
Darren mengedarkan pandangan mencari sosok istrinya yang entah pergi kemana. Dengan masih menggosok rambutnya yang setengah basah Darren mengambil pakaian yang sudah di sediakan Laura. Pakaian miliknya juga sepertinya sudah di susun rapi kedalam almari.
Sebersit senyuman Darren sunggingkan. Sekeras kepala Laura wanita itu ternyata perduli terhadapnya meskipun mulutnya kadang-kadang perlu di bungkam.
Darren kembali terduduk di atas ranjang. Ia sebenarnya lapar belum makan malam tapi jika harus turun dan meminta makanan ia malu, terlebih tadi ia berpas-pasan dengan om Eldy menantu Daddy Kenan yang lain. Sudah di pastikan Daniel juga ada di bawah.
"Apa aku memesan makan saja." Darren mengenakan pakaiannya.
Ceklek ...
Laura memasuki kamar dengan dua porsi makanan di nampannya juga terdapat buah potong di nampan itu.
"Makan dulu Darren!" Laura meletakan nampannya di meja dekat kursi sofa.
"Kau, harusnya tidak usah cape-cape seperti ini. Aku bisa mengambil makan sendiri." sangkal Darren.
"Aku hanya tak ingin kau kelaparan di rumahku. Aku tau bagaimana rasanya menahan lapar di rumah orang." sindir Laura pedas.
"Apa maksudmu? Apa kau pernah kelaparan di rumahku?" Darren mencekal tangan Laura yang tengah menyiapkan makanan untuk mereka.
Diamnya Laura cukup membuat Darren terkesiap. Itu artinya Ia telah abai terhadap istrinya. "Maafkan aku. Dan terimakasih sudah perduli terhadapku." Darren menyampirkan helaian rambut Laura ke belakang telinya iatrinya.
"Jangan besar kepala! Aku mengambillan makanan untukmu hanya agar kau tidak kembali berdebat dengan Daniel di meja makan." Ketus Laura.
"Apapun itu. Kau sudah mengurusku dengan baik."
"Cepat makan!" Laura menyodorkan makanan milik Darren, dan langsung di sambut oleh pria itu dengan bahagia.
Darren terus mencuri-curi pandang ke arah istri galaknya. Laura tampak lahap menyantap makanannya.
Tak ingin istrinya kelelahan Darren membereskan bekas makan mereka. Darren juga turun ke bawah untuk menaruh bekas makanannya juga istrinya.
Terlihat Kenan, Om Eldi juga Daniel di ruang utama tengah membicarakan bisnis. Darren hanya menyapa Mertua dan iparnya sekilas, seterusnya Darren melanjutkan langkahnya ia tak pandai berbasa-basi.
"Kau sedang apa?"
Liora datang menghamiri Darren yang tengah membaca aturan pakai sekotak susu hamil.
"Aku ingin membuatkan Laura susu." Darren mulai menuangkan beberapa sendok takar kedalam gelas.
"Laura beruntung memilikimu. Yang perhatian." Darren hanya tersenyum samar, hatinya memberenggut, sayang sekali Laura tak menganggapnya demikian.
"Campurkan Es batu Darren! Laura akan mual jika tidak memakai es." Liora memberi tahu kakak iparnya.
"Terimakasih."
"Darren sebenarnya Laura adalah kakak yang paling baik, meski ia seorang wanita, di masa lalu dia sangat melindungiku dan Lion kecil. Dia pemberani juga tak pernah menampakan kelemahannya di hadapanku dan Lion. Pernah sekali Laura masuk rumah sakit karna tindakan musuh Lion sebelum ia tak sadarkan diri Laura menghadar teman-teman Lion yang nakal hingga babak belur karna sudah membuatku dan Lion menangis. Dia wanita tangguh Darren, sebenarnya dia tidak akan melukai orang lain jika tidak tak mencari gara-gara dengannya lebih dulu." Liora berkaca-kaca saat menceritakan masa kecil mereka.
Darren terdiam Lairanya memang unik, dia galak juga aneh.
"Aku permisi Lio. Sepertinya Laura sudah menungguku." Kelakar Darren. Ia tersenyum geli karna sudah berbohong mustahil Laura menunggunya.
Saat kembali melintasi ruang utama iparnya memanggil namanya membuat Darren menghentikan langkahnya.
"Darren. Bergabunglah sini, kita bisa berbincang sebentar." Eldy mengajak Darren untuk bergabung dengan mereka.
"Terimakasih atas tawarannya Om, aku harus mengantar susu hamil dulu untuk Laura." Darren mengangkat segelas susu coklat di genggamannya.
"Baiklah. Jika belum mengantuk turunlah." Ajak Om Eldy, pria itu tengah menikmati tembakau di antara kedua jarinya. Kenan sendiri tampak sibuk dengan berkas di tangannya.
Saat memasuki kamar Darren melihat Laura yang lagi-lagi tengah di depan cermin. Hobi sekali wanita itu memandang wajah cantiknya sendiri, kali ini Laura tengah memakai serum di wajah cantiknya.
Tak...
Darren meletakan gelas susu di hadapan istrinya, kemudian ia mengambil serum itu dan membaca kandungan yang terdapat di serum itu, ia tak ingin mengambil resiko jika terdapat kandungan yang membahayakan bayinya.
Laura mengerti kekhawatiran Darren. "Kau tenang saja kandungannya aman untuk bumil dan busui." Darren menaruh kembali serum milik istrinya ketempatnya semula.
"Ra, di minum susunya."
Laura meraih susunya dari genggaman tangan Darren dan meminumnya sekaligus, hingga bunyi tegukannya terdengar di telinga Darren.
"Terimakasih." Laura menyerahkan gelas yang tinggal menyisakan dua butir es batu kecil ke tangan Darren.
"Sama-sama."
"Jika kau ingin bergabung dengan Daddy dan Om Eldy tidak papa Darren." Laura tadi sempat mendengar ajakan suami adiknya mengajak Darren untuk bergabung, saat melintas dari kamar Mommynya.
"Tidak Ra, aku tidak terlalu senang berkumpul jika tidak menghasilkan sesuatu. Lebih baik aku di sini menikmati kecantikan istriku." Darren menyeringai dan duduk di atas ranjang istrinya, tak lama ia beranjak kembali.
"Mau kemana?"
"Kekamar mandi mau gosok gigi, cuci tangan, cuci kaki, sekalian cuci senjata barangkali dedek bayi merindukan Papanya, jadi harus seteril jika ingin nengokin dedek bayi."
"Darrennn!"
Laura berteriak sesal sedangkan Darren berlari kekamar mandi dengan tawa nyaringnya.
Baru Laura sadari Darren terlihat memesona jika tertawa selepas itu. Bisa gawat jika wanita di luar sana menyadari ketampanan suaminya.
"Gawat, jangan sampai Darren memamerkan tawanya."