dasar tukang mesum."
Pintu lift terbuka, Flo segera keluar dari lift tersebut meninggalkan Nathar sendirian.
"Fix, Daddy salah memilih orang."
Acara berlangsung cukup lama, Flo tampak menghindari Nathar. Nathar bagaikan seorang penjahat di mata Flo.
"Kamu fikir siapa yang akan percaya Aku mesum kepada perempuan berkaca mata seperti mu." Nathar bergumam dan menatap Flo dengan sinis.
Flo tidak mau kalah, dia menatap Nathar dengan tatapan yang sama. Bahkan mulutnya terlihat berkata "Mesum."
Nathar memalingkan pandangannya, "Lagian mana mungkin itu ciuman pertama nya. Aku tau dia seumuran dengan ku."
Malam tiba, Nathar kembali ke hotel untuk beristirahat. Dia tiba di lobby hotel, dari belakang dia melihat Luna tengah membawa koper besar. "Apa itu Nona Luna?"
Nathar hendak menghampirinya, namun dia mengurungkan niatnya mengingat Nathan saat ini sedang mencoba mendekati Luna.
"Mungkin Aku salah lihat, kalaupun iya sebaiknya Aku menghindarinya."
Dia kembali berjalan menuju lift, dia berada dalam lift sendirian.
"Aku selalu bertemu dengan gadis kaca mata itu di lobby hotel saat hendak berangkat bekerja, tapi kenapa saat pulang bekerja dia tidak nampak? Apa jangan-jangan dia pergi untuk bersenang-senang terlebih dahulu? Dia berpura-pura suci untuk menutupi kelakuannya."
Pintu lift terbuka, dia segera menuju kamarnya.
Nathar segera membersihkan tubuhnya, kemudian dia berbaring di atas tempat tidur.
"Kalau Aku pergi berenang lagi, apa Aku akan menemukan gadis kaca mata itu?"
Nathar menggelengkan kepalanya, "Kenapa Aku memikirkan hal seperti itu? Malas sekali bertemu dengannya, lebih baik Aku di sini saja."
Namun Nathar tampak penasaran, dia keluar dari kamar menuju balkon. Nathar melihat ke arah kolam renang, tampak seorang perempuan dan laki-laki tengah duduk berdua.
"Seperti Nona Luna? Tapi dengan siapa dia?"
Nathar kembali melihat keberadaan dua orang tersebut, dia begitu terkejut saat melihat dua orang tersebut tengah berciuman. Bahkan ciuman itu terlihat begitu panas saat laki-laki tersebut membaringkan tubuh sang wanita.
Nathar tampak penasaran, dia bergegas menuju kolam renang.
Pintu lift terbuka saat Nathar tiba di lokasi yang dituju, Nathar melihat Mereka dari jarak yang cukup dekat.
Dia melihat Luna sudah tidak sadarkan diri, laki-laki itu tampak hendak membawa tubuh Luna.
Nathar yang melihat itu segera menghampirinya. Andra yang menyadari itu tampak salah tingkah.
"Ada apa ini? Apa dia pingsan?"
"Ti-tidak. Maksud ku, iya. Sepertinya dia pingsan."
"Jadi Anda tidak mengenalnya? Boleh Saya lihat?"
Nathar menghampiri Mereka, "Nona Luna? Ini Nona Luna, Saya mengenalnya. Dia adalah salah satu kolega perusahaan yang Saya pimpin. Apa Anda benar-benar tidak mengenalnya?"
"Benarkah? Sa-Saya tidak mengenalnya, permisi." Andra segera meninggalkan Mereka berdua.
Nathar mencoba membangunkan Luna, "Nona Luna. Bangun."
Luna masih tidak sadarkan diri. Nathar melihat tas milik Luna di sampingnya, ada sebuah kartu kamar di dekat tas tersebut. Sepertinya Andra baru saja mengeluarkannya.
Nathar memeriksa kartu tersebut kemudian mengangkat tubuh Luna. Nathar berencana membawa Luna ke kamarnya.
