Istri Ceo

Istri Ceo
Keluarga Terdekat


Vita mendatangi Ziano di rumah sakit.


"Maaf sus, Saya mau tanya ruangan Tuan Ziano"


"Sebentar ya mbak" terlihat perawat tersebut mencari nama Ziano di layar komputer yang ada di depannya.


"Pasien atas nama Ziano Argora berada di ruangan vvip no 302 Nona"


"Baik sus, terimakasih"


Vita menaiki lift untuk menuju ruangan tersebut.


"Ini ruangan 302. Apa lebih baik Aku telpon dulu nomor Tuan Ziano ya?"


Vita membuka kontak telepon dan mencari nama Ziano kemudian melakukan panggilan. Namun tidak ada jawaban sama sekali.


"Mungkin Tuan Ziano sedang istirahat, bagaimana ini?"


Dengan ragu Vita membuka pintu ruangan tersebut, namun tidak ada siapapun disana.


"Dimana Tuan Ziano? Ini ponsel miliknya, tapi dimana dia?" Vita mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan hingga pandangannya berhenti pada pintu kamar mandi yang ada di ruangan tersebut.


"Mungkin Tuan Ziano sedang di kamar mandi. Lebih baik Aku menunggunya disini"


Vita duduk di sebuah sofa, namun dia begitu terkejut saat mendengar teriakan dari kamar mandi.


"Tolong, siapapun tolong Aku...."


Vita mendekati ruangan tersebut "Tuan, Saya Vita. Anda kenapa Tuan? Apa Anda baik-baik saja? Perlu Saya panggilkan dokter?"


"Vita, tolong bukakan pintunya"


Vita begitu terkejut, bagaimana mungkin dia memasuki kamar mandi yang terdapat Ziano di dalamnya.


"Ta...Tapi Tuan..."


"Tolong Aku Vita, Aku kesulitan membuka pintunya"


Tanpa pikir panjang Vita membuka pintu kamar mandi tersebut.


Ziano sedang memegangi tangannya yang penuh dengan darah. Vita dengan panik mendekati dan memegang tangan Ziano.


"Anda kenapa? Apa Anda berniat untuk bunuh diri? Tapi kenapa Anda melakukan itu?" Vita mulai menangis.


"Aku panggilkan perawat. Lebih baik Anda tunggu disini"


Vita memencet bel yang terdapat pada ranjang pasien. Tak lama kemudian seorang perawat datang memasuki ruangan Ziano.


"Tadi Aku tidak sengaja mencabut jarum infus ini"


Dengan telaten perawat tersebut membersihkan darah dan sebagian mencabut jarum yang masih menempel.


"Untung saja Anda menahan jarum ini Tuan, bisa-bisa potongan jarum ini masuk mengikuti aliran darah Anda"


"Ini karena dia yang menolong Saya membukakan pintu kamar mandi sehingga Saya bisa tetap memegang jarum ini" Vita tersipu malu karena sudah menyangka Ziano akan bunuh diri.


"Baiklah sudah selesai Tuan" Perawat itu memindahkan infus ke tangan Ziano yang satunya lagi.


"Terimakasih Sus" Vita menganggukkan kepalanya kepada perawat tersebut.


"Kenapa tadi Kamu menangis?" Ziano memandang mata Vita yang masih terlihat sembab.


"Aku hanya panik Tuan"


"Tapi Kamu bilang tadi Aku akan bunuh diri, apa selemah itu Aku di matamu?"


"Tidak, tidak Tuan. Maafkan Aku. Aku tidak pernah melihat orang berdarah seperti itu. Jadi aku mengira Anda..."


"Haha Kamu terlalu sering menonton Film"


Vita menundukkan kepalanya.


"Aku kira Kamu menangis karena takut kehilanganku" Ziano mulai mengerjai Vita.


"Tidak Tuan, bukan begitu..."


"Oh jadi Kamu tidak takut kehilanganku?" Ziano memasang wajah sedihnya.


"Tidak Tuan... Maksudku iya Tuan. Aku takut...." Vita langsung menutup mulutnya.


"Takut apa?" Ziano terlihat menahan senyumnya.


"Aku... Aku tidak ingin Tuan Kevin kehilangan Daddy nya"


Ziano terlihat sedikit kecewa. "Kan ada Kamu"


"Tapi tetap saja, Tuan Kevin akan sangat sedih jika kehilangan keluarga terdekatnya"


"Lalu, apa Kamu mau menjadi keluarga terdekatnya Kevin?"


Vita memandang Ziano, mencerna apa maksud dari perkataannya.