
Sepanjang malam Ziano tidak bisa tidur memikirkan Vita yang tak kunjung membuka kamarnya. Untung saja Ibu masih diijinkan untuk memberikan makanan, kalau tidak mungkin Ziano akan mendobrak pintu kamarnya.
Pikiran Ziano tiba-tiba terpusat kepada Sasa, "Bagaimana mungkin perempuan itu bisa kembali ke Kota? Bukankah dia sudah berada di tempat terpencil yang sulit dijangkau oleh orang biasa. Bahkan tidak ada kendaraan yang berani memasuki daerah tersebut. Awas saja kalau ada yang berani menghianatiku"
Ziano mengambil ponselnya dan menelpon beberapa orang kepercayaannya, "Pastikan Kamu mendapatkan infonya malam ini juga. Jangan tidur sebelum Kamu memecahkan masalah ini"
Ziano terus memeriksa ponsel dengan gelisah. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Ponselnya tiba-tiba berdering menandakan panggilan masuk.
"Bagaimana?"
"Kami sudah menemukan akar permasalahannya Bos"
"Lalu?"
"Nona Sasa menikahi kepala suku disana, dia menjadi istri kesayangannya diantara istri-istri yang lainnya"
"Sekarang bagaimana dia bisa kemari?"
"Dia kabur Bos ketika ada bantuan dari negara kita untuk daerah tertinggal tersebut"
"Jadi maksudmu suaminya tidak mengetahui kalau Sasa ada disini?"
"Tentu saja tidak Bos, Nona Sasa pergi tanpa sepengetahuannya"
"Bagus, bawa kemari kepala suku tersebut. Besok pagi dia harus sudah berada di rumahku"
Ziano tersenyum menang saat mendapatkan rencana untuk menjebak Sasa. Namun pikirannya tetap belum tenang saat mengingat Vita masih begitu marah padanya. Ziano kembali menelpon seseorang, "Siapkan tiket untuk dua orang"
"Baik Tuan, kemana Anda akan pergi?"
"Ke lima negara. Aku ingin paket lengkap untuk honey moon"
"Baik Tuan, Saya akan memprosesnya sekarang juga"
Entah siapa yang di telpon Ziano, yang jelas saat ini waktu menujukkan pukul dua dini hari.
Keesokan pagi Ziano yang tertidur di ruangan bekerja mencium aroma kopi. "Kopi???" Ziano begitu terkejut saat melihat segelas kopi di meja.
Ziano mendatangi kamar Kevin dan melihat Vita sedang menyiapkan Kevin untuk berangkat sekolah.
"Mommy Vita akan anter Kevin ke sekolah hari ini kan?"
"Tentu Sayang, Mommy akan mengantarmu dan menjemputmu kembali" Vita mengusap kepala Kevin.
"Assiikkk, soalnya Kevin nggak mau dijemput lagi sama orang itu"
"Orang itu? Siapa?"
"Yang kemarin kemari, dia bilang besok dia akan menjemput Kevin dan mengajaknya jalan-jalan. Tapi orang itu jahat Mommy, dia membuatmu sedih" Kevin memeluk Vita dengan tulus.
"Tenanglah sayang, Mommy janji tidak ada yang bisa berbuat jahat kepadamu"
"Mommy tau tidak? Dia yang dulu ajak Kevin ke tempat seram, dulu dia Mommy Kevin. Tapi Kevin nggak mau punya Mommy jahat. Kevin mau Mommy Vita aja"
Vita begitu khawatir, sebagai lulusan psikologi dia merasa Kevin benar-benar takut dan trauma karena kejadian itu.
"Tenanglah Sayang, Aku Mommy mu. Tidak ada yang bisa merebutmu dariku" Kevin pun memeluk Vita dengan penuh cinta, dan Vita menerima pelukan itu dengan senyuman. Namun dia sangat terkejut saat Ziano tengah tersenyum melihat mereka berdua. Vita menjadi salah tingkah, dia memang sedang marah kepada Ziano, namun melihat Ziano tersenyum seperti itu tentu saja hatinya menjerit senang. Bukan wanita jika Vita menerima permintaan maaf Ziano begitu saja.
"Aku akan mengantarmu ke sekolah, sekarang Kita sarapan dulu ya" Kevin menganggukkan kepalanya.
Ketika hendak keluar dari kamar, Ziano menarik lengan Vita. "Boy, Kamu makanlah dulu. Daddy ingin mengobrol dulu dengan Mommy sebentar"
"Baiklah Daddy"
Vita mencoba melepaskan genggaman Ziano, "Aku mohon maafkan Aku Sayang"
Vita hanya mendelik dan hendak meninggalkan Ziano, namun Ziano menariknya dan mencium bibir Vita. Vita hanya membelalakkan matanya.
Note:
Maaf atas keterlambatannya.
Tolong like, comen, Vote dan bintang 5 yaa kakak Zheyeeeng 😘😘