
"Milikku terasa sangat sakit. Apa aku terjatuh saat tidur ya?"
"Ya i-ya Ra, semalam kau jatuh terduduk dari tempat tidur aku yang menolongmu dan menggendongmu ke tempat tidur." bohong Darren.
Astagha sejak kapan Darren pandai berbohong.? Sebenarnya yang terjadi adalah ia sudah mencuri hak dari istrinya.
Darren membawa istrinya menuju kamar mandi.
"Darren aku ingin berendam."
"Ra. Kau sedang demam tak baik jika kau berendam sekarang." Darren memperingati istrinya. Sungguh Darren tak menyangka jika tindakannya semalam bisa membuat Laura sampai sakit deman seperti itu.
"Aku libur ngampus hari ini. Tubuhku benar-benar tak nyaman." Laura bahkan buru-buru menyelesaikan mandinya ia ingin cepat-cepat minum obat dan istirahat.
"Mau makan apa kau hari ini?" Darren berkata lembut saat istrinya tengah memilih pakaian.
"Aku tak lapar, aku hanya lelah."
"Kau tetap harus makan Laura."
Laura di buat risih kala Darren mengikuti kemana kakinya melangkah.
"Darren berhenti mengikutiku!" Laura berbalik dan menatap tajam suaminya.
Mau setampan apa perubahan Darren sungguh Laura tidak terpengaruh sama sekali, sejak awal Laura tidak menyukai atau bahkan membenci Darren. Di tambah dengan pria itu yang membelenggunya dalam ikatan pernikahan yang menurutnya benar-benar konyol.
"Sebenarnya kau mencari pria seperti apa Ra?" Darren berkata lirih, sampai Laura menghentikan langkahnya menuju ruang ganti.
"Yang pasti bukan dirimu Darren. Aku memiliki mimpi menikah dengan seseorang yang kucintai. Meskipun mimpiku menikah sekali seumur hidup akan musnah, karna bentuk tanggung jawabku padamu."
Darren tercenung sejenak. Sungguh dirinya tak mengerti dengan jalan pikiran Laura. Harus apa yang ia lakukan agar Laura mau menerima perasaannya.
Laura tak ambil pusing ia melanjutkan langkahnya menuju ruang ganti. Setelah semuanya selesai ia kembali dengan mengenakan jaket hangat di tubuhnya.
Laura menghampiri Darren yang tengah terduduk di tepi ranjang dengan tatapan yang jauh menerawang.
"Darren aku ingin berdamai denganmu. Kita tidak harus musuhankan? Kita bisa menjadi teman yang baik, tapi untuk tetap melanjutkan pernikahan." Laura menjeda ucapannya, menatap mata Darren yang menelisik wajahnya penuh permohonan.
"Maaf Darren aku tidak bisa melanjutkannya."
Darren merasa ada sebuah belati yang mengoyak dadanya dan mengiris tipis hatinya, Darren tak ingin mengakhiri pernikahan ini lalu apa lagi yang harus dirinya lakukan sebagai kambing hitam.
Ini tak baik untuk jiwanya. kalimat Laura terlalu mengejutkan untuknya yang suka ketenangan. Laura tidak terlihat main-main dengan ucapannya, Darren bingung Darren kehilangan akal. Ia harus bagaimana kali ini?
Mata Darren mulai di lapisi kaca-kaca di antara maniknya. Dapat Laura yakini jika Darren mengedip buliran itu akan menganak sungai di antara pipinya.
"Kau ingin mengakhiri pernikahan denganku hanya karna aku pernah culun, atau karna aku pernah lumpuh?" Darren tak mampu membendung lagi air matanya. Suaranya bergetar hebat, ia terisak pelan.
"Aku tidak mencintaimu. Maaf jika aku melukaimu." Laura menunduk, ia juga menyembunyikan kedua telapak tangannya di antara baju hangat yang ia kenakan.
"Aku tak mau berpisah darimu Laura, ku mohon." Darren merendahkan dirinya di hadapan Laura.
Darren Tak perduli lagi akan harga dirinya, setidaknya ini yang terakhir untuknya berjuang, seandainya Laura tetap tak menginginkannya ia akan menyerah. Paling tida semalam ia sudah berhasil memiliki istrinya.
"Darren. Kau pria baik dan kaya raya, Pasti di luar sana banyak wanita cantik yang lebih cantik dan lebih pintar dariku. Kau juga seorang pewaris ku yakin wanita akan mengantri untuk mendapatkanmu."
"Apa tidak adakah setitik rasa di hatimu untukku?"
Laura menggeleng pelan. "Maafkan aku Darren."
"Baiklah." ucap Darren pasrah.
"Kau setuju berpisah?" Laura memastikan.
"Kau boleh mencari pria lain di luar sana sesuai keinginanmu. Tapi jika kau menemukannya kau boleh kembali pulang padaku. Aku akan menerimamu dengan tangan terbuka." Goublok memang isi kepala Darren, secinta itukah Darren pada wanita ini.
Laura berdiri tak terima.
"Aku tak akan bisa mencari pria lain selagi kita terikan pernikahan. Aku tak berniat culas Darren, jangankan kau berada di kota yang sama denganku, kau berada jauh di negri orang saja aku mampu menjaga martabatku sebagai istrimu." Sentak Laura sengit. Ia tak habis pikir mengapa Darren sangat ogeb dengan pernikahan mereka.
Benar juga apa yang di katakan Laura. Sekalipun suaminya tiada di sampingnya wanita itu menjaga batasannya sebagai seorang wanita.
"Aku tetap ingin berpisah Darren." Laura melutut di hadapan Darren, gantian wajahnya yang kini mulai memelas.
Laura meraih dompetnya, mengambil satu kartu miliknya. "Di dalam kartu ini ada uangmu yang sempat ku pergunakan Darren. Totalnya sudah sesuai dengan nomilnal yang ku pinjam. Kau tidak perlu bertanya aku mendapatkan uangnya dari mana. Yang jelas aku tak memiliki hutang lagi padamu."
Darren mematung ia tak bisa berkata apapun. Dalam hati hanya bergunam, 'Surga yang ku nikmati semalam ternyata gratis. Dan pemiliknya tidak menyadari itu.'