
Darren tersenyum penuh kemenangan setelah membuat Laura berteriak dan bergetar dalam kubangan kenikmatan.
Hanya menggunakan bibir serta lidahnya Darren berhasih mengantarkan puncak kenikmatan pada gadis itu, sedangkan tangannya ia hanya pergunakan untuk menyentuh dan mere mas di tubuh Laura yang lain, rasanya sangat di sayangkan jika tangan serta jemarinya merusak sesuatu yang belum tersentuh senjatanya.
"Gantian kau harus menyenangkan aku." Darren menuntun tangan Laura ke arah senjatanya.
"Aku tidak mau." tolak Laura, mungkin benar jika seorang pria akan mampu menyenangkan wanita dengan cara bercinta sekalipun tidak mencintai gadis itu. Tapi bagi seorang Laura sangat sulit untuk melakukan tindakan yang sama pada Darren meskipun Darren sudah membuatnya melayang beberapa waktu lalu.
"Laura jangan jadi gadis licik. Kau harus menyenangkanku juga." Darren tak tahan sehingga ia membentak Laura.
"Aku harus seperti apa agar kau menurut padaku?" Darren mulai terpancing emosi.
"Setidaknya kau harus seperti Daniel." untaian kata Laura menyulut harga diri Darren pria mana yang tidak terluka harga dirinya di saat wanitanya menyebut nama pria lain atau bahkan membandingkannya.
"Jangan membuatku memperlihatkan Darren versi lain di hadapanmu!" Darren menekan rahang Laura dengan kasar sehingga Laura mengaduh kesakitan.
"Lepas, Darren! Sakit!"
"Aku bisa berbuat lebih kasar padamu jika kau tak mau menuruti inginku. Aku sudah memberimu kepuasan tapi kau menolak untuk melayaniku sialan. Bahkan seorang suami halal membuhmu saat kau menolak untuk kucampuri. Aku tak meminta hal aneh padamu aku hanya meminta timbal balik dari apa yang kuberikan padamu tadi, sebuah kepuasan bathin."
Laura meneteskan air matanya ia merasa di lecehkan oleh suaminya sendiri. Darren memaksanya untuk meng hisap serta menjilati jagung afrika suaminya. Terus teran Laura merasa tertekan akan keinginan Darren.
Entah mengapa Laura merasa mual saat Darren memaksanya untuk memasukan jagung itu kedalam mulutnya. Jagung bakar afrika yang sangat besar menurut Laura bahkan jemarinya tak mampu menggengfam penuh benda itu.
Darren menjambak rambut Laura sehingga Gadis itu mendongak dengan benda yang memenuhi mulutnya.
"Lakukan dengan benar, ja-lang jangan sampai gigimu mengenainya atau aku akan memukul wajahmu." entah Darren tengah berusaha menakutinya atau memang beginilah Darren sebenarnya memiliki kepribadian ganda pikir Laura, entah opsi mana yang benar sehingga hal ini membuat Laura kerakutan sekaligus sakit hati saat kata ja-lang Darren hadiahkan untuknya.
Beberapa kali Laura tersedak bahkan sampai mengeluarkan airmatanya, saat ujung senjata besar itu mentok di krongkongannya, Laura pernah melihat oral **** di film dewasa terlihat menggairahkan tidak sama sepertinya saat ini yang terasa menyakitkan.
Laura masih menangis meski mulutnya terus di jejali sesuatu yang panjang.
"Cukup sudah aku terlalu baik padamu Laura. Pernikahan ini adalah hukuman untukmu maka nikmati hukumanmu. Aaa ..."
"Emghh ..."
Disela-sela desa hannya Darren memaki serta meracau.
"Laura ..."
"Ah ... Uhh"
"Terus, ya seperti itu."
Darren mengatur pergerakan Laura sehingga ia sulit untuk melepaskan diri.
Sekitar lima belas menit, Laura terus memajumundurkan kepalanya tentu saja dengan Darren yang mengambil komando permainan.
Laura semakin terasa terhina saat Darren menumpahkan semua benihnya di mulutnya, sehingga sebagian turut merembes dari bibirnya bercampur dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
"Telan!" Bentak Darren tepat di atas telinganya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Laura mendapatkan kekerasan dari orang lain. Laura yakin rahang dan tengkuknya kini sudah memar juga dengan kedua bukitnya yang terasa sangat sakit, Darren terlalu kasar saat menyentuhnya.
"Aku berdo'a semoga ada keajaiban agar kakimu normal kembali, sehingga aku bisa menghukummu atas tindakan ini." Laura berjalan gontai meninggalkan Darren yang termenung tanpa melakukan apapun, raut wajahnya juga terlihat sangat kusut.
"Sialan apa yang telah ku lakukan? Aku menyakitinya." Darren menjambak rambutnya sendiri, ia juga bingung atas sikapnya yang melampaui batas.