Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Jika berani cium orangnya


Darren pulang kemana tempat istrinya berada, hatinya cukup sesak saat menyadari kebahagiaan setiap orang, sedangkan dirinya masih terbelenggu dengan kata seandainya.


"Pulang juga kau!" Laura berkata sengit juga dengan tatapan mata yang mematikan dari pantulan cermin di kamarnya. Laura tengah menyisir rambutnya yang setengah kering.


Darren hanya tersenyum simpul sebagai tanggapan. Pria itu membuka sepatunya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.


Sejenak ia memejamkan mata untuk menikmati rasa sesak yang melingkupinya. Ia tak seberani itu untuk menghampiri dan memeluk ibunya, sehingga ia hanya mampu menatap ibunya dari kejauhan.


"Darren buka kaus kakinya! Nanti tempat tidurnya kotor." Laura mendekat dan turut duduk di atas ranjang. Ia perhatikan wajah Darren dengan seksama.


Wajah tampan itu di penuhi dengan beberapa memar, namun keningnya yang mengkerut Laura menyadari jika Darren dalam keadaan kacau.


Laura meraih kedua kaki Darren dan melepas kedua kaus kakinya kemudian ia taruh ke keranjang pakaian kotor. Darren tak bergeming ia terlalu larut dengan pikirannya sendiri.


"Darren are you okay?" Laura mendekat dan mengelus jepala Darren pelan. Jika di perhatikan terdapat cairan bening yang merembes di kedua sudut matanya. Laura tersentak. Darren menangis?


Menangis dalam diam Laura tau rasanya seperti apa. Laura semakin mendekat, sekeras-kerasnya dirinya ia tak tega melihar Darren seperti itu hatinya turut merasa nyeri.


"Hey ada apa?" Laura mengusap cairan bening yang meleleh membasahi sampai ke telinga pria itu.


"Apa aku terlalu keras menghukummu?" bukannya menjawab Darren justru melesakkan kepalanya ke pangkuan Laura menyembunyikan wajahnya ke perut istrinya.


"Ada apa?" Laura mengusap lembut rambut Darren juga bahu pria itu yang bergetar membuat Laura tak tega.


Darren mendongak menatap Laura yang juga menatap ke arahnya.


"Raaa ..." panggil Darren lirih.


"Apa aku buruk rupa? Atau terlihat seperti anak pembawa sial?" Darren menatap sayu wajah Laura.


"Sttt, jangan berkata seperti itu. Nanti bayimu mendengarnya." Laura mencoba membujuk Darren agar tak melanjutkan kalimatnya.


"Maafkan Papa ... Cup!" Darren mengecup perut rata istrinya.


"Barusan aku habis menemui Mama Sarah, aku melihatnya dari kejauhan. Aku tak berani mendekat, aku hanya bisa memperhatikannya. Mama Sarah dan keluarga barunya sangat bahagia sepertinya benar apa yang Papa dan Mama Dhira katakan. Aku memang tidak di inginkan olehnya. Mengapa nasibku seburuk ini?" Darren kembali menenggelamkan wajahnya ke perut istrinya.


"Kau tidak bisa mempercayai sepenuhnya perkataan Mama dan Papamu, Darren mungkin saja Mama Sarah memiliki alasan mengapa tidak menemuimu selama ini." Laura mencoba menenangkan Darren, satu hal yang Laura ketahui Darren tidak memiliki kepercayaan diri.


"Lalu apa alasan Mama sarah tak menemuiku selama puluhan tahun?" Darren kembali mendongak kali ini memamerkan jakunnya yang seksi, hampir saja Laura kelepasan untuk menyentuh jakun itu.


"Mau menemuinya?" tawar Laura. Darren hanya menggeleng pelan.


"Aku bersedia menemanimu."


"Aku hanya tidak ingin mendapati diriku semakin kecewa kala Mama Sarah benar-benar tidak menginginkanku." Darren terduduk dan menyugar surai hitamnya.


"Sudah menjadi nasibku. Tidak ada yang menginginkanku." Laura menyadari arah pembicaraan Darren yang seakan menyindirnya.


"Hey jangan berkata seperti itu. Dia menginginkanmu. Dia juga membutuhkanmu!" Laura membawa jemari Darren ke arah perut ratanya.


Darren tersenyum hangat dan mengusap lembut perut istrinya. "Seandainya mamamu juga menginginkan Papa." Darren menatap Laura yang kini salah tingkah di hadapannya.


"Sayang siapkan bajuku. Aku ingin mandi." Darren beranjak dan menunjuk kopernya.


"Kau kan punya tangan, siapkan saja sendiri."


"Sesekali menyenangkan suami Ra."


Meski menggerutu Laura tetap menyiapkan pakaian untuk Darren. Dasarnya Darren iseng ia malah melempar baju bekas pakai ke wajah Laura.


"Dasar jorok bukannya di taruh di keranjang kotor." Laura mendengus kesal, tapi ia menghirup dalam-dalam baju kotor suaminya. Aromanya maskulin dan membuatnya candu.


"Jangan cium bajunya! Jika berani sini cium orangnya." Rupanya Darren belum masuk ke kamar mandi, ia malah mendekat dengan memamerkan otot liatnya.


"Silahkan. Kau mau cium yang mana? Aku membebaskannya." Darren merentankan tanyannya.