
Disinilah Laura berada.
Di sebuah mansion yang sangat luas,
Astaga, Laura sampai menyebut beberapa kali melihat luas dan megahnya bangunan itu, ini seperti ada di negri dongeng. Ia pikir rumah yang di bangun Daddynya yang paling besar di kota ini. Ternyata ada yang lebih besar di kota ini.
"Bernafas dengan benar dan rapatkan mulutmu!" ujar Darren pada Laura. Dan seketika Laura mengatupkankan mulutnya.
"Ini rumahmu?" tanya Laura.
"Bukan. Ini rumah Papaku." ujar Darren acuh.
"Ck. Sama saja." Laura menelan gumpalan salivanya ternyata yang ia bully selama ini adalah seorang anak sultan. Sial Laura benar-benar bodoh luar biasa.
Ini benar-benar membagongkan herusnya ia teliti saat membuli orang, eh salah harusnya Laura tidak membuli siapapun.
"Ayo masuk." ayah mertua laura terlihat lebih ramah dari pada ibu mertuanya.
Saat seorang pelayan hendak mendorong kursi roda Darren tapi pengantin itu menghentikan langkahnya. "Biar istri baruku yang mendorongnya ia harus terbiasa mengurusku." Dirga mengangkat tangannya menghentikan gerakan pelayan di rumahnya.
Mau tak mau Laura mengikuti ingin suaminya, mendorong kursi roda yang di tumpangi Darren.
"Dimana kamarmu?" Laura bertanya saat sudah memasuki rumah megah itu.
"Di lantai tiga."
"Apa?"
"Kau kenapa?" Darren menyoroti wajah terkejut Laura.
"Lalu aku harus membawamu ke sana bagai mana? Menaiki tangga dan menggendongmu ke tangga melingkar itu?" Laura menunjuk tangga utama yang terlihat kokoh.
"Memangnya kau kuat? Apa kelebihanmu selain menyakiti orang juga bisa mengangkat beban berat?" Sindir Darren.
"Justru itu Darren aku tidak bisa melakukannya."
"Jangan seperti orang pinggiran di rumah ini sudah di lengkapi fasilitas lift."
"Oh, syukurlah jika seperti itu."
"Kita akan naik lift. Tapi jika kau turun naik tanpa aku kau harus menaiki tangga. Itu adalah aturan pertamanya, jadi kesimpulannya jika hidupmu ingin lebih mudah maka libatkan aku di rumah ini atau di manapun. Apa kau mengerti?"
"Terserah diriku. Nasib hidupmu kini berpindah tergantung padaku. Maka berhati-hatilah padaku."
Laura mendorong kursi roda memasuki pintu lift yang sudah terbuka.
"Setiap sudut dan titik di rumah ini sudah di lengkapi cctv, jadi berhati-hatilah jangan coba-coba kau melarikan diri dari sini." Darren terus berbicara saat lift tengah membawanya kelantai atas.
"Bisa kau lebih cepat berjalan?"
"Bagai mana aku bisa cepat berjalan gaun panjang ini membatasi setiap gerakku."
"Siapa suruh kau ingin gaun seribet itu." sentak Darren.
"Hey Darren bagi setiap wanita pernikahan itu sekali seumur hidup. Kami tak ingin asal asalan saat memilih gaun untuk acara pernikahan kami." Darren mencoba mencerna kalimat Laura dengan teliti.
"Kau ingin menikah sekali seumur hidup?"
"Tadinya iya! Tapi sekarang tidak lagi." Laura semakin kesal saat ia kesulitan berjalan.
"Apa karna aku cacat?"
"Lebih dari itu. Karna kau pengantinnya aku tidak mau."
"Ck. Menyebalkan dari pada terus membuatku kesal lebih baik kau mendorongku lebih kencang agar kita sampai di kamar dengan segera. Aku lelah ingin beristirahat."
"Kau enak hanya berbicara, aku yang menanggung semua beban tubuhmu." Laura kesal karna Darren hanya duduk saja sangat cerewet, sedangkan dirinya harus susah payah mebgeluarkan tenaga ekstra bahkan keringatnya sudah mengucur dimana-mana.
"Kau menganggapku beban? Ingat Laura aku seperti ini karna dirimu."
"Ya aku mengingatnya."
"Kau yang menyebabkan aku lumpuh!"
"Ya, aku tidak lupa."
"Kau memang harus menjalani hukuman."
"Ya, aku tengah menjalaninya." ujar Liora dalam hati. Tidak Mendeng Laura menyaut, Darren kembali diam tidak tau saja pria itu jika sebenarnya Laura tengah menangis dalam kebungkamannya.