
"Kau lihat. Tidak ada namanya Takdir yang tertukar Darren. Tuhan sangat adil. Bayangkan jika yang menimpa hidungmu buah kelengkeng yang sebesar semangka. Maka akan seperti apa hidung mancungmu? Tuhan itu tidak pernah keliru dalam menciptakan Takdir sesuatu." Laura masih tertawa terbahak-bahak menertawakan hidung Daren yang tertimpa buah kelengkeng.
Darren melihat tawa lepas Laura, wanita yang biasanya tertawa setan itu itu kini lepas tertawa, tapi tunggu Laura menertawakan Darren.
"Apa sebegitu menyenangkan saat melihat orang lain menderita?" tanya Darren kembali.
"Apa sakit?" Laura menghentikan tawanya dan menatap Darren.
"Tidak. Selama yang menimpa hidungku adalah buah kelengkeng normal bukan sebesar semangka."
"Hahaha ..."
Lagi-lagi Laura tertawa. Ternyata yang membuat gadis itu tertawa bukan karna menderitanya Darren, tapi karna membayangkan sebuah semangka menghantam wajah Darren.
"Wajahmu yang tak seberapa akan semakin jelek Darren." Laura semakin menghentikan tawanya.
"Kau pikir wajahmu sangat cantik?" Sinis Darren.
"Menurutmu?"
"Biasa saja." Jawab Darren acuh.
"Berarti kau tidak normal." ucap Laura, bahkan tatapan geli ke arah bagian bawah Darren. "Brrr." Laura bergidig geli.
Tukk.
Darren mengetuk kepala Laura menggunakan kulit semangka bekasnya.
"Sembarangan. Barangku sangat normal, adikku ini bahkan berdiri sangat tegak seperti menara Eiffel saat tengah on." ujar Darren bangga.
"Cih, pembual."
"Aku tidak berbohong. Kau ingin menyentuhnyahnya?" Darren sudah meraih tanganlentik Laura dan berniat senyentuhkannya pada baranngnya. Dadar tidak tau malu.
"Semua orang normal mengakui kecantikanku. Jika kau bilang aku tidak cantik, itu artinya kau tidak normal!"
"Biarkan saja. Siapa tau aku dapat warisan banyak darimu. Kaukan kaya raya tidak mungkin kan kau tidak memberikan apa-apa padaku saat kita bercerai nanti!" Laura sedang berusaha menambal kekecewaannya akan takdir yang ia jalani.
"Kau berniat bercerai dariku?"
"Tentu saja. Kau pikir aku ingin selamanya menjalankan pernikahan konyol denganmu." ujar Laura kembali.
"Karna aku lumpuh kau ingin bercerai?"
"Jika kau sembuh kita akan bercerai. Jangan lupakan alasan kita menikah! Kata Daddyku semakin cepat kau sembuh, itu artinya semakin cepat aku terbebas dari neraka ini." Laura menepuk pelan pipi Darren, yang masih mematung. Itu artinya ia harus segera membayar dendamnya pada gadis iblis itu.
"Kau tak akan mendapatkan apapun jika tak meberikanku seorang bayi." ujar Darren.
"Tidak papa. Lebih baik aku tidak mendapatkan sepeserpun hartamu dari pada harus memberikanmu seorang bayi." Iuhh, membayangkan bercinta dengan pria lumpuh sungguh Laura merasa geli sendiri.
Darren tersenyum miring. Mari kita lihat Laura akan tahan dengan omongannya sendiri atau menyerahkan diri padanya.
"Darren ini sudah panas. Mari kita pulang." Laura mendorong kursi roda Darren menuju rumah.
.
"Ken. Kau mau kemana?"
"Aku ingin mengunjungi putri sulungku." Kenan sampai tidak tidur semalaman karna terlalu memikirkan putrinya, di rumah seorang pria lumpuh yang sudah menjadi suami putrinya.
"Ken. Makanlah dulu. Kau perlu memperhatikan kondisimu juga Sayang." Fana menuntun Kenan untuk makan siang. Sejak pagi prianya belum menyuapkan butiran makanan pada mulutnya.
"Fana, ternyata benar kata Ayah Randy dulu. Sejak menjadi seorang ayah, aku tidak memikirkan diriku sendiri, anak-anakku adalah pusat kehidupan kita. Aku merasa Ayah Randy mengutukku sengga aku tak merasa tenang saat Lauraku jauh dari jangkauan mataku." Kenan mengusap tangan istrinya.
"Tidak hanya kau dan Ayah saja yang merasa demikian. Semua pria yang sudah menjadi seorang Ayah merasakan hal yang sama." Fana mengecup bisep suaminya.
"Kita akan menemui Laura, agar kau merasa tenang."
"Ya. Fana, aku tidak tenang sebelum memastikan putri kita baik-baik saja."