
"Laura." Panggil Darren lagi.
"Apa lagi Darren? Aku lelah aku ingin istirahat." ucap Laura kesal ia bahkan berdecak.
Apa jangan-jangan Darren ingin menyiksanya, untuk tidur di lantai dingin.
"Keringkan rambutku!"
Darren sudah mengulurkan seutas handuk pada Laura.
"Ya Tuhan, Darren ini sudah malam bahkan hampir pagi. Tak ada waktu lainkah untuk mengerjaiku?" Laura meraih handuk yang di ulurkan oleh Darren untuk mengeringkan rambut pria itu.
Sekuat mungkin laura menahan kantuk yang menyerang matanya, menggosok pelan rambit pria itu yang setengah gondrong.
Darren merasakan usekan pelan di rambutnya, Laura bahkan terangguk beberapa kali ke depan saking mengantuknya.
"Darren aku tidak kuat, aku mengantuk." Laura malah menempelkan wajahnya di punggung Darren.
"Sudah, cukup biar ku selesaikan sendiri kau tidur saja."
Laura buru-buru membaringkan tubuhnya di sisi kiri tempat tidur, kasur yang empuk serta seprai yang lembut sangat nyaman menyapa tubuhnya yang hanya berbalut gaun tidur tipis.
"Dasar iblis betina ceroboh. Malah pamer tubuh mulusnya." Darren menggosok wajahnya menggunakan handuk yang ia pegang.
"Sial. Kenapa aku bergairah melihatnya?" Darren mengerang frustasi ini tidak terjadi sebelumnya, bahkan bisa di katakan ini pertama kali ia bergairah setelah ia lumpuh.
Darren membalut tubuh Laura dengan selimut. Menutupi tubuh yang menggetarkan kelelakiannya. "Menjijikan. Gadis liar menjadi istriku. Entah berapa banyak pria yang sudah menyentuhnya?" Darren memilih tertidur membelakangi istrinya yang terlelap.
.
"Aaaaaa."
Darren berteriak saat bangun tidur mendapati wajah Laura yang menghadap ke arahnya. Wajah yang berada dalam daptar pertama yang ingin ia singkirkan dalam hidupnya.
"Apaan sih? Dasar lebay." Laura merentankan otot-otot tubuhnya saat membuka mata.
Darren menggali ingatannya ia baru sadar jika Laura sudah menjadi istrinya di mulai sejak hari kemarin.
"Aku akan membersihkan diri. Aku akan kuliah." ujar Laura ringan.
"Kita baru menikah kemarin Laura. Masa kau sudah mau kuliah, setidaknya tunggulah sampai besok." saran Darren.
"Tidak mau, aku mau kuliah."
"Laura apa kata orang? setidaklah pikirkan dirimu sendiri." Darren melai kesal.
Laura hanya diam. "Ck."
"Bantu aku ke kamar mandi aku sudah kebelet." Darren sudah merentankan tangannya.
"Pergilah sendiri." Laura kesal, iblisnya sedang mampir di diri gadis itu. Ia memili meninggalkan Darren di tempat tidur. Dan membersikan diri di kamar mandi.
"Laura. Aku tidak bercanda."
"Laura."
"Laura." samar-samar Laura mendengar namanya di panggil oleh Darren.
Laura sengaja di lama-lamakan berada di kamar mandi ia ingin mengerjai pria itu, gantianlah semalam Darren mengerjainya, dan sekarang gilirannya. Ia ingin melihat bagaimana Darren tersiksa karna tak bisa ke kamar mandi.
"Mari kita lihat. Apa yang terjadi pada pria itu."
Saat Laura kembali Darren sudah berada di atas lantai sedang berusaha menggeret kakinya ke arah kamar mandi.
"Astaga basah. Kau benar-benar mengompol?" Laura memekik tak percaya.
"Kau pikir aku melucu saat mengatakan aku kebelet? Dasar wanita iblis. Tidak adakah setitik rasa kasihan di hatimu pada orang lain Laura?" Amarah juga rasa malu mengumpul di hati Darren jika saja ia tidak lumpuh ia tidak akan mendapatkan hal memalukan seperti ini, di umurnya yang lebih dari dua puluh tahun ia mengompol di celana.
Laura masih diam di tempatnya.
"Harusnya ayahku memasukanmu ke dalam penjara saja. Ayahku sudah salah sangka padamu, dia pikir kau gadis yang bertanggung jawab. Padahal sudah ku katakan jika calon menantunya adalah jelmaan iblis betina." Darren masih terduduk di atas lantai menatap kakinya yang kaku.