Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Ini tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan padanya


"Dasar pria jadi-jadian. Kau bodoh tidak bisa membedakan mana alergi dan bekas cup ang." Laura mencubit perut suaminya.


"Awww. Sakit Laura." Darren mengaduh, tapi ia tampak puas dengan karyanya.


"Aku tadi memakan udang. Astagha ceroboh sekali aku ini." Laira menepuk keningnya sendiri bisa di pastikan sebentar lagi kulitnya akan di penuhi ruam merah.


"Kau alergi udang?"


"Ya makanan sialan itu benar-benar sadis padaku."


Tidak hanya di leher dan dada Laura yang di penuhi ruam merah, bahkan di wajah Laura juga demikian.


"Sial gatal sekali." Laura menggaruk seluruh permukaan kulitnya yang terasa gatal.


"Jangan di garuk! Nanti lecet."


Darren menghubungi asisten rumah tangganya, menyuruh agar asistennya membawa obat alergi ke kamarnya.


"Laura, aku harus pergi! Sebentar lagi asisten Papa akan ke mari."


"Kau mau kemana?"


Laura tak henti-hentinya menggaruk setiap inci kulitnya yang terasa sangat gatal.


"Jangan di garuk Ra!"


"Kau mau kemana?" Laura kesal karna pertanyaannya belum di jawab.


"Aku akan menemui dokter untuk melakukan terapi berjalan. Kau malu bukan memiliki suami lumpuh?" Darren mengenakan jaketnya dan bersiap pergi.


Seorang asisten rumah tangga mengetuk pintu dan mengantar obat alergi serta salep. Dan kemudian meninggalkan kamar itu.


"Darren jangan pergi dulu, bantu aku untuk mengoleskan salep di tubuhku."


Laura berujar sengit. Darren menelan gumpalan ludahnya dengan susah payah bukan ia tak mau membantu Laura, hanya saja ini terlalu berisiko untuknya sebagai seorang pria normal.


Dari mulai ujung kaki mulusnya Laura mengoleskan obat berupa salep alergi di tubuh istrinya.


"Ini pasti cepat sembuh setelah minum obat dan di olesi salep. Lalu bagaimana dengan tanda yang kau buat?" Laura menggeram keras dengan mata yang mendelik ke arah Darren, yang hanya melemparkan senyum tanpa dosa.


"Apa mau di tambah kembali?"


"Sialan kau!" Laura melemparkan bantal pada wajah Darren yang hanya tergelak.


.


Tok ... Tok ...


"Tuan Muda."


Panggil Ben asisten dari Papanya Darren.


"Ya. Tunggu sebentar."


"Aku pergi."


Cup


Darren mengecup sekilas bibir istrinya yang cemberut.


"Jangan menciumku sembarangan sialan!" Laura menyusut bibir sensualnya dengan punggung tangannya.


"Memangnya kenapa, bibir itu sudah menjadi milikku saat kita selesai mengucapkan janji suci." Darren tertawa pongah yang terlihat semakin menyebalkan di mata Laura.


.


Malam sudah semakin larut tapi Darren belum juga kembali, entah di mana pria itu menjali pengobatannya dan Laura tidak ingin mengetahuinya, terserah apa yang akan di lakukan pria aneh itu.


Laura turun untuk makan malam, yang di sana hanya terdapat Nadhira mertuanya saja, oh ya Laura lupa pasti Papa mertuanya tengah mengantar Darren menemui dokter akhli itu pikir Laura.


"Makanlah, jangan sampai putraku menganggap aku adalah mertua yang kejam." Nadhira semakin menjadi saat Darren tak ada di rumah itu membuat nyali Laura semakin ciut, mungkin benar apa yang di katakan jika ibu tiri itu kejam apalagi pada menantu tirinya. Nadhira mendorong kepala Laura hingga kepala itu sedikit terhuyung. Sepertinya ia masih dendam akan perbuatan Laura pada Darren.


Perut Laura yang tadi keroncongan kini terasa begah karna tindakan ibu mertuanya.


"Ma."


"Jika tak ada putraku jangan memanggilku demikian. Aku tak sudi memiliki menantu iblis sepertimu, lihatlah! Kedua tanganmu yang membuat putraku lumpuh. Perbuatanmu berhasil mematahkan sayap-sayap putraku untuk terbang, semua mimpinya harus kau hancurkan. Seharusnya Darren memperlakukanmu melebihi seorang tawanan wanita iblis, bukan sebaliknya." Nadhira sangat menggebu-gebu memaki Laura gadis yang ia anggap sebagai gadis iblis yang dengan sengaja mencelai mental dan fisik Darren. Ya ibu mana yang bisa memaafkan kehancuran yang Laura ciptakan di anak semata wayangnya. Meskipun Darren bukan putra kandungnya tapi Nadhira sangat menyayangi putra sambungnya itu.


"Jaga batasanmu terhadap putraku, jangan melunjak apalagi bertingkah seenaknya. Kau hanya pengantin yang malang. Ingat pernikahanmu terjadi hanya untuk membayar atas kesalahan yang kau terima wanita keparat, kau adalah gadis setan yang bertama ku temui." Ibu mertuanya bahkan menendang kursi yang di duduki Laura sebelum beranjak dan pergi di telan ruangan selanjutnya.


"Mom. Mom bilang jika ibu mertua Mommy sangat baik. Lantas mengapa ibu mertau Lau begitu kejam terhadapku? Apa karna bukan istri dan menantu yang layak untuk mereka." Laura tak jadi makan akhirnya gadis itu kembali menyeret langkah kakinya menuju lift, ya lebih baik ia tdr saja dari pada ia mendapat perundungan di rumah suaminya sendiri.


Sepertinya mulai besok ia akan menyetok banyak makanan di kamarnya agar jika Darren tidak ada ia tidak merasa kelaparan lagi. Atau ia perlu menghubungi Daddynya agar mengirimkan pelayan khusus untuknya agar ia bisa makan tanpa harus di maki terlebih dahulu.


Laura membaringkan tubuhnya yang kosong, ia lapar bahkan tadi siang ia tidak makan selain udang yang ia comot dan meninggalkan alergi di kulitnya yang putih.


"Beginikah rasanya menahan lapar?" gunam Laura pelan. "Lalu apa ini juga yang di rasakan Darren saat aku, Cindy dan Viona mengambil makanan serta bekal juga uangnya." tiba-tiba Laura mengingat kembali ke kejamannya dari mulai masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Jika ini yang terjadi wajar saja jika Ibu mertuanya begitu membenci dirinya.


Darren pulang tepat pukul dua belas malam, ia sedikit tak tega jika harus membangunkan Laura untuk membantunya membersihkan diri. Itu sebabnya dengan susah payah Darren membersihkan diri dengan susah payah tanpa bantuan siapapun.


Mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi berhasil membuat tidur Laura sedikit terusik dan karna di dampingi oleh perutnya yang lapar Laura jadi lekas tersadar dan terbangun.


"Darren kau kah itu?" Laura mengetuk pelan pintu kamar mandi.


"Ya, Ra ini aku. Kau lanjutkan saja tidurmu." teriak Darren dari dalam kamar mandi.


"Aku sedang belajar mengurus diriku sendiri." sambungnya pelan. Ia bahkan marah saat berusaha berpindah tempat ia justru malah terjatuh.


Laura Khawatir akhirnya ia nyelonong memasuki kamar mandi yang kebetulan tidak terkunci sama sekali.


"Astagha." Laura terpekik saat melihat Darren terduduk di bawah.


"Kenapa kau tidak membangunkan aku. Kau ingin dirimu terluka, lalu semua orang menyalahkanku begitu?" Laura membentak Darren, dalam benak Laura pasti Darren sengaja melakukan ini hanya agar ia mendapatkan masalah dari orang lain di rumah ini terutama ibu mertuanya.


"Beraninya kau membentaku di rumahku sendiri Laura! Kau lupa siapa yang menyebabkan aku seperti ini, Hah! Kau pikir ini mauku? Hidup dalam keterbatasan menyakitkan seperti ini! Tidak taukah diri setiap jam yang ku lalui sangat sulit. Mencoba berdamai dengan takdir Kau pikir mudah Laura?" Darren membentak Laura lebih keras, bahkan Laura sampai gemetar ketakutan menyaksikan kemarahan Darren yang baru ia lihat malam ini.


"Aku bahkan selalu menahan diriku agar aku tidak membalas perbuatanmu atau sekedar membalas dendam padamu."


"Aku, tidak sengaja membentakmu" Hanya itu yang Laura katakan, sepertinya kata maaf sangat sukar Laura katakan.


"Biar ku bantu." Belum sempat Laura meraih Pria itu, Darren mendorong Laura sampai terpental ke pinggir, dan secara tidak sengaja dahi Laura yang sebelah kiri terhantam mengenai kloset duduk.


"Pergi kau wanita setan." hardik Darren, ya begitulah seorang pria jika harga dirinya merasa ternistakan ia akan bertingkah dan berkata seenak udelnya.


Pening langsung menyergap Laura untuk beberapa saat ia merasa pandangannya mengabur, Laura tak ingin terlihat lemah meski ia mengetahui darah segar mulai membasahi pelipisnya. Lengkap sudah deritanya hari ini. Di permalukan sahabatnya sendiri, di buat emosi oleh mantan kekasihnya, terkena alergi, di maki dan di rundung mertuanya serta kali ini ia mendapatkan luka di bagian kepalanya.


Tak ingin membuat Darren semakin emosi akhirnya Laura memilih keluar dari kamar mandi. Sepertinya malam ini ia harus tidur dalam keadaan lapar serta dahi yang terluka.


Ini tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan pada dirinya Laura! Persiapkan dirimu, bisa saja esok hari akan ada kejutan yang lebih wah dari ini. Laura mengatur mentalnya agar tetap aman. Pandangan mata Laura semakin merabun mengiringi langkahnya menuju ranjang. Ya ia menangis dalam diamnya.


Laura meraih beberapa helai tissue untuk membersihkan datah yang terus merember keluar sari luka kecil di dahinya.


Tak ingin repot mencari obat atau apapun, Laura hanya mengandalkan tissue untuk meredakan pendarahannya. Laura bahkan menggulungkan selimut hingga ke ujung kepa hanya untuk menyembunyikan air mata dan lukanya.


Jika sampai Darren melihat lukanya pasti pria itu akan semakin besar kepala, dan akan semakin berani melukainya lebih dari ini.