Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Mertua Pengertian


Setelah memberikan obat pada Darren Laura mengajak suaminya untuk memasuki kamarnya dan menyuruh Darren untuk tertidur.


Laura membantu Darren berbaring di tempat tidurnya, ia juga membuka sepatu pria itu.


"Mau ganti baju dulu?" tawar Laura, ya ia mengetahui jika Darren adalah pecinta kebersihan, meskipun tidak berkeringat Laura tetap menawarkan barangkali Darren merasa tak nyaman.


"Tidak usah. Ayo tidur! Masih ada beberapa jam sebelum pernikahan Liora di mulai." Darren menepuk tempat tidur di sebelahnya mempersilahkan istrinya untuk berbaring agar ia bisa mendusel di bagian tubuh favoritnya. Ceruk leher Laura adalah tempat ternyaman baginya, jika biasanya seorang wanita akan bermanja dengan prianya, lain halnya dengan Darren. Justru pria itu yang sangat bermanja dengan istri kejamnya.


"Tidurlah sendiri Darren, aku perlu menemui Daddyku setelah ini."


"Tidak mau. Kau hanya boleh pergi setelah aku terlelap."


Laura mengalah kembali, benar kata ibunya rumah tangga adalah seni untuk mengalah dan Laura rasa dirinya yang selalu lebih banyak mengalah dalam kisah mereka. Tak apa selama ia masih bisa bersabar.


"Ayo. Anak baik harus tidur siang." Laura sudah mengatur posisi sehingga memudahkan Darren untuk memeluk dan menyelinapkan wajahnya di ceruk leher Laura.


"Buguyu aku ingin di puk-puk."


Buguyu? kata aneh selanjut yang membuat Laura hampir tergelak.


Laura mengelus rambut serta mempuk-puk pelan kepala Darren bagian belakang, sehingga seiring berjalannya waktu puk-pukannya makin jarang dan melemah, Kan malah Laura yang menghampiri mimpi lebih dulu.


Darren mendongak mengaksikan wajah cantik yang kini terlelap. Hilang sudah kekejaman dan kepedasan mulutnya di saat tengah terlelap, yang terlihat hanya sosok cantik bak bidadari tersesat di hadapannya.


"Laura. Sepertinya aku sudah terjatuh semakin dalam oleh pesonamu. Lalu bagai mana jika aku sembuh nanti? Sanggupkah aku seandainya kau bukan milikku lagi. Tidak itu tidak boleh terjadi, kau harus menjadi miliku sampai kapanpun." Darren mengambil ponselnya dan memotret Laura yang tengah terlelap dalam tidurnya.


Darren sama sekali tidak mengantuk jadi ia memutuskan untuk segera keluar kamar untuk sekedar berkeliling di area rumah mertuanya. Baru saja Darren melewati pintu kini ia sudah bertemu dengan Lion adik bungsu istrinya.


"Kau mau kemana?"


"Bukan urusanmu!" jawab Darren tak acuh, ia hendak berlalu tapi Lion menghentikan langkahnya dan malah membawa Darren menaiki lift menuju kamarnya.


Sepanjang jalan Darren menggerutu, ia khawatir jika Lion akan bertindak macam-macam padanya meskipun sampai sejauh ini yang selalu berbuat kasar padanya hanya Laura dan teman-temannya saja.


"Jangan takit aku tak berminat menyakiti siapapun." Papar Lion sungguh-sungguh.


"Kami kembar tiga bersaudara, di besarkan dengan cinta yang penuh, meski kami berasal dari keluarga berada tapi tetap saja ada banyak hal yang tidak mengenakan kerap menyerang kami terutama pada Liora, kakak keduaku itu sangat pendiam dan menurut dan kerap kali menjadi korban perundungan di masa sekolah dasar dulu. Lain hal nya dengan kakak pertamaku Laura dia adalah orang yang di takuti setelah membuat seorang anak yang membuly Liora masuk rumah sakit, menurut Laura jika seseorang terlihat lemah maka orang lain akan semakin semena-mena terhadapnya, itu sebabnya Laura hanya memperlihatkan ke angkuhan dan ke arogantannya. Tapi ia selalu berhasil melindungi kami." Lion menunduk sebagai seorang pria saja ia selalu bersembunyi di belakang nama Laura.


"Tapi kau harus tau ia adalah gadis yang manis."


Sebenarnya Darren heran sisi manis Laura terletak di sebelah mana? Gadis itu sangat kasar, pemberontak serta sok berkuasa.


Tapi Darren menyimpulkan, sikaf kasar dan pembangkang serta menjadi pelaku perundungan adalah sebagai rambu jika semua orang jangan berani-berani mendekati adik-adiknya.


"Maksudmu Laura berbuat brutal seperti itu untuk melindungi kau dan Liora?"


"Ya, Darren dan dia berhasil melakukannya."


"Kau tak akan mengerti Darren, bahkan meski dia bodoh dia adalah seorang guru." hampir saja Darren kelepasan tertawa mendengar kata guru yang di sematkan untuk Laura yang bodohnya mengalir sampai jauh.


"Kau bercanda Lion?"


"Mana ada aku bercanda. Laura memang guru di taman kanak-kanak salah satu yayasan yang di dirikan Mommy. Meskipun dia seorang wanita yang liar tapi tingkat kepeduliannya sangat tinggi, tapi semenjak menikah denganmu Laura mengundurkan diri, dia lebih memilih fokus untuk mengurusmu agar kau cepat sembuh." ujar Lion jujur.


"Apa Laura mengatakan sesuatu yang buruk tentangku?" tanya Darren pada adik iparnya.


"Tidak, Laura hanya mengatakan ingin membuatmu cepat sembuh agar Laura bisa kembali bebas dan pulang ke rumah ini." Lion menyadari raut wajah Darren yang berubah.


"Jangan katakan. Jika kau menyukai Laura!" Tunjuk Lion dan tepat sasaran tapi sebisa mungkin Darren harus menyangkalnya, lagi pula belum tentu juga Lion mampu membantunya untuk menahan Laura untuk tetap tonggal bersamanya.


"Tidak, aku tidak menyukai Laura. Dia bukan tipeku." Darren menundukan pandangan khawatir jika Lion mampu mengetahui kebohongannya. Beruntung Lion tak ingin bertanya lebih jauh, pemuda itu lebih memilih menghubungi kekasihnya.


Darren keluar dari kamar Lion tapi kursi rodanya kembali di hentikan oleh seseorang dan ternyata orang itu adalah Kenan ayah mertuanya.


Kebetulan Darren ingin mengatakan sesuatu pada ayah mertuanya itu.


"Dad, apa ada waktu sebentar Darren ingin berbicara sebentar." Dengan sopan Darren meminta waktu mertuanya sebentar untuk berbincang.


"Mari keruanganku." Kenan mendorong kursi roda menantunya itu untuk memasuki ruang kerjanya.


"Dad, bagaimana? Jika aku menyukai Laura, rasanya aku tak ingin berpisah darinya." ucap Darren, ia mendongak menatap raut datar ayah mertuanya.


"Kau berani menyukai putriku dengan keterbatasanmu?" pertanyaan Kenan pelan, tapi menusuk keulu hati Darren.


"Justru dengan keadaanku yang seperti ini Laura tak akan mampu meninggalkanku, justru jika aku sembuh Laura akan pergi dariku, terus terang aku ingin tetap menahan Laura untuk tetap berada di sampingku." ungkap Darren terus terang.


"Lalu apa tujuanmu mengatakannya padaku." Kenan menatap tajam menantunya menghunuskan tatapan penuh intimidasi pada pria yang hanya terduduk di kursi rodanya.


"Ingin meminta putriku? Atau kau tak ingin sembuh dari penyakitmu." sinis Kenan.


"Sepertinya sebentar lagi aku