"Siapa laki-laki itu? Kenapa dia pergi saat Aku menghampirinya? Sepertinya dia bukan laki-laki baik-baik."
"Panas... Panasss..." Luna terlihat gelisah.
"Nona Luna? Anda sudah sadar?"
"Tolong... Tolong Aku..." Luna membuka matanya, "Nathan, tolong Aku. Panas..." Luna membuka kancing kemeja miliknya.
"Stop, tunggu Nona. Saya Nathar, Anda tidak boleh melakukan ini."
"Nathar? Tolong Aku, tubuh ku terasa panas." Wajah Luna kini memerah. Luna kini hanya menggunakan pakaian dalamnya.
"Nona Luna, hentikan!" Nathar hendak pergi meninggalkannya, namun dia menghentikan langkahnya, dia khawatir Luna hilang kendali dan pergi keluar dari kamar.
"Nona Luna? Lihat Saya."
Luna menatap Nathar dengan wajah yang merah dan nafas yang terasa sangat berat. "Ahhh Nathar... Tolong Aku..." Luna mencondongkan tubuhnya pada Nathar.
"Anda telah diberi obat. Saya akan mencari obat penawarnya, Anda tunggu di sini ya."
"Panas Nathar." Luna menggenggam tangan Nathar, dengan cepat dia menggerakkan tangan Nathar pada bagian dadanya yang begitu menonjol.
Nathar membelalakkan matanya, dia hendak melepaskan tangannya, namun Luna dengan cepat meraih wajah Nathar dan menggosokkan bagian dadanya tepat di wajah Nathar.
"Uhhh ini sangat membantu."
Nathar melepaskan dirinya dari Luna, namun Luna menjatuhkan tubuh Nathar ke atas tempat tidur. Luna menempelkan seluruh tubuhnya pada tubuh Nathar, dia menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Nathar. "Seperti ini saja, ini sangat membantu ku. Eemmmhh ya seperti ini."
Nathar sangat geram, dia membanting tubuh Luna ke atas tempat tidur. Nathar meraih beberapa pakaian milik Luna dan mengikat Luna dengan pakaian itu.
"Saya akan segera kembali."
Nathar keluar dari kamar Luna, dia tidak bisa membohongi dirinya. Bagian tubuh sensitifnya kini menonjol di balik celananya.
"Sial. Apa yang dia lakukan?" Namun Nathar semakin terkejut saat Flo ada tepat di hadapannya. Pintu kamar Luna yang masih terbuka membuat suara ******* Luna terdengar dengan begitu jelas.
"Nathaaarrrr, Kamu mau kemana? Kenapa Kamu mengikat ku seperti ini? Emmmhhhh..."
Nathar segera menutup pintu kamar tersebut, Flo menatap Nathar dengan tatapan marah, kesal, benci.
"Flo... Tunggu Flo, ini tidak seperti yang Kamu pikirkan."
"Tidak seperti yang Saya pikirkan? Lihat tubuh Anda Tuan, Anda bahkan tidak bisa membohongi diri Anda sendiri." Flo pergi meninggalkan Nathar sendirian.
"Flo, tunggu dulu. Ini di luar kendali ku, ini benar-benar tidak seperti yang Kamu pikirkan."
Flo memasuki kamar yang telah dipesan olehnya sejak beberapa waktu lalu.
"Aaarrrggghhh kenapa jadi seperti ini?" Nathar mengacak rambutnya.
"Tunggu dulu, kenapa Aku harus menjelaskan semua ini kepadanya?" Nathar membalikkan badannya.
"Tapi bagaimana kalau dia berpikir kalau Aku..."
"Aaaarrrgggghhh..." Nathar bergegas menuju apotek.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Wuaaa apalagi ini? Luna berulah.
Gimana kalau Nathan sampai tau?
Atau Kendra dan Amanda?
Wuuaaaa Luna...
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan vote Kaliaan yaa zheyeeenk.
Sayaaang Kaliiaaaannn 🥰🥰🥰