
Polisi mendatangi kediaman Frans, dia ditangkap karena diduga sebagai pengedar nark*ba.
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!!!" Sasa memberontak saat polisi juga menangkapnya karena diduga telah bekerja sama.
"Silahkan kalian ikut kami ke kantor polisi"
Polisi menangkap Frans dan Sasa.
Ziano mendapat telepon dari kantor polisi karena Sasa memintanya untuk memberikan jaminan.
"Apa lagi yang dia lakukan?" Ziano pergi meninggalkan kantor.
Sesampainya di kantor polisi Sasa menangis bersimpuh di hadapan Ziano. Ziano merasa risih dan menghindari Sasa. "Apa yang terjadi?"
"Kami menemukan istri Anda bersama Tuan Frans. Dia adalah pengedar nark*ba terbesar di negara nya. Sudah dua tahun dia menjadi buronan dan Kami menduga istri Anda bersekongkol dengannya"
"Dia mantan istriku, kami sudah bercerai pekan lalu. Kalau kalian ingin menangkapnya, tangkap saja dia" Ziano pergi meninggalkan kantor polisi.
"Ziano... Tolong Aku, katakan pada mereka bahwa Aku sama sekali tidak tahu apa-apa"
Ziano mengabaikan teriakkan Sasa.
Sasa terus saja menangis, bagaimana tidak? Frans divonis hukuman mati. Dia tidak ingin bernasib sama, Dia menyesal karena sudah mempercai kata-kata Frans. Sasa menyesal karena meninggalkan Ziano demi Frans.
"Silahkan menuju ruangan pemeriksaan Nona" Seorang polisi mempersilahkan Sasa untuk memasuki ruangan pemeriksaan. Sasa dimintai keterangan dari beberapa pertanyaan yang diberikan. Selain itu Sasa juga menjalani tes urine untuk mengetahui apakah Sasa juga menggunakan barang haram tersebut atau tidak. Sasa terus saja menangis, dia merasa terjebak.
Ziano kembali ke rumah miliknya dan membawa Kevin. Dia tidak ingin Kevin mendengar berita mengenai Sasa. Bagaimanapun Kevin pasti sangat merindukan ibunya dan dia akan sangat terpukul jika mengetahui Sasa di penjara, walaupun dia belum mengerti sepenuhnya.
"Maaf Pak, Saya diberitahukan untuk menyampaikannya langsung kepada Anda"
Ziano melihat sekilas amplop itu, ada nama Z Hospital pada amplop tersebut. Dia mengetahui bahwa itu adalah hasil dari tes DNA yang dia minta.
Ziano memasuki ruangannya, seperti biasa Kevin bermain dengan mainan-mainan yang disimpan di ruangan Ziano.
Ziano membuka amplop tersebut dan benar saja hasil dari Tes DNA tersebut tidak cocok. Ziano sudah tidak terkejut lagi, dia merobek kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Hei Boy, walaupun tidak ada ikatan darah antara kita, tapi Aku akan mencoba menyayangimu seperti anakku sendiri. Jadi mulai dari sekarang, temani aku oke?" Kevin hanya tertawa senang. Entah dia mengerti atau tidak, yang jelas Kevin terlihat senang.
"Bagus Boy" Ziano memeluk tubuh kecil itu.
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan.
Kevin selalu mengikuti Ziano kemanapun dia pergi, bahkan saat mengadakan meeting Kevin mendapatkan kursi khusus di samping Ziano. Seperti mengerti dengan pekerjaan Daddy nya, dia selalu terlihat tenang.
Hari ini polisi memutuskan bahwa Sasa tidak bersalah, tidak ada bukti apapun yang menunjukkan Sasa bersalah. Namun berbeda dengan Frans, dia dihukumi penjara seumur hidup.
Sasa mendatangi Ziano di kantornya namun sekretaris Ziano tidak mengizinkannya atas perintah dari Ziano.
Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke rumah Ziano. Dia berharap bisa meminta maaf kepada Ziano dan membujuknya kembali.
Sasa menunggu kedatangan Ziano di dekat gerbang utama karena security tidak mengizinkannya untuk masuk.