Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Bersiaplah untuk melihat kehancuran Darren


"Deddy mengapa tidak bilang padaku jika perusahaan Daddy bermasalah?" Laura berkaca-kaca saat bertanya kepada ayahnya.


"Daddy hanya tidak ingin membebanimu, bakhan Daddy tidak mengatakan apapun pada Mommy dan adik-adikmu." Sebegitu besarnya cinta Kenan kepada dirinya juga kepada mommy dan adik-adiknya. Lantas apa Laura bisa egois? Berpisah dengan Darren sama saja dengan menjebloskan Daddynya kepenjara.


"Kapan kita jadi ke pengadilan hari ini atau besok." Kenan mengusap cairan bening yang merenbes membacasi pipinya.


"Laura tidak bisa membiarkan Daddy menderita." Laura terisak. "Jika Daddy di penjara bukan hanya aku yang menderita, mommy juga Liora dan Lion akan lebih menderita. Aku sudah memutuskan untuk membatalkan bercerai dari Darren." Laura menunduk, sekalipun ia harus meregang nyawa di bawah kuasa Darren Laura akan menerimanya, asalkan keluarganya baik-baik saja.


"Sayang, jangan pikirkan apapun kasihani cucu Daddy. Jangan menghubungi Darren atau Regantara." Peringat Kenan. Kenan harus memberikan pelajaran terhadap Darren, mendapatkan putrinya semudah itu tidak akan ada dalam kamusnya.


"Dad,,, apa aku harus menjual pabrikku skin careku? Mungkin bisa sedikit meringankan beban di perusahaan Daddy."


"Jangan sayang, lagi pula usahamu baru berjalan beberapa waktu. Daddy sudah meminta bantuan Om Eldy juga Om Arven." Daddy bangga terhadap putri sulungnya itu, ia tau bagaimana Laura menyayanginya.


"Dad,,"


Laura mengambil dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu, yang mana uang di dalam kartu itu pernah ia hendak berikan kepada Darren namun Darren sudah menyerahkan uang itu untuknya. Lagi pula Laura yakin Darren tak akan memintanya kembali.


"Di sini ada sejumlah uang, pakailah. Tidak banyak tapi mungkin sedikit membantu perusahaan Daddy." Laura meletakan kartu itu di telapak tangan Daddynya.


"Terimakasih sayang." Kenan memeluk putrinya dengan sangat erat juga menghujani begitu banyak kecupan di kening putrinya.


"Dad, aku akan membatalkan gugatan percerainku atau sekedar menundanya, setidaknya sampai anak ini lahir." Saat Kenan hendak menyela ucapannya Laura memegang tangan Daddynya.


"Daddy jangan salah sangka ini semua demi bayiku. Bukan karna Daddy." Laura balik menenangkan ayahnya. Padahal Kenan tau ini semua karna dirinya.


Sekali lagi Laura akan menekan egonya agar semuanya baik-baik saja.


.


"Ini yang harusnya kau pikirkan Darren. Papa sudah mewanti-wanti dirimu agar tidak gegabah Darren." Rega semakin prustasi. Meski ia tau Laura adalah anak yang menyayangi Daddynya. Tapi ia juga mengenal Kenan, Kenan tak akan menempatkan keluarganya dalam ketidak nyamanan.


"Aku khilaf Dad. Aku hanya tak ingin Mama di hina sekalipun oleh istriku sendiri." Darren menunduk.


Rega langsung memanggil istrinya.


"Dhiraaa ..."


"Dhiraaa ..."


Berulang-ulang Rega memanggil nama istrinya.


"Ada apa Pa?" Dhira mendekat dan duduk di samping suaminya.


Rega mengatakan apa yang terjadi dengan sedikit di bumbui kebohongan agar istrinya mau meminta maaf pada Laura.


"Laura akan benar-benar menggugat cerai Darren jika Mama tak meminta maaf padanya dan keluarganya." Rega menatap istrinya yang hanya mrngangkat dagunya dengan angkuh. Terlihat sekali Dhira sangat tidak menyukai Laura.


"Bukannya bagus jika dia ingin bercerai dari Datren? Kita bisa mencarikan wanita baik-baik untuk Darren. Bukan wanita pembangkang yang keras kepala itu." Darren hanya diam menatap Mamanya dengan sorot kecewa, benar kata Daddy Kenan jika Mamanya memang ingin mencarikannya istri baru yang penurut.


"Masalahnya tidak sesederhana itu Dhira. Darren hanya menginginkan Laura untuk menjadi istrinya. Juga Laura yang tengah mengandung, Darren sangat menyayangi calon bayinya." Rega, bingung harus seperti apa lagi memberi pengertian kepada istrinya.


"Ma, Darren mohon, mama mau ya meminta maaf pada Laura. Lagi pula meludahi orang lain adalah tindakan tidak terpuji." Dhira membisu ia tak mau meminta maaf hanya akan menurunkan harga dirinya, apa lagi pada menantunya sendiri.


"Mama tidak mau."


"Jika Mama tidak mau meminta maaf pada Laura bersiaplah untuk melihat kehancuran Darren." Darren beranjak dari sana menuju kamarnya sendiri. Ia butuh meluapkan aparahnya.