Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Tekad Laura


Menit terus berganti, tak terasa Darren dan Laura sudah tinggal di rumah itu selama satu bulan. Bersyukur Laura bersikap baik pada Darren sehingga pria itu terlihat nyaman tinggal di rumah mertuanya.


Selama itu pula Darren belum ganti oli, meski ingin Darren terus menahan keinginannya untuk menengok calon bayi mereka. Ia juga sebenarnya masih takut jika melakukan enak-enak dengan Laura, mengingat kandungan istrinya baru menyinjak usia enam minggu.


Hari masih gelap tapi dorongan rasa mual dari perut Laura semakin menjadi-jadi. Rasanya benar-benar mual.


Hoek ...


Laura segera menggongcang tubuh Darren juga menutup mulutnya menggunakan satu tangannya.


Laura yang tidak tahan segera brrlari kekamar mandi, sedangkan Darren yang tadi mendapat goncangan lekas terbangun dan menyusul langkah kaki istrinya.


Laura memuntahkan semua isi di perutnya. Seakan tak puas lewat mulut, sisa-sisa makanan dan cairan yang mengendap berasal dari perut Laura menyelinap masuk ke hidung bangirnya.


Dengan sabar Darren memegangi rambut Laura juga memijat pelan tengkuk istrinya yang sedari beberapa waktu lalu terus memuntahkan isi perutnya.


Laura menegakan tubuhnya saat ia merasa mualnya sudah mereda. Rasa asam memenuhi rongga mulutnya sehingga mengharuskannya untuk berkumur. Tubuhnya luar biasa merasa lemas dengan perut usng lumayan sakit. Sepertinya otot-otot perutnya tertarik ketika ia muntah tadi.


Darren memperhatikan wajah Laura yang pucat, matanya turut terpejam dengan nafas yang masih di atur secara perlaha. Tangan Darren terulur untuk menseka keringat yang mengembun di kening istrinya.


"Sudah?" tanya Darren lembut. Laura hanya mengangguk sebagai jawaban. Darren memapah tubuh Laura ke atas tempat tidur, ia membaringkan tubuh istrinya di atas kasur.


Darren menyingkap pakaian Laura, hingga menampilkan perutnya uang masih rata.


"Mau apa?" Laura menahan tangan Darren.


"Mengoleskan minyak kayu putih agar perutmu nyaman." Darren menuangkan beberapa tetes minyak kayu putih ke atas permukaan perut Laura.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkanmu air hangat."


Darren pergi keluar kamar ia, akan mengambil air hangat untuk istrinya minum.


Di bawah terlihat Kenan yang tengah menonton berita pagi di televisi, tumben sekali mertuanya sudah bangun padahal hari masih pukul setengah enan.


"Daddy." Darren menyapa ala kadarnya. Ia tak pandai berbasa basi.


"Mau kemana?"


"Mau mengambil air hangat. Laura mual-mual lagi Dad."


"Oh, berikan juga buah potong agar perutnya tidak terlalu kosong. Jika mualnya belum reda beri tau Daddy biar kita kerumah sakit." Daddy Kenan berujar khawatir.


"Baik Dad."


Beruntung Darren memiliki mertua seperti Kenan yang tidak memusuhi dirinya. Mertuanya juga tidak selalu membuatnya tak enak. Kenan menhormati dan selalu memberi Darren pripacy.


Tak ingin meninggalkan Laura terlalu lama, bahkan sekedar mengupas buahpun akan Darren lakukan di kamarnya. Darren membawa dua buah apel beserta pisaunya.


"Dad, Darren ke kamar."


"Ya."


Ceklek ...


Saat Darren membuka pintu, ia segera mengayung langkahnya lebih panjang saat ia melihat Laura muntah di samping tempat tidur, muntahannya hanya berupa cairan kekuningan.


Darren segera menghampiri istrinya dan meletakan air hangat dan buah apel yang ia bawa di atas nakas.


"Berkumur." Darren menyerahkan air mineral yang sudah ia buka lebih dulu segelnya untuk berkumur.


"Muntahkan di bawah saja. Aku akan membersihkannya." Laura menurut dan menumpahkan dua kali air berkumur di atas lantai.


"Minum dulu!" Darren menyerahkan air hangat yang langsung Laura teguk hingga menyisakan setengah di gelasnya.


Darren meraih banyak tissue dan meletakan di atas bekas muntahan Laura.


"Darren panggil bibi saja." ucap Laura lemah.


"Tidak apa. Ini kewajibanku sebagai suamimu. Aku ingin menikmati setiap momen denganmu. Tak perduli akan seperti apa akhirnya yang jelas aku akan selalu mengingat setiap hal sederhana bersamamu." dengan telaten Darren membersihkan muntahan istrinya sampai benar-benar bersih bahkan Darren sampai mengepel bekas muntahan itu.


"Sebentar. Aku mencuci tangan."


Setelah mencuci bersih tangannya Darren mengupaskan buah apel dan memberikannya kepada Laura, perlakuan Darren membuat Laura merasa tersentuh.


"Mau tidur lagi?" Darren menawarkan, setelah semua buahnya habis. Laura hanya menggeleng. Ia sudah tidak mengantuk.


Darren membersihkan diri dan bersiap sendiri tanpa di layani oleh istrinya. Laura hanya duduk di atas tempat tidur karna Darren yang melarangnya.


"Darren. Biarkan ku pasangkan dasimu." Darren mendekat dengan seutas dasi bermotif garis-garis.


"Maaf aku tak bisa melayanimu dengan baik." Laura memusatkan fokusnya pada simpul dasi yang tengah ia buat.


Darren tak langsung menjawab ia membiarkan istrinya menyelesaikan memasang dasi.


"Terimakasih." Darren mengecup tangan istrinya.


"Tidak usah merasa tak enak Sayang. Selagi kau masih berada dalam jangkauanku aku bisa melakukan apapun. Asalkan kau tetap bersamaku."


"Bakat terpendammu selain mesum juga menjadi puitis cinta."


"Entahlah, aku sangat ingin mempertahankanmu untuk tetap bersamaku. Terlepas dari apa yang terjadi di antara kita di masa lalu."


"Kau ini. Bicara masa lalu aku sampai lupa bentuk culunmu dalam balutan kaca mata tebal. Juga di mana bekas jerawat batumu yang banyak itu?"


"Sayang aku perawatan."


"Dan setelah kau tampan jangan sampai kau bertingkah atau aku akan memotong burungmu."


"Lakukan apapun inginmu Sayang."


"Aku tidak bercanda." Laura berujar serius.


"Begitu juga dengan aku. Sayang aku harus bekerja. Hati-hati di rumah." Darren mengecup kening istrinya.


Saat Darren sudah pergi ia mengambil poto ibu mertuanya yang Darren sembunyikan di balik bantal. Semalam untuk ke sekian kalinya Darren ke pergok tengah menangis diam-diam, Darren selalu menyembunyikan kesedihannya seorang diri, Darren tak ingin berbagi sekalipun dengan istrinya sendiri.


Laura membaca alamat yang tertera di balik poto itu, ia tersenyum.


"Darren aku akan menemui Mama Sarah, akan aku bawa dirinya mendatangimu dan memelukmu penuh kasih sayang seperti yang kau inginkan." Laura akan bertekad untuk menemui ibu mertuanya secepatnya.