Istri Ceo

Istri Ceo
Reina?


"Mas, gimana kalo Kevin liat" Vita mendorong tubuh Ziano.


"Semalam Kamu tidak mengizinkanku untuk menyentuhmu, maafkan Aku Sayang" Ziano menciumi jemari Vita.


"Maafkan Aku juga Mas, seharusnya Aku tidak marah karena masa lalu. Tidak seharusnya Aku mempermasalahkan itu. Tapi Aku cemburu Mas saat ada wanita lain..." Ziano mencium kembali bibir Vita.


"Maafkan Aku Sayang, Aku hanya mencintaimu. Sampai kapanpun Aku hanya mencintaimu. Kalau Kamu tidak percaya, Kamu bisa meninggalkan ku. Tapi mungkin Kamu tidak akan pernah bisa menemui ku lagi. Aku akan mati tanpa mu Sayang"


"Mas, sudahlah jangan berkata seperti itu. Kita baru saja bersama, Aku benar-benar tidak bisa membayangkan hal itu. Maafkan Aku juga ya Mas" Vita memeluk tubuh Ziano.


"Mommy... Ayo Kita ke sekolah" Kevin menghampiri mereka. "Ups, apa kalian sudah selesai berbicara? Kalau belum maka Aku akan ke sekolah bersama Nenenk"


"Nenek?"


"Iya, nenek bilang kalau dia tidak ingin ada orang yang menggangguku"


Ziano menatap Vita, "Terimakasih Sayang sudah memberikan seorang Ibu dan Nenek yang baik bagiku juga Kevin"


"Sama-sama Mas, Aku juga sangat beruntung mempunyai suami sepertimu juga anak seperti Kevin"


"Oh iya biarkan Kevin hari ini bersama Ibu, ada sesuatu yang ingin Aku tunjukkan"


"Apa Mas? Kevin, tidak apa Kamu pergi bersama nenek?" Vita menghampiri Kevin.


"Iya Mommy, tuh nenek sudah menunggu disana"


Vita menghampiri Ibu "Apa tidak apa-apa Bu?"


"Tidak nduk, Kamu selesaikan saja dulu masalahmu. Biarkan Kevin bersama Ibu"


Vita pun memeluk Ibu "Terimakasih Bu" Ibu mengusap puncak kepala Vita.


***


"Biar Aku yang membuka" Ziano pergi meninggalkan meja makan. Vita merasa bingung, karena tidak biasanya Ziano meninggalkan meja makan begitu saja. Vita mengikuti Ziano ke ruangan depan.


"Siapa Mas?" Ziano terlihat bersama tiga orang yang tak dikenal hendak memasuki ruang kerjanya.


"Sebentar ya Sayang, kalau ada yang mengetuk pintu panggil Aku" Ziano mengecup kening Vita.


Vita menganggukkan kepalanya namun rasa khawatir masih menyelimutinya. Bagaimana tidak, dua orang berbadan besar dengan pakaian serba hitam datang membawa seorang laki-laki yang bisa dibilang sangat aneh ke rumahnya.


Vita mondar-mandir di depan ruangan Ziano, satu jam sudah berlalu hingga tiba-tiba terdengar seseorang berteriak di depan rumah. Vita menghampirinya dan dilihatnya Sasa yang sedang ditahan untuk masuk oleh scurity.


"Jadi begini cara Kamu memperlakukan tamu?" Sasa berteriak kepada Vita. Vita tidak mengerti apa yang terjadi, dia tidak pernah meminta scurity untuk menahan Sasa.


"Oh rupanya Kamu sudah disini, masuklah" Ziano menghampiri Vita dan Sasa. Vita begitu heran saat melihat Ziano bersikap baik kepada Sasa.


"Terimakasih Babe, memang seharusnya seperti ini memperlakukan istri sendiri" Sasa merangkul Ziano, namun Ziano menahannya. Vita mengikuti mereka dari belakang.


"Sebenarnya apa tujuanmu kemari?" Ziano duduk di atas sofa.


"Tentu saja untuk menemui mu dan juga anak Kita"


"Anak Kita? Dia anakku, lihatlah berkas ini. Disini tertulis dengan jelas bahwa Kevin adalah anakku. Ini sah di mata hukum"


"Ayolah Babe, Kita bisa membicarakan ini baik-baik. Bukankah Kita saling cinta. Aku mencintaimu Babe" Sasa mendekati Ziano.


"Cinta? Benarkah?"


Vita semakin memanas saat melihat Ziano yang merespon Sasa dengan baik.


"Benar Babe, Aku sangat mencintaimu" Sasa hendak memeluk Ziano, namun tiba-tiba "Reina..." Sasa membelalakkan matanya.