Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Kau Akan Ku Miliki


Darren selalu kehabisan stok kesabaran saat bersama Laura. Wanita paling bodoh yang sialnya berhasil mengurung hatinya.


"Laura rasanya aku ingin meruqiyahmu agar kau sedikit pintar, jangan bodoh-bodoh banget."


"Ide bagus Darren. Aku juga lelah harus bodoh terus. Di mana tempat jasa ruqiah itu Darren bawa aku ke sana." Laura sampai terbangun dan melepaskan diri dari dekapan Darren.


Ia ingin membuat bangga Mommy dan Daddynya agar gelar sarjananya cepat ia raih, bahkan di semester ini Laura harus mengulang kuliahnya. Menyebalkan!


"Hah." Sial Laura sangat bodoh.


Bisa bisanya gadis itu mempercayai Darren, dimana-mana ruqiah di lakukan sebagai pengusiran sebangsa jin atau mahluk halus, atau energi negatif, bisa juga metode penghapusan sihir atau ilmu hitam dari seseorang korban.


Jika saja ruqiah di lakukan untuk membuat orang bodoh menjadi pintar mungkin pendidikan di negri ini akan di hapuskan dan di ganti dengan ruqiah.


"Darren."


"Ada apa?"


"Kapan kakimu sembuh?"


"Hampir dua tahun yang lalu."


"Lantas mengapa kau baru kembali?" Laura memberenggut ia kesal lantaran Darren meninggalkannya tanpa kabar dua tahun yang lalu.


"Aku harus melanjutkan pendidikanku dan memperbaiki penanpilanku. kau bilang kau ingin memiliki suami tampan dan kaya raya. aku akan kaya setelah menjadi wakil Ceo."


Entahlah, kalimat Laura yang random waktu itu Darren jadikan motivasi sebagai acuannya untuk sukses, meskipun jalan yang ia lalui tidaklah mudah.


"Batalkan saja rencanamu aku tak tertarik melanjutkan pernikahan denganmu." Laura memilih beranjak dari ranjangnya.


"Kita menikah atas kesepakatan, kau tidak bisa memutuskan apapun tanpa persetujuan dariku!" terang Darren.


sulit sekali bagi Darren untuk mengakui perasaannya. Disamping ia belum terlalu yakin akan perasaannya, ia juga tak ingin mempermalukan dirinya sendiri seandainya Laura mengoloknya.


"Kesepakatan awal sudah kalian batalkan. jangan kau pikir karna aku bodoh kau bisa memperdayaku Darren." Laura menduga pasti Darren melakukan ini karna dirinya tak pandai dalam hal apapun.


"Aku tak memiliki pemikiran sampai kesana." Dusta Darren. Padahal sebenarnya Darren mengiyakan jika ia tengah berusaha menjerat Laura dalam pelukannya.


"Ayo kita pindah ke rumahku." Dengan ringan Darren mengajak istrinya.


"Ogah."


"Laura, tidak ada bantahan. Kau harus menurutiku. Aku bisa saja melakukan apapun untuk membuat keluargamu hancur." Darren berujar santai.


"Aku tidak mengancammu. perusahaan ayahmu kini tengah terguncang, baik Arven dan Om Eldy tidak akan bisa menolong perusahaan ayahmu. Hanya aku yang bisa memperbaikinya, turuti aku agar semuanya membaik. Atau kau berulah semuanya akan berantakan karna ulahmu!"


"Dasar pria licik! Jika kau berniat membantu ayahku bantu saja. Tidak usah mengancam atau memperalat diriku." Laura tak menyangka Darren banyak berubah, ia bahkan di buat tak berkutik.


"Apa kau mengerti kata timbal balik? Kau harus mengerti caranya balas budi." Darren mengecup sekilas pipi Laura, Gadis itu malah menggosok kuat bekas kecupan suaminya.


"Apa ketampananku tidak berpengaruh untukmu?"


"Tidak sama sekali."


Mau tak mau Laura mengikuti ke mana Darren pergi. dan yang membuat Laura kesal adalah sambutan dari ibu mertuanya.


"Wuih, enak sekali jadi Laura. Setelah kau sembuh ia kembali tanpa basa basi dan rasa bersalah." ingin rasanya Laura membungkam mulut mertuanya menggunakan kaos kaki bekas pakai. Memangnya ini kringinannya, judtru Laura ingin bebas bukan kembali ke neraka berbentuk mansion ini.


"Ma, kita sudah membahas ini sebelumnya. Jika Mama masih ingin Darren tinggal di sini jangan mengusih istri Darren." Entah keberanian dari mana Darren menyela ucapan mamanya.


Mama Nadhira langsung diam, daripada Darren pergi lagi lebih baik ia menutup mulutnya.


"Darren Selly tadi kemari mengantarkan brownis untuk kita. Ah seandainya saja Selly yang menjadi menantu di rumah ini." Nadhira melirik menantunya. Laura memutar matanya malas.


"Jika mama menginginkan wanita itu menjadi menantu di rumah ini, suruh Darren menikah lagi, dengan senang hati aku menerimanya. Atau Darren mau menceraikanku itu justru lebih baik."


"Laura jaga bicaramu! atau aku-" peringat Darren, ia tak suka saat ada orang lain bicara tak sopan pada Mamanya.


"Atau apa? Kau ingin menceraikan aku? Kapan?" tanya Laura antusias.


"Kau terlalu banyak bermimpi!"


Laura memasuki kamarnya tanpa memperdulikan panggilan Darren yang menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu.


"Ma, Maafin Laura ya?"


Darren meminta pelayan di rumahnya untuk membawakan makanan ke kamar untuk istrinya. juga dengan obat yang tidak pelayan itu mengerti, "Teteskan obat ini di minuman atau makanan istriku."


"Ini apa Tuan muda?" tanya pelayan itu.


"Hanya vitamin."


Setelah makan Laura merasakan kantuk yang luar biasa melandanya. Hingga tanpa mengatakan apapun lagi Laura berjalan terseok ke arah ranjang dan mulai memejamkan matanya.


"Malam ini kau akan kumiliki!" Darren menyeringai penuh maksud.