
"Ra, apa kau terluka karna aku?" Darren memutar bahu Laura hingga gadis itu menghadap penuh ke arahnya.
"Tidak. Aku terluka karna diriku sendiri! Aku meninggikan suara di hadapan majikanku." ujar Laura, ia menepis tangan Darren, kali ini ia merajuk pada Darren yang baru menyadarinya dampak dari pertengkaran semalam adalah sekarang.
"Apa sakit?"
"Tentu saja sakit. Kau pikir aku Hulk yang kuat itu, lagian kau kuat sekali mendorongku. Apa semua tenagamu kan letakan semua di tanganmu?" Laura menghentakan kakinya dan menaiki tempat tidur.
Laura berbaring membelakangi Darren, persis seperti seorang gadis kecil yang tangah merajuk.
"Ra, jangan tidur bantu aku untuk naik randang." ucap Darren lagi, tapi Laura masih tak bergeming, sepertinya karna kelelahan Laura cepat sekali tertidur, terdengar dari suara nafas yang terdengar teratur.
"Pasti kau lelah Ra, banyak hal yang mengejutkan hari ini dan terjadi secara bersamaan." Darren pelan-pelan memindahkan kakinya ke lantai untuk mempermudah ia berpindah.
Untuk pertama kalinya Darren memberanikan diri melingkarkar tangannya di pinggang istrinya, karna sama lelahnya Darren juga ikut menyusul ke alam mimpi.
.
Darren berada di sebuah ruang terbuka sangat asing dan entahlah ia berada di mana.
Hanya ada satu ranjang di antara hamparan bunga-bunga serta satu air terjun yang berada di sana. Ada juga pantai di sisi sebrangnya. Ferguso ini aneh air terjun dan pantai mustahil bersebelahankan.
Lalu apa yang terjadi? Darren pula sungguh tak mengerti sama sekali.
Seorang wanita yang terakhir Darren ingat adalah gadis yang ia peluk saat hendak tidur tadi, ya gadis itu adalah Laura. Ia mengenakan gaun berwarna putih, yang hanya dengan satu tarikan saja gaun itu akan terjuntai ke atas rumput di dana.
Sial Laura semakin mendekat, ke arahnya dan sepertinya di chapter inipun Darren masih dalam peran yang sama yaitu pria lumpuh.
Laura menjatuhkan gaun yang ia kenakan tadi hingga terongok di mata kakinya, gadis itu semakin mendekat ke arah wajah Darren yang semakin gemetar.
Bukan Darren takut tapi tergoda dengan tubuh dan wajah dan sekarang berbisik serak di telinganya, bibir sensual Laura mengapit cuping telinga Darren, dan langsung di respon Darren dengan darahnya yang berdesir hebat.
"Mau mencobanya denganku?"
"Me-mencoba, Mencoba apa maksudnya?"
"Membuat anak."
Blus, tidak hanya meremang tubuh Darren bereaksi gila-gilaan seluruh syaraf-syarafnya menegang dengan cara bersamaan.
Dengan nakal Laura meniupkan nafas hangatnya ketelinga pria di bawahnya, dan sial Darren tidak menyadari sejak kapan pria itu tanpa busana.
Pasti Laura bisa melihat dengan jelas bukti gairahnya, yang sudah mengacung sejak tadi.
Jari jemari lentik itu Laura mainkan diatas tubuh bagian depan suaminya, menari dan melukis dengan abstrak terutama di bagian dadanya yang bidang serta keras dan liat.
Seakan tidak cukup sampai di ditu Laura mengecup dan mencicipi centi demi centi setiap permukaan tubuh Darren yang semakin tidak waras di bawah kendalinya menggunakan bibir serta indra perasanya.
"Aku mau mencoba ini." Laura mengusap pelan kebanhgan seorang pria lalu setelahnya Laura melabuhkan satu kecupan di pupuknya yang menantang.
"Ouwwhhh ..." Darren tak kuasa untuk tetap bungkam ia terlalu menahan diri sedari tadi sehingga ia kerap kali menganga dan memejamkan mata.
Sesekali Darren meremat seprai berwarna putih hingga menimbulkan kusutan di sana bekas cengkraman jemarinya yang kokoh.
Laura mulai memposisikan diri, bergerak pelan dan berirama sampai tak terkendali.
"Laura."
"Darren."
Inikah yang di sebut penyatuan? Sungguh Darren baru pertama kali merasakan ini dengan seorang wanita.
Dan di saat Darren hendak mencapai pelepasan tiba-tiba.
"Barusan hanya mimpi?" Darren terbangun dari tidurnya beberapa saat sebelum ia mencapai puncak.
"Sial."
Meskipun dalam ke adaan kamar yang remang, Darren masih dapat melihat bagaimana kecantikan wajah Laura yang menghadap kearahnya.
Dengan masih di lingkupi gairah, Darren mendekati wajah cantik itu. Seperti biasa jika tidur Laura layaknya orang mati akan susah bangun, Darren mengulurkan tangan untuk menyentuh bibir sensual yang yadi memuaskannya dalam mimpi dewasa.
Darren membelah keindahan bibir itu menggunakan ibu jarinya, lembut dan kenyal.
Darren tidak memikirkan apapun lagi ia buru buru ikut membenamkan bibirnya di antara bibir istrinya.
Tak cukup sampai di sana, Darren kembali menggila dengan perasaan yang menggebu ingin menuntaskan hasratnya. Ia meraih tangan Laura ya, hanya tangan istrinya saja yang ia perlukan ia tak cukup berani untuk melakukan hal yang lebih jauh. Dikarnakan posisinya yang terbatas ia juga memikirnya ego dan gengsinya jika mengambil haknya di saat hubungan mereka masih buruk seperti saat ini.
Darren mengeluarkan bukti gairahnya dan memankannya dengan tangan Laura, dan objek Laura tentu saja ia bayabgkan wajah itu menari di atas tubuhnya.
Darren juga tak sempat untuk melepas pakaian, ia hanya menaikan kaosnya ke atas sebatas hampir menyentuh lehernya gulungan dari kaos yang ia kenakan.
Kocokan yang sangat berpariasi Darren mengatur tempo sesuai kehendaknya. Sampai di mana gelombang itu datang Darren segera menumpahkan lava putihnya, di atas perutnya sendiri tapi saking kencang semburan itu, sampai ke dagunya sendiri, dengan teriakan tertahannya.
"Lauraaa ,,,, Aaaa ..."
Hah ... Hah ...
Nafas Darren masih memburu, keringat kepuasan membasahi setiap inci tubuhnya.
"Ya Tuhan, hanya karna menikahi iblis betina pemuda polos sepertiku melakukan tidak kriminal." Darren terkekeh, melihat tangan lentik itu yang barusan memuaskannya, terdapat sisa-sisa cairannya di sana..
"Baru tangannya, mengapa bisa seenak itu? Apalagi jika ..." Darren menghentikan gunamannya ia tersipu malu dengan otak kotornya sendiri.
Darren menggeser tubuhnya untuk mengambil tissue di atas nakas, membersihkan dirinya sendiri dari cairan lengket itu.
"Maaf Papa membuang kalian, lain kali kita akan mengunjungi mamamu." Darren juga heran entah sejak kapan dirinya menggila.
Darren merapikan pakayannya kembali, setelah bangun dan muntah pagi, adik kecilnya menjadi penurut dan sudah tertidur kali ini.
Darren mengumpulkan tissue bekas pakainya dan ia lemparkan ke dalam tong sampah.
"sudah pukul enam rupanya, lebih baik aku mandi sekarang." Belum sempat Darren bangun, tiba-tiba alrm Laura berbunyi nyaring.
Laura menggeliat pelan akan nyaringnnya bunyi ponselnya sendiri, sedangkan Darren berpura-pura memejamkan matanya sendiri.
Laura mengucek matanya menggunakan kedua tangannya bersamaan dan ia terdiam saat menyadari salah satu dari jemari tangannya yang basah. Rupanya Darren lupa membersihkan tangan istrinya.
"Kok basah sih?" tanyanya serak, Laura berucap pada dirinya sendiri. "Loh ko lengket juga?" Laura terheran-heran, sedangkan Darren hanya menelan senyumannya saat menyadari kebodohan istrinya sendiri.
Rupanya Laura sangat bodoh dalam hal apapun, Darren mencibir.
"Seperti ingus tapi putih." ucapnya. Ia membawa tangannya untuk ia cium. "Kok bau pandan?" Laura mendudukan tubuhnya.
Darren tak tahan untuk berpura-pura memejamkan matanya, ia menggeliat, untuk memanipulasi jika ia baru bangun tidur.
"Kau kenapa?" tanya Darren pura-pura, melihat Laura yang tampak bergeming di tempatnya duduk.
"Di tanganku ada ingus putih, tapi aku tak yakin jika ini ingus." ujarnya lagi.
Darren meraih tissue baru dan memberikankannya pada Laura. "Mungkin itu ilermu."