Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Pengakuan Sarah


Laura terlihat salah tingkah karna ibu Sarah telah salah paham terhadapnya. Sedangkan pria bernama Arga tampak tak berkedip menatap kearah Laura dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan yang pasti tersirat tatapan penuh kekaguman di sorot mata pria itu.


Umurnya Laura perkirakan tak jauh dari umur Darren. Bisa lebih tua atau lebih muda sekitar dua sampai tiga tahun dari umur Darren.


"Maksudmu apa dengan diriku yang tengah salah paham Nak? Tadi kau jelas mengatakan jika ayah dari bayi yang di kandungmu adalah putraku. Lalu bagian yang mana yang menurutmu salah paham?"


"Aku, aku."


"Kau tidak usah takut padanya Nak, ibu akan pastikan kau mendapatkan ke adilan." Sarah mengira wanita mida yang mengaku hamil dengan putranya tengah ketakukan oleh tatapan Agra yang tak terbaca.


"Bukan. Bukan seperti itu Bu."


"Lalu?"


Laura hanya diam, ia bingung menjelaskannya.


"Kalian harus secepatnya menikah dengan putraku."


"Aku memang sudah menikah dengan putramu."


"Apa!?" Arga terkejut sampai mulutnya menganga. "Kapan kita menikah? Jika kau ingin menikah denganku kita bisa bicara baik-baik jangan membual nuna." Arga berujar lembut karna yang mengaku sudah menikah dengan putra ibunya adalah wanita yang sangat cantik spek bidadari sehingga ia tidak keberatan jika harus di nikahi dengan wanita yang mengaku hamil itu, tapi tidak dengan membual dan mengaku jika mereka tengah menikah.


"Bukan denganmu." Laura menyangkal. "Aku sudah menikah dengan putra ibu Sarah yang lain, lebih dari dua tau." Aku Laura.


"Putraku yang lain."Beo Sarah.


"Ya Bu, aku sudah menikah dengan putramu yang bernama Darren Suhendi. Tidak mungkin kau melupakan nama putramu sendirikan?"


Dalam kurun waktu yang tidak terhitung Sarah menatap lekat seorang wanita muda yang sangat cantik di hadapannya. wanita hamil itu menantunya, istri dari putra kandungnya.


"Kau istri Darren?" Sarah mendekat dan berhenti tepat di hadapan Laura.


"Ya aku istri Darren, istri dari putramu. Dan aku sekarang tengah mengandung cucumu." Laura memperlihatkan foto pernikahannya dan sebuah foto hasil usg, Sarah langsung mengenali fotret putranya yang tengah menikah, Darren yang berada di kursi roda itu benar-benar putranya.


"Putraku Darren." Sarah tak dapat menahan kerinduannya terhadap Darren, airmatanya meluruh bersamaan dengan tubuhnya yang melemas dan terduduk di atas lantai marmer.


"Putraku sudah dewasa dan tampan!" Tapi hati sarah terenyuh saat melihat Darren di kursi roda, foto lebih dari dua tahun itu menunjukan bahwa Darren masih lumpuh.


"Putraku cacat?" Sarah mendongak bertanya seraya menatap tubuh Laura yang masih berdiri di hadapannya.


"Tidak Bu, maksudku Darre sudah sembuh." Laura membuka ponselnya dan menunjukan potret Darren saat berlibur ke bandung beberapa waktu lalu. Terlihat Darren sangat tampan tanpa jejak kecilunan di foto sebelumnya.


"Dia putramu Darren. Dia pria hebat Bu, dia juga selalu merindukanmu."


"Darren merindukanku? Kau tidak sedang membodohiku kan?"


Laura menceritakan segalanya kepada Sarah tentang bagai mana Darren kerap menangis tengah malam tanpa sepengetahuannya.


"Mengapa dia tidak mendatangiku?" Ibu Sarah terisak dengan sangat memilukan, Arga yang bingung hanya bisa memeluk Mamanya yang menangis.


"Mengapa ibu tidak mencarinya? Dan tidak menemuinya lebih dulu. Apa benar ibu tidak menginginkan suamiku?" Laura turut meneteskan air matanya, ia merasa sesak jika kebenaran ibu Darren memang tak menerima suaminya.


"Tidak Nak, tidak. Mama selalu menyayanginya selalu mendoakan kebaikan untuknya. Mama punya alasan tidak menemuinya. Mama memiliki perjanjian dengan Regantara agar tidak menemui Darren kembali, kecuali jika Darren yang menemui Mama. Selama ini Mama pikir Darren sudah bahagia dan melupakan Mama, sehingga Mama tak ingin mengganggu dan mengusiknya." Sarah menerangkan segalanya kepada Laura agar tidak ada lagi salah paham antara mereka.


"Tolong temui Darren Bu, Laura mohon, Darren sangat merindukan Ibu, ia seting melihat dan memperhatikan dari kejauhan tapi saat ia ku suruh menemuimu, Darren hanya tak ingin kecewa seandainya Ibu menolaknya. Darren selalu merasa rendah diri dan tidak di inginkan. Dia bahkan hanya keluar rumah hanya untuk bekerja. Darren sangat tertutup Bu, jika aku tak mengajaknya keluar Darren hanya akan mengurung diri di dalam kamar." Laura turut duduk kala menyampaikan apa saja yang di lalui Darren saat betsamanya, juga tentang awal mula pernikahan mereka.


"Laura terima kasih sudah menjadi istri dari putraku. Aku akan menemuinya hari ini juga." Sarah segera beranjak, ia bersiap ingin menemui putranya, apapun resikonya Sarah siap, saat mengetahui Darren merindukannya Sarah tak memerdulikan apapun lagi.


Sarah mengakui segalanya di hadapan menantunya. Tentang kerinduannya kepada Darren.


Sarah sudah cukup sabar selama ini dengan tidak mengusik Darren. Namun tidak dengan kali ini Sarah akan menghadapi semuanya.


Kring ...


Kring ...


Ponsel Laura berbunyi.


"Bu, Darren menelpon." ujar Laura memanggil Sarah.


"Angkat Nak, Mama ingin mendengar suaranya, selama ini Regantara mengawasi Mama sehingga Mama tidak bisa berbuat banyak pada putra Mama yang malang itu."


Laura mengangkat telepon dan menekan tombol speker.


"Hallo."


"Sayang kau di mana?" Nada suara Darren terdengar khawatir.


"Aku di rumah."


"Di rumah dimana? Aku sekarang di rumah tapi kau tak ada."


"Kau sudah pulang?" Laura terkejut suaminya sudah pulang padahal pukul satu siang.


"Aku ijin pada Papa, aku ingin menemanimu. Aku khawatir karna kau mual tadi pagi."


"Kau di mana aku akan menjemputmu?"


"Kita bertemu di restoran sekalian makan siang, nanti ku kirimi alamatnya."


"Baiklah, hati-hati jaga dirimu dan bayi kita baik-baik." Darren memutus telepon.


Arga sudah tidak ada di sana entah kemana perginya pria itu.


"Sepertinya Darren sangat menyayangimu." Sarah mengusap wajah cantik menantunya.


Laura hanya tersenyum pelan.


"Mama tak sabar ingin menemuinya." Sarah begotu senang dang menggandeng tangan Laura. "Hati-hati saat menuruni tangga, ada cucu Mama di sini." Sarah mengusap pelan perut menantunya.


"Maaf jika Darren selalu merepotkanmu."


"Tidak Bu, Darren sama sekali tak merepotkanku. Justru aku yang selalu merepotkannya."