
"Apa? Liora akan menikah nanti malam?" Darren tersentak mendengarnya, raut wajahnya semakin tak terbaca. Ya sepertinya Darren memang terlihat seperti pria patah hati.
"Ya, Darren." Laura memutar matanya malas.
"Dengan Om Eldy?" tanya kembali.
"Iya, kau pikir dengan siapa dengan putranya." Sial Laura keceplosan hingga Darren menyipitkan mata meminta enjelasan. "Emhh maksudku, tentu saja dengan Om Eldy, bayi itu bayi Om Eldy." Laura kembali menjalankan mobilnya saat rambu jalan menunjukan lampu hijau.
"Apa Daniel juga akan ada di sana?"
"Aku tidak tau Darren! Aku tidak menghubunginya."
"Lalu apa yang kau bicarakan dengan Daniel di taman?" tanya Darren penuh selidik, Ya Dewa suami lumpuh Laura mengetahui jika Laura bertemu dengan Darren di taman pantas saja Pria itu sangat ketus padanya.
"Bukan hal penting."
"Ck, palingan kalian bernostalgia, kali ini kau lolos dan ku maafkan, tapi lain kali jika kau menemui atau menghubungi pria manapun tanpa ijinku, Habis Kau!" Darren menunjuk wajah Laura, denga ancaman yang terdengar menakutkan sampai Laura kesulitan menelan salivanya.
"Me-memangnya apa yang akan kau lakukan?" Laura bertanya gugup sampai "Hyiik ... Hyiik ..." sampai gadis itu cegukan menyaksikan tatapan Darren yang mengintimidasinya.
"Tentu saja aku akan berbuat sesuatu yang menguntungkan untukku." Darren menyeringai penuh maksud sampai Laura mengusap tengkuknya beberapa kali.
Dengan sigap Darren meraih botol minum di atas dashboar mobilnya dan membukanya.
"Minumlah lebih dulu, jangan sampai ada kecelakan karna kau cegukan." Laura meraih minum dan mengendalikan setir nya menggunakan satu tangannya saja.
Mobil yang di kendarai Laura sudah tiba di halaman rumah Laura.
"Seperti katamu kita akan menginap di rumah Daddyku malam ini."
"Kau ingin menjadi wasit Liora dan Om Eldy malam pertama?" Darren mencibir.
"Terserah."
Rumah kedua orang tua Laura nampak sepi entah kemana perginya semua orang, padahal beberapa jam lagi acara pernikahan akan di langsungkan di rumah itu.
Laura membawa Darren ke ruang makan, ia harus memberikan Darren makan serta obatnya sebelum Laura mengajak Darren untuk istirahat.
Dengan cekatan Laura mengambil makanan dan bersiap untuk menyuapi suaminya.
"Aku tidak mau makan." ucap Darren ketus ia memalingkan wajah yang di mana cukup membuat amarah Laura bangkit.
"Bisa tidak, kau tidak membuatku susah Darren, jangan sampai saat aku tengah repot kau malah minta di siuapi olehku." Laura membentak Darren dan menaruh kasar piring makanannya sampai dentingan itu terdengar nyaring. Hal itu di saksikan langsung oleh Kenan yang sejak tadi mengintip di balik dinding.
Ada rasa iba saat melihat perlakuan putrinya pada Darren, tapi Darren hanya diam saja tidak menyela atau membantah. Kenan sampai tak habis pikir bukannya Darren ingin membalas dendam tapi mengapa kesannya malah Darren yang teraniyaya.
Gadis itu pergi meninggalkan Darren yang hanya terdiam di kursi rodanya.
"Nasibku memang selalu menyedihkan." ucapnya pelan.
Kenan menghampiri menantunya yang hanya menunduk menatap kakinya.
"Jika ku tebak justru kau terkurung dengan jeruji yang kau buat sendiri." Kenan menepuk bahu menantunya.
"Daddy."
"Laura adalah putri kesayanganku. Sejak kecil dia memang keras kepala, tapi jika kau melembutkan sikaf dan prilakumu sedikit dia adalah orang yang penyayang. Sentuh hatinya pelan-pelan kau akan menjumpai sosok lain dalam dirinya." Kenan kembali berlalu, ia hendak menemui putri keduanya Liora di taman belakang.
Laura sendiri tak tega meninggalkan Darren yang hanya diam dan sesekali menatap kakinya yang terlihat kaku. Gadis itu menghembuskan nafas lelahnya kembali, ia di buat kembali mengalah saat Darren tak berkutik rasa bersalah akan kembali mencekiknya.
"Kau ingin makan apa?" akhirnya Laura mengalah, ia menurunkan egonya dan bertanya sepelan mungkin.
"Aku ingin makan pasta." cicit Darren pelan.
"Baiklah, nanti setelah kau istirahan kau akan makan pasta, tapi sekarang kau harus memakan nasi dan meminum obatmu, ayolah Daren jangan membuatku semakin pusing. Mengertilah sedikit." Laura kehabisan cara untuk membujuk Darren, dengan terpaksa Darren mengangguk.
Tak ingin terlalu banyak berdrama akhirnya Laura mengikuti keinginan Darren untuk menyuapi pria itu setelah sebelumnya mencuci tangan.
"Buka mulutmu."
Darren dengan patuh membuka mulutnya dan makan dengan semangat.
"Aku merasa seperti seorang balita yang di suapi ibunya." Darren terkekeh di sela kunyahannya.
"Ya, kau memang bayi kawak menjengkelkan, banyak maunya pula." Dengkus Laura kesal.
"Ternyata seperti ini rasanya di suapi dengan tangan." ucapnya kemudian, Laura sampai di buat memaku sesaaat.
"Memangnya kau tak pernah di suapi dengan tangan?"
Darren menggeleng pelan, "Aku adalah anak yang terlahir dari keluarga yang tak saling mencintai, seingatku aku sudah nemanggil Mama Dhira sebagai ibuku. Entah lupa atau tak ingat selama itu aku tidak pernah makan dari tangannya ataupun dari tangan Papa, mungkin mereka sibuk." Darren membuang pandang saat bola matanya mulai memanas serta di lapisi cairan bening yang siap tumpah kapan saja.
Laura berpikir ternyata tidak setiap anak seberuntung dirinya yang merasa di kelilingi oleh cinta dari daddy dan mommynya serta adik-adiknya. Darren adalah seorang pria kesepian.
"Sejak dahulu, aku memang kehadiranku selalu tidak di inginkan." Laura melihat sebulir air mata lolos di sudut mata Darren yang dengan cepat di seka oleh pria itu.
"Ck, jangan curhat! Aku bukan pendengar yang baik, habiskan makananmu dan minum obatmu."
"Ya aku tau." Darren kembali melanjutkan makan nya.
"Ra, untuk beberapa hari atau bahkan minggu aku akan pergi ke singapure, tapi entah kapan aku akan berangkat, aku menunggu jadwal papa kosong, jika kau tak nyaman berada di rumah saat aku tak ada, kau boleh tinggal di sini untuk beberapa waktu sampai urusanku selesai." Darren meraih salah satu kartu miliknya tanpa limit, dan menyerahkannya pada Laura.
"Gunakan kartu ini untuk keperluanmu. Pinnya tanggal pernikahan kita."
"Baiklah." Laura mengambil karku itu dan meletakannya sementara di atas meja makan, beserta piring yang sudah tak terdapat sisa makanan di dalamnya kecuali satu tulang paha ayam.
"Kau tak ingin mengucapkan terimakasih pada suamimu." Darren memajukan kursi rodanya ke arah Laura, hingga jaraknya semakin dekat.
Laura tak ingin terlalu banyak berdebat ia mengantuk dan ingin cepat-cepat beristirahat.
"Terimakasih." ucapnya sedikit terpaksa.
"Bukan seperti itu caranya berterimakasih yang benar."
"Lalu seperti apa? Apa begitu hobi bagimu membuatku kes-"
Kalimat Laura selanjutnya tenggelam saat Darren membenamkan bibirnya di bibir seksi istrinya.
Darren terus memagut bibir Laura dengan satu tangannya yang menekan tengkuk gadis itu agar menciptakan ciuman yang lebih dalam lagi.
"Dasar pencuri ciuman."
"Hey aku tidak mencurinya. Kau bahkan menikmati ciumanku. Kita melepas tautan di menit ketiga." Darren tersenyum puas, mengusap sisa-sisa saliva yang tersisa di bibir istrinya yang membengkak.
"Astaga Darren kau menghitung durasinya?" Laura tak habis pikir mengapa ada pria semenyebalkan daren di dunia ini.
"Memang apa lagi yang bisa ku lakukan?" Darren semakin gencar menggoda Laura.
"Kau pria paling menyebalkan, tidak berguna, manulatif, licik dan mesum, sungguh nasibku benar-benar malang hohohoho ..."
Bukannya tersinggung dengan makian Laura justru Darren malah semakin tergelak kencang puas hati bisa membuat Laura marah, sepertinya ia akan merindukan iblis betinanya saat jauh nanti.
"Jangan marah-marah terus. Mana obatku? Aku tak sabar ingin cepat sembuh dan menggagahimu. Aku penasaran bagai mana suara desahanmu saat di landa kenikmatan, apa aka sekeras saat kau memakiku?"
Laura terus mencubiti perut keras Darren sampai pria lumpuh itu tertawa terpingkal-pingkal
"Mati saja kau Darren!"