Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Penjelasan Mama Darren


Darren tiba lebih dulu di alamat restoran yang dikirimkan oleh istrinya. Setelah memeriksa keadaan sekitar dan tidak menemukan istrinya, Darren menghubungi Laura dan mengakui bahwa ia sangat khawatir. Beruntung Laura menjawab teleponnya dan memberitahu bahwa ia akan segera sampai di restoran.


Ibu Sarah dan Laura diantar oleh putra angkatnya, Arga, yang sebenarnya adalah adik ipar Darren karena ia lebih muda satu tahun dari Darren. Anggi, adik kandung dari Arga, berusia 20 tahun, dan keduanya diadopsi oleh Sarah dan suaminya.


“Laura, seperti apa yang harus saya katakan ketika berbicara dengan Darren nanti? Saya takut ia akan membenci saya dan meninggalkan saya,” ujar Sarah yang khawatir pada menantunya. Ia juga merasa khawatir jika Darren tidak akan percaya pada apa yang ia katakan.


“Jangan khawatir, Darren seorang pria berhati lembut dan pemaaf. Sebaik apa hatinya, Mama akan melihatnya sendiri di putra Mama nanti,” jawab Laura menenangkan ibu mertuanya, sambil memegang tangan ibu mertuanya dengan lembut. Arga yang duduk di belakang sesekali melihat spion. Ia sudah tahu sejak awal bahwa ibunya memiliki anak kandung, tapi ia sedikit terkejut saat yang mendatangi mereka adalah istri dari Darren, putra kandung ibu angkatnya. Laura juga telah mengubah panggilannya pada Sarah, atas permintaannya, menjadi Mama.


Setelah tiba di restoran, Laura langsung menanyakan ruangan yang dimaksud pada pelayan yang berada di sana. Darren sudah memesan ruangan pribadi untuk makan siang bersama mereka.


Laura, Sarah, dan Arga memasuki ruangan yang ditunjukkan oleh pelayan. Darren menyambut kedatangan mereka dengan memeluk Laura. Kecemasannya seketika hilang saat melihat Laura hadir di hadapannya dalam kondisi yang baik. Darren bahkan tidak menyadari dua orang di belakang istrinya, ia terlalu fokus pada Laura.


Darren menahan wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya dan mengatakan, “Istri nakal! Harusnya kau membiarkan aku datang padamu agar aku bisa memastikan bahwa kau baik-baik saja.”


“Darren…” Laura membentak wajahnya saat wajah Darren mendekat. Ia tahu bahwa Darren hendak mencium bibirnya, sehingga bibir Darren hanya mengecup pipinya saja.


Mama Sarah dan Arga berdiri di belakang, sedangkan Arga, adik angkat Darren, terlihat salah tingkah dan bahkan gerah. Entah itu karena menyesal karena Laura sudah memiliki suami atau karena ia ingin menggantikan posisi pria di hadapannya.


“Kenapa kau menghindar? Tidak mau dicium olehku?” Darren tak senang atas penolakan Laura.


“Bukan itu maksudku. Ada orang yang ingin bertemu denganmu,” jelas Laura sambil menyilangkan posisi tubuhnya sehingga Sarah dan Arga dapat terlihat.


Mata Darren dan Sarah bertemu. Terdapat perasaan yang sulit dijelaskan oleh Darren sehingga ia tak mampu berbicara dengan Mama Sarah. Apakah ini hanya mimpi atau ilusi belaka?


Mama Sarah mendekat dan memanggil putranya dengan lembut. Darren tak dapat menjawab, lidahnya terasa terik dan ia bahkan kesulitan untuk menjawab panggilannya.


“Darren, ini Mama,” ujar Mama Sarah dengan lembut.


Sarah terisak dalam pelukan putranya yang kekar, membebaskan kerinduan yang telah ia pikul selama puluhan tahun dan meneteskan air mata. Lebih dari dua puluh dua tahun lamanya Sarah tak memeluk putranya lagi dan sekarang ia menikmati pertemuan mereka. Darren merasa haru dalam pelukan Mama Sarah, sebuah impian dan cita-citanya terwujud saat ini.


Setelah beberapa saat terpisah, Mama Sarah memandang putranya dengan lekat dan berkata perlahan. “Kau begitu tampan, tumbuh dengan sangat baik. Pergaulanmu mungkin tidak sama dengan yang telah kumiliki sebelumnya, tapi Mama sangat bangga denganmu.”


“Baiklah, ayo kita duduk di sini.” Darren mengajak Mama Sarah untuk duduk, dan Mama Sarah mengikuti putranya dengan patuh.


Laura, yang masih berdiri di samping mereka, merasa bahagia karena Darren dapat menerima kehadiran Mama Sarah tanpa drama-drama yang tak penting.


Darren mendekati istrinya dan mengajaknya untuk duduk di pangkuannya sebelum mencium pipi Laura. “Laura, perkenalkan ini Mama Sarah, istrimu,” tulis Darren sambil tersenyum. Ia bangga karena telah berhasil memperkenalkan istrinya pada ibunya.


“Saya sudah tahu, Laura datang ke rumahku tadi,” tukas Sarah. Sebelum menceritakan alasan ketidakhadirannya selama ini, ia menjelaskan kedatangan Laura dan latar belakangnya.


Darren sendiri menatap ke arah Arga yang duduk di kursi dan berkata, “Lihat Arga sampai Mama harus memukulinya.”


"Maaf, Arga. Karena kesalahpahamanmu, kamu jadi babak belur," ucap Darren dengan tulus, membuat Arga berpikir bahwa Darren adalah seorang yang sangat hati-hati.


"Tidak apa-apa, santai saja," balas Arga kepada saudara angkatnya itu.


Darren menatap Laura yang mencoba tersenyum di hadapannya, lalu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal berkali-kali. "Kamu selalu memberikan kejutan bagiku," ujarnya sambil mengambil tangan Laura dan mencium jemarinya.


Darren merasa sangat bersyukur karena Laura telah menjadi istrinya dan tidak sejahat yang terlihat di permukaan.


"Darren," panggil Mama Sarah pelan, hingga semua orang menatap ke arahnya.


"Di masa lalu, Mama dan Papamu menikah karena kesalahan Mama, tapi adanya dirimu bukan hasil dari kesalahan tersebut. Kami senang dengan kehadiranmu, meskipun Papamu tidak mencintai Mama, dia sangat mencintaimu dan sangat menyayangimu. Suatu saat, kesalahan dan kebohongan Mama terbongkar sehingga Papamu sangat marah dan menjadi penyebab kami berpisah," jeda Sarah sejenak, ia mengambil tisu yang Darren ulurkan untuk mengelap air matanya.


"Papamu kembali pada mantan istrinya, Nadhira, dan membawamu pergi. Karena semua yang terjadi adalah kesalahan Mama, Mama harus menerima ketika Papamu melarang Mama untuk menemuimu. Bahkan Papamu membuat surat perjanjian hitam di atas putih dan memaksa Mama menandatanganinya, yang berisi bahwa Mama tidak boleh menemuimu sebelum kamu yang mendatangi Mama lebih dulu. Mama abai dan nekad menemuimu dua kali, begitu pula Papamu menghancurkan usaha Mama dan suami barunya. Papamu selalu menyuruh orang untuk mengawasi Mama," lanjut Sarah sambil terus menangis, ia teringat kejadian masa lalu yang menyakitkan itu.


"Akhirnya Mama pasrah menunggumu sampai kamu menemuinya sendiri. Namun, waktu itu tidak kunjung tiba hingga Mama berpikir kamu telah melupakan Mama. Sampai Laura datang untuk membawa kabar bahwa kamu ingin menemuinya. Sekarang Mama siap menghadapi segala rintangan meskipun Papamu akan menghancurkan hidup Mama," ucap Sarah sambil merenungkan masa lalunya.


"Mama, tenang saja. Sekarang Darren sudah dewasa dan Papa tidak bisa lagi membatasi Darren. Darren berjanji tidak akan melakukan hal buruk pada Mama. Sekarang kekejaman Papa juga berkurang, terlebih saat dia menyadari akan segera menjadi seorang kakek," ujar Darren sambil tertawa dengan air mata yang masih menggenang di wajahnya.