
Kedua Orang tua Laura masuk juga dengan kedua mertuanya.
Mommy Fana lah yang pertama kali menyadari putrinya terlihat ketakutan juga dengan keringan sebiji jagung di keningnya.
"Sayang ada apa?" Fana mendekat dan memeluk putrinya.
"A-aku ingin pulang bersama kalian." Laura merasa takut, menurutnya ia berada di posisi terancam jika harus bersama dengan Darren yang berubah dalam sifat dalam hitungan menit.
Kenan dan semua orang diam.
Hanya Darren yang terlihat mendengus marah.
"Kau akan pulang ke rumah kita. Kau sendiri yang meminta untuk tinggal berdua, aku tak ingin pindah lagi." Darren menyeringai, sedangkan Laura malah bertambah erat memeluk tubuh ibunya.
"Apa yang kau lakukan kepada putriku?" Fana meyakini jika putrinya tengah ketakutan.
"Aku tidak melakukan apapun pada istriku Mommy mertua." Ada kekehan kecil di ujung kalimatnya.
"Iyakan sayang aku tak melakukan apapun?"
Laura bungkam matanya menatap Darren yang tak bergeming di tampatnya.
"Oh ya Dad, ku dengar saham perusahaanmu anjlok drastis. Ku rasa perusahaanmu memerlukan infestor." Laura mengerti Darren berkata demikian suaminya secara tidak langsung tengah mengancam dirinya agar tetap patuh terhadap kemauan Darren.
Kenan menyaut seperlunya. "Bukan masalah besar itu kerap kali terjadi dalm bisnis."
"Oh, begitu. Mungkin aku belum terlalu mengerti cara mainnya Dad."
"Sayang kau kenapa?" Fana memegang jemari putrinya yang terasa dingin.
"Ti-tidak Mom, aku hanya hanya syok saja saat ini. Aku kaget karna tiba-tiba hamil." Laura menunduk menghindari tatapan Mommynya jika ia tidak menghindari tatap itu maka mommynya akan mengetahui jika dirinya tengah berbohong.
Laura mau tak mau harus menginap di rumah sakit. Daddy dan Mommynya harus pulang karna Liora dan putranya tengah berada di rumah sepertinya Liora dan sang suami memang kembali berdebat sehingga Liora akan kembali menginap di rumah orang tuanya.
Darren membiarkan kedua mertuanya pulang, pesta yang hendak di laksanakan di rumah Regantara juga terpaksa di batalkan, mengingat Darren harus menemani sang istri di rumah sakit.
Darren tengah mandi, sedangkan Papa Rega tengah menerima telepon di luar ruangan. Yang menemani Laura hanya Nadhira saja, Mama mertua Laura masih terlihat tidak menyukainya.
"Saat anak itu lahir aku akan melakukan tes DNA, untuk memastikan anak itu darah daging putraku atau bukan." Mama Dhira berkata sinis. Ingin sekali Laura menimpali ucapan mertuanya itu, malahan Laura berharap jika bayi di perutnya adalah anak orang lain agar Darren tidak selalu memasungnya dalam pernikahan yang tidak ia inginkan.
Laura sangat marah jika ada orang yang mengatakan tinggal menjalani saja lagi pula Darren kaya raya juga tampan. Sungguh orang yang berkata seperti itu tidak mengerti, bagaimana rasanya menjalani hidup bersama seseorang yang tidak kita cintai. Di kekang juga terus di paksa untuk menerima pernikahan itu.
"Aku curiga! Kau sengaja menjebak Darren agar mendapat keturunan, atau janin itu memang milik orang lain dan kau sengaja mengatakan jika janin itu milik putraku demi tujuanmu sendiri." Nadhira masih belum bisa menerima Laura sebagai menantunya karna di masa lalu Lauralah yang menyebabkan putranya cacat.
"Terserah nyonya mau berkata seperti apa. Aku berharap Tuhan selalu melindungiku dari orang-orang sepertimu."
Cuihh ...
"Sok suci sekali dirimu membawa-bawa nama tuhan, jangan lupakan kau seorang iblis Lauraaa." Mama Dhira meludahi wajah Laura.
Sakit!!!
Sungguh ini sangat sakit dari apapun. Di ludahi adalah hal paling menyakitkan menurut Laura, lebih baik Laura di tanpar atau di tendang sekalipun dari pada di ludahi, ini sakit, sekaligus terhina. Sungguh Laura ingin menangis kali ini, hormon kehamilannya semakin membuatnya lebih sensitif.
Tangan Laura terulur meraih tissue basah untuk membersihkan wajahnya. Seandainya saja ia mengadu pada Daddy Kenan, pasti Daddynya itu akan membawanya pulang tapi ini bukan hal tepat keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Kedua adiknya sedang mendapat masalah juga berimbas pada usaha mommy dan daddynya.
Seandainya saja Nadhira tidak lebih tua darinya ia sudah menampar dan mencakar wajah mertuanya, namun ia masih memperdulikan tata krama.
Laura benar-benar tak bisa menahan emosinya, mertuanya sudah meludahi dan menghinanya, dan hal yang paling tak termaafkan adalah orang tua yang Laura sayangi di rendahkan.
"Baru ku ketahui selain berbisa mulut anda juga sangat busuk. Pantas saja Tuhan tak memberikan anak terhadapmu kau tak lebih dari sekedar wanita ular."
"Lauraaaa!!!"
Terdengar teriakan dari arah kamar mandi, ternyata Darren lah pelakunya. Pria itu berjalan dengan langkah panjang dan seketika.
Plakk ...
Untuk pertama kalinya Darren melangkan tamparan terhadap makhluk. Tadinya Darren seorang yang penyayang bahkan ia tak akan tega menyakiti binatang sekalipun. Namun saat ada orang yang mengusik ia dan ibunya Darren akan menjadi pelindung di garda terdepan.
Laura terpelanting dan langsung nyungsep di atas bantal pasien miliknya. Kerasnya tanparan membuat Laura enggan untuk kembali terbangun.
Wanita hamil itu berdiam diri di bantalnya dengan sakit yang luar biasa. Percuma seandainya Laura membela diri Darren tak akan mempercayainya apa lagi meminta maaf padanya.
"Mulutmu benar-benar tajam Laura. Haruskah aku memotong lidahmu agar kau tidak lagi menyakiti orang lain." Laura hanya diam di tempatnya, ia mulai meringkuk dengan tangan menutupi wajahnya.
Seandainya bisa Laura ingin membela diri jika ibu mertuanya yang memulai lebih dulu dengan cara menghinanya juga meludahinya. Namun Laura tak memiliki bukti, tak ada kamera di ruangan itu juga bekas ludah di wajahnya tak akan bisa di visum.
Laura lebih memilih bungkam dari pada membela dirinya.
Mama Nadhira juga terkesiap kala Darren tiba-tiba muncul di hadapannya dan menampar wajah Laura. Dhira pikir Laura sudah mengambil Darren darinya, nyatanya putranya masih membela dan menyayanginya.
"Tak bisakah kau menghormatiibuku?" Darren membentak.
Laura masih bungkam dengan tangan yang terkepal erat. Indra perasanya merasakan rasa asin di ujung mulutnya, Laura tau ujung bibirnya telah robek.
"Sudah Darren, Mama tidak papa." Laura menenangkan putranya, ia juga tak tega sebenarnya melihat Laura yang bahkan tidak bangun atau sekedar membela diri.
"Mama terlalu baik. Maafkan Darren, Darren tak bisa mendidik Laura dengan benar." Darren terlihat.
Kala Darren sedang sibuk dengan Mamanya tangan Laura terulur meraih ponselnya dan mengirimi pesan kepada asisten ayahnya untuk menjemputnya di rumah sakit.
"Om Arven tolong jemput Laura!" Laura juga mengirimi alamat rumah sakit.
Beberapa waktu sudah berlalu, Papa Rega sudah kembali dengan beberapa makanan di kedua tangannya.
"Laura makan malam dulu Nak." Rega membawa satu porsi makanan ke arah Laura.
Laura masih diam begitu juga dengan Darren dan istrinya.
"Laura, jika tak ingin makan paksakan saja Nak, kasihani cucu Papa."
Ponsel Laura berdenting menandakan pesan masuk dan ternyata Om Arven sudah tiba di bawah dan tengah menunggu dirinya.
Laura beranjak dan mencabut selang infus di tangan kanannya dengan sembarang. Sampai Papa Rega terkejut dengan darah yang mengucur di pergelangan tangan menantunya. dengan penampilan menantunya, wajahnya sedikit membiru dan membengkak dengan ujung bibir yang robek.
"Laura." Papa Rega mencegat langkah menantunya.
"Sayang kau mau kemana?"
"Pulang."