
"Kau ingin kembali pada Daniel ya?"
"Tidak, aku akan menikahi pria kaya raya yang tampan, supaya hidupku terjamin sampai akhir hayat."
"Aku juga kaya."
"Tapi kau culun, dan dekil. Aku ingin suami tampan."
"Aku juga tampan. Kau lihat!" Darren melepas kaca mata tebalnya dan mendekat ke arah Laura. Memaksa gadis itu untuk menatap kearahnya. Laura terhanyut pada bola mata indah berwarna coklat muda itu, pesonanya seakan menenggelamkan siapa saja yang menatap manik itu.
Darren semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Laura ada hal lain yang membuat Darren tertarik untuk memajukan wajahnya di hadapan gadis cantik di hadapaanya. Ya Darren akui ia tak mampu berpaling dari gadis cantik di hadapannya itu pancarannya tak dapat Darren tepis begitu saja.
Jarak keduanya semakin mendekat baik Laura maupun Darren sama-sama bisa merasakan hembusan nafas mereka masing-masing. Terlihat sangat intim juga dengan situasi yang sangat mendukung, lantas membuat Darren hampir lupa situasi, sampai suara deheman mengejutkan keduanya. Dan Lauralah yang berhasil menarik diri lebih dulu.
"Kalian mau apa?" Lion menyipitkan mata mebatap keduanya bergantian dengan sorot mata tak menilai dan menebak.
"A-a-apa? Kami tak melakukan apapun! Sungguh, aku tidak berbohong" Laura tergagap sekaligus menyangkal apa yang mereka hendak lakukan barusan, yang justru membuat adiknya menatap penuh curiga pasangan pengatin baru itu.
"Lio, kalian terutama kau, terlihat seperti sepasang pasangan mesum dan tertangkap basah oleh warga kampung." niat hati Lion ingin menggoda kakak cantiknya justru ia malah di maki oleh kakaknya.
Ck Laura sangat menyebalkan jika berada dalam mode sulungnya. Lihatlah wajah cantiknya, semakin bersinar di keadaan apapun. Bukan Lion terlalu memuji karna Laura adalah kakaknya, tapi memang Laura memiliki daya tarik tersendiri di mata semua orang. Selain cantik dia juga gemar menebarkan hormon peremonnya. Hormon peremon semacam kemampuan menebarkan aura menggoda serta mempesona. Lion akui Laura termasuk salah satu gadis tercantik yang pernah ia temui, maka jika Darren tidak terperangkap dengan kecantikan Laura benar-benar kebangetan.
"Hentikan celotehan tak pentingmu Lion. Masuk, dan bantu Daddy mencari jalan keluarnya, sepeetinya Liora tak ingin aku berada di sana." ucap Laura sendu, ada kegetiran di suaranya yang bergetar.
Bukan hanya Kenan yang merasa gagal. Laurapun demikian, Laura merasa kakak terburuk di muka bumi, ia sangat menyalahkan dirinya saat hal buruk terjadi pada adiknya. Harusnya sebagai Kakak Laura bisa melindungi Liora agar tidak di rusak oleh pria tua itu, dia adalah kakak yang buruk. Pertahannannya semakin runtuh saat Lion menyadari nada suaranya yang parau.
"Lau, are you okay?"
"Lion."
Laura memeluk erat tubuh saudaranya, meskipun sejak tadi Laura berada di dekat Darren tapi gadis itu terlihat baik baik saja, berbeda saat Laura di hadapkan dengan Lion gadis itu terlihat sangat rapuh dan tanpa arah.
Darren menyimpulkan jika Laura adalah seorang gadis, yang terlihat kuat dan berani hanya untuk melindungi diri dan adik-adiknya, kodratnya sebagai wanita tak bisa ia sembunyikan. Laura masih membutuhkan pundak seseorang bersandar dan menumpahkan kegelisahannya. Tapi gadis itu selalu berhasil memankan peran menjadi wanita tanpa hati di hadapan semua temannya.
"Lion, aku adalah kakak yang buruk, aku terlibat dari kehancuran adikku sendiri, aku pasti di salahkan, aku takut Liora, Mommy dan Daddy semakin membenciku." Satu lagi, Laura takut di benci dan di salahkan Darren mencoba membaca dan memahami karakter Laura.
"Hey, kau kakak yang baik untuk aku dan Lio, tidak mungkin Mom and Dad menyalahkan apalagi sampai membencimu. Semua akan baik-baik saja." Lion mengurai pelukan, di samping ia harus menemui Daddynya ia juga semakin di buat gentayangan dengan kebenarannya.
"Apa kau hanya nyaman jika menangis di pelukan Lion?" tiba-tiba Darren membelah keheningan di tengah Laura yang tengah berusaha meredam tangisannya.
"Hanya di pelukan Daddy dan Lion aku merasa lebih baik, selain itu tidak berani mencobanya." Laura menggosok hidungnya yang memerah sejak tadi.
"Jika kau mau, aku bisa memelukmu. Kau bisa menumpahkan segala rasa sesak di hatimu padaku agar kau merasa lebih baik." ujar Darren ringan, ia tak menyadari jika Laura sedikit menyalahkan dirinya jika Darren dan keluarganya tidak memaksakan mereka menikah, hal semacam ini tak akan terjadi.
"Lebih baik bagai mana maksudmu? Seandainya jariku terluka karna belati, lalu menurutmu jika aku menggenggam belati itu aku akan sembuh Darren?" Laura menghela ucapannya, sedikit memberikan jeda di sana. "Yang ada aku semakin dalam terluka Darren, seandainya bisa aku ingin melepas belati itu dan mengobati lukaku, tapi sepertinya semesta belum berencana demikian."
Darren mengerti maksud dari ucapan gadis itu, ia tau Lau sangat tertekan dan terluka dengan pernikahan, ini yang dia mau. Ini yan Darren inginkan sejak dulu, membuat Laura menderita, membuat Laura tersiksa, tapi nyatanya hatinya tak sekasar itu ia turut tak nyaman dengan doanya di masa lalu yang menginginkan Laura terpuruk dan hancur.
"Aku tidak pernah sedekat ini dengan orang asing." Laura menjauhkan wajahnya saat jemari panjang Darren mengusap permukaan pipinya yang basah.
"Orang asing?" Laura hanya menganggapnya sebatas orang asing?
Laura hanya diam tak merespon, ia salah langkah dia pikir dengan cara membuly orang lain ia dan adik-adiknya akan terhindar dari korban buly, seperti yang di alami oleh mommy mereka, sehingga Laura membuly orang lain, yang justru menciptakan bencana lebih besar.
"Kita sudah menikah Ra, jangan menyinggungku." Sahut Darren kembali.
"Menikah kita berbeda, kita hanya bersetatus sebagai Tuan dan pelayan. Dimana kau adalah Tuanku di rumah dan aku adalah pelayanmu." itulah yang Laura rasakan selama bersama Darren pria itu memperlakukannya layaknya pelayan dan ibumertuanya juga mengatakan hal demikian di waktu itu.
"Laura!" Darren menatap tajamnya.
"Kenapa? Itu kebenarannya. Akan lebih baik kita membuat kontrak hitam di atas putih."
"Laura, kau menganggap dirimu sebagai pelaya? Mana ada seorang pelayan tidur satu ranjang dengan tuannya sendiri, tidak ada seorang pelayan yang mengenakan toilet yang sama dengan Tuannya, tidak pula seorang majikan memberikan pasilitas juga barang yang berkualitas terbaik. Kau kurang bersyukur Laura!" Darren mengguncang pelan bahu Laura.
"Lalu aku harus menganggapmu apa? Malaikat penjaga neraka? Karna rumah itu neraka bagiku Darren, atau aku harus menganggapmu malaikat maut yang siap siaga mencabut nyawaku kapan saja." Laura tak kalah tajam menatap pria lumpuh di hadapannya itu.
"Bicaramu semakin pintar, mmengetahui tugas-tugas malaikat segala. Ku pikir iblis tidak sepandai itu." Kelakar Darren kemudian.
Laura berbalik mengalihkan tatapan, sebelum dua orang kurir penghantar makan tiba di sana mengantarkan pesanan Darren.
"Makan dulu, agar kau mendapat energi tambahan untuk marah-marah kembali." Darren menyuruh satu kurir untuk memasuki ruangan ayah mertua dan keluarga lainnya berada.