
Dokter mengatakan kalau Sasa baru saja melewati masa kritisnya. Ziano, Kendra dan Amanda merasa lega. Mereka melihat keadaan Sasa, Sasa tersenyum melihat kedatangan mereka. "Terimakasih kalian sudah kemari"
"Sama-sama, kami tidak sengaja mendengar kabarmu sehingga kami langsung kemari." Amanda menggenggam tangan Sasa.
"Sayang, mereka kemari untuk menguatkan ku dan menjaga baby boy. Oh iya kamu belum bertemu dengannya kan? Coba kamu lihat, dia sangat mirip kan dengan ku?" Ziano membawa anaknya ke dalam pangkuannya.
Sasa terkejut, begitu juga dengan Amanda dan Kendra.
"Ah tentu saja sayang dia mirip denganmu, kalian akan semakin mirip ketika boy sudah besar"
"Kamu benar, aku tidak akan meminta apapun karena sudah memiliki dia" Ziano menatap anaknya.
"I-Iya sayang" Sasa menundukkan kepalanya.
"Oh ya kita harus segera memberinya nama. Hmm bagaimana kalau Kevin Argora. Dia akan menjadi pewaris keluarga Argora" Ziano menatap Sasa, Sasa menjadi salah tingkah.
"Iya tentu saja sayang, nama yang bagus" Sasa tersenyum.
"Tapi aku akan tetap memanggilnya boy, dia baby boy ku" Ziano mengecup kening Sasa.
Setelah memberikan ASI, Sasa dan baby Kevin tertidur. "Sepertinya mereka sangat kelelahan" Amanda menatap ibu dan anak tersebut.
"Kalau gitu, kita pulang dulu ya bro! Semoga Sasa lekas sehat" Kendra dan Amanda berpamitan.
"Terimakasih ya bro, dan maaf" Ziano menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, kita lupakan masa lalu. Saat ini kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan, jadi kita mulai semuanya dari awal" Kendra memeluk Ziano, Amanda tersenyum senang melihat kebaikan dari suaminya, dia bangga karena mempunyai suami yang bagitu baik.
"Hubbie.." Amanda menatap Kendra. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil menuju arah pulang.
"Terimakasih sudah menjadi suami yang sangat baik. Aku benar-benar bersyukur karena memilikimu"
Kendra menatap Amanda "Kembali kasih princess, ayo aku tunggu bukti rasa syukurmu" Kendra menambah kecepatan mobilnya.
"Apa? Bukti bagaimana Bie?" Amanda kebingungan.
"Ayolah sayang, kita sudah tiga bulan menikah. Kamu pasti tahu maksudku"
"Ta-tapi kamu bilang kan bukti rasa syukur. Apa kita akan mengadakan acara syukuran atau mendatangi panti asuhan?"
Kendra Menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Aku ingin kamu melayani ku malam ini sayang, buktikan kalau kamu bersyukur karena memiliki ku" Kendra tersenyum.
"Bie.... bukankah setiap malam aku, maksudku kamu selalu meminta jatah?" wajah Amanda memerah.
"Sayangku, bukankan bersyukur itu harus dilakukan setiap saat?"
dengan cepat Amanda menjawab "Tentu saja..." Amanda menutup mulutnya.
"Aku tunggu" Kendra tersenyum melihat Amanda yang memerah.
Sesampainya di apartemen Kendra langsung menyerang Amanda di atas sofa, mereka berciuman dengan sangat lembut. Entah karena bawaan hamil atau karena kebiasaan, Amanda terlihat sangat bergairah. Melihat reaksi Amanda, Kendra mencium kembali bibir Amanda dengan sangat panas. Amanda mulai mengerang ketika jemari Kendra yang bermain-main pada pucuk pay*daranya. "Ahhh Bie..."
"Sepertinya kamu semakin sensitif sayang, lihatlah ini. Sudah begitu muncul dan mengeras" Kendra memperlihatkan pucuk pay*dara Amanda yang mulai tercetak oleh bajunya. Amanda semakin memerah. Kendra mengangkat tubuh Amanda menuju kamar dengan bibir yang saling bertautan.
Kendra menurunkan Amanda di atas kasur, Amanda terlihat merah karena gairah, dadanya naik turun karena nafs yang tersenggal. Kendra tersenyum senang melihat Amanda seperti itu.
"Touch me hubby, please!!!" mata Amanda terlihat sayu. Tanpa fikir panjang, Kendra melepaskan seluruh pakaiannya.