
Regantara, Darren dan Laura menunggu di ruang inap rumah sakit.
Luka kepala yang di derita Mama Dhira cukup serius, sepertinya Mama Dhira memang terjatuh dari atas tangga, Darren sudah meminta Asistennya untuk menyelidiki kejadian perkara juga memeriksa cctv, yang tiba-tiba tidak berpungsi, entah sudah di hapus atau memang cctv itu benar-benar sudah rusak.
Darren sudah memesan makanan ia tau Laura belum makan, sepanik dan sekhawatir apapun Darren pada Mamanya, ia tetap menjamin agar istri dan calon bayinya tetap sehat.
Saat makanan tiba, Darren bahkan menyuapi Laura agar istrinya itu makan dengan benar.
Rega menatap putranya yang kini tengah menyuapkan makanan kepada menantunya, Regantara menyadari bagai mana Darren mencintai dan memperlakukan menantunya dengan sangat baik. Awalnya Rega membiarkan hal itu tapi setelah Rega menduga jika Laura dudah mencelakai istrinya Rega mulai menilai buruk tentang Laura.
Nadhira mengerjapkan matanya ia mulai membiaskan cahaya yang menyapa maniknya. Semua orang tidak ada yang menyadari jika Nadhira sudah siuman. Nadhira mengingat bahwa sebelum ia terjatuh, ia melihat dari lantai dua jika Laura tengah menerima telepon, sekilas Nadhira mendengar jika Laura mengatakan ingin mengajak ia dan Rega untuk makan malam bersama, dan mengatakan ingin berdamai.
Dikarnakan dirinya masih enggan untuk berbaikan dengan Laura, ia buru-buru menuruni tangga. Naas langkah kakinya terpeleset dan membuat ia terjatuh dan berguling-guling di atas tangga hingga ke lantai bawah.
Nadhira mengingat sampai sebatas itu, setelahnya ia tak mengingat apapun lagi. Tentang siapa yang membawa ia ke rumah sakit atau siapa yang menemukannya lebih dulu. Nadhira memejamkan mata saat rasa pusing kembali menyerangnya.
"Mama." Darren menghampirinya. "Mana yang sakit Ma?" Darren meraih tangan ibunya dan mengecupi tangan Mamanya.
Laura dan Regantara turut mendekat ke arah Nadhira yang masih terbaring lemah di atas ranjangnya.
"Pa, Laura." Nadhira bergunam pelan. Dhira bahkan meringis saat rasa pusing itu menyerangnya begitu parah.
"Apa yang Laura lakukan padamu Sayang? Apa dia yang mendorongmu." Rega berharap jika Nadhira menyangkalnya, ia hanya ingin memastikan jika menantunya tidak terlibat.
"Aku tidak ingat." sebenarnya Nadhira bisa saja mengiakan perkataan atau mengatakan dengan tegas jika Laura tak terlibat. Tapi entahlah rasa kesalnya terhadap Laura masih menggunung di hati Nadhira.
"Yang ku ingat, Laura berjalan di belakangku. Dan aku tiba-tiba berguling di atas tangga, dan aku tak mengingat apapun lagi." Nadhira berujar seraya memejamkan matanya.
"Katakan dengan jelas Dhira!"
"Ya Laura mendorongku dari atas tangga." Nadhira mencoba memainkan sandiwaranya. Ia ingin Darren kembali ke rumahnya, dan berhenti mencintai Laura.
"Bohong!!!" Laura menyangkal dengan tegas, apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Mama Dhira benar-benar memfitnahnya.
"Darren aku sama sekali tidak melakukan apapun. Aku belum menemui Mamamu sungguh. Aku bersumpah demi nama bayiku." Laura hanya Darren yang ingin mempercayai ucapannya, selebihnya Laura yidak perduli.
"Katakan untuk apa aku melukai diriku sendiri sampai separah ini. Jika dirimu yang melakukannya tujuannya sangat jelas Laura kau tak menyukaiku." lirih Nadhira. Ia memanfaatkan ke adaan.
"Kau mencoba menyangkalnya Laura!" Regantara membentak menantunya. "Terbuat dari apa hatimu Laura, kau tega berlaku begitu, bahkan kau tega membawa-bawa nama cucuku."
"Aku tidak melakukan tindakan keji seperti itu Pa, itu sebabnya aku berani bersumpah." Laura terus menyangkal apa yang di tuduhkan padanya.
Laura memejamkan matanya, baiklah ia akan menerima seandainya Darren benar-benar akan menceraikannya. Lagi pula Laura selalu merasa ada saja masalah yang selalu menimpa hubungannya dan Darren.
"Tidak Pa, aku tidak akan menceraikan Laura." Darren berujar tegas, Darren menggenggam tangan Laura yang bergetar
"Tenanglah. Aku akan memperjuangkanmu, aku akan tetap bersamamu." Darren berbisik.
Darren pikir kekejaman Papanya sudah berkurang, ternyata Papanya masih sama sangat keras kepala seperti dahulu. Tapi Darren tak menyalahkan hal itu, ia memahami jika Papanya begitu mencintai mama Nadhira, sehingga papanya bertindak demikian. Tapi Darren tak mengerti mengapa Mama Dhira memfitnah Laura. Mekipun Darren belum mengetahui kebenarannya tapi Darren sangat yakin Laura tidak melakukan hal buruk kepada mamanya.
"Kau sudah di pengaruhi oleh wanita ular itu. Jika kau masih memilihnya. Tinggalkan semua fasilitas dan harta yang kau nikmati, pergilah. Hiduplah dengan wanita yang sama sekali tak menginginkanmu Darren." Regantara sangat yakin jika Darren tak akan meninggalkan mama dan papanya. Namun semuanya hanya dugaan Rega saja, Darren benar-benar memilih Laura untuk tetap bersamanya.
"Berhenti bekerja di kantorku, dan jangan lagi menganggapku sebagai Papamu lagi. Ku anggap aku kurang beruntung membesarkanmu yang pembangkang."
"Baiklah."
"Laura ayo pergi, mereka sudah mengusir kita." Darren menarik tangan istrinya. Laura terkesiap, bahkan mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Tapi-"
"Tidak usah mengatakan apapun kita akan pergi, dimana orang akan menerima kita." Darren menguatkan hatinya yang hancur, ia tak bisa jika lebih memilih orang tuanya. Mungkin bagi Laura itu bukan hal besar, mengingat Laura belum memcintainya, tapi bagi Darren itu adalah bencana.
Darren membawa istrinya menjauh, dan saat hendak membuka pintu.
"Darren tunggu!" langkah mereka terhenti. Laura menoleh lebih dulu, ia pikir jika Papa mertuanya mengalah, tapi dugaannya salah.
"Jangan membawa mobilku!" ucap Regantara dingin. "Juga setiap kartu yang kau miliki." Sambungnya lagi.
Darren meraih kunci mobil, ponsel juga dompetnya ia letakan di atas lantai dekat pintu keluar. Kemudian ia melanjutkan langkah tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hatinga sangat sakit atas perlakuan ayahnya yang keterlaluan menurutnya.
"Darren."
"Jangan takut. Aku tidak akan membawamu dalam kesulitan. Aku akan berusaha."
"Darren kembalilah pada keluargamu, sungguh aku tidak keberatan." Laura berujar, entah mengapa dadanya terasa sesak. Tapi ia tidak bisa egois dengan mengharuskan Darren tetap bersamanya.
"Kau memang tidak keberatan. Tapi aku yang tak akan hidup jika kau pergi."
Fitnah yang Mama Nadhira lakukan terhadap Laura sangat membuat kecewa perasaan Darren, sehingga ia lebih memilih untuk bersama dengan Laura saja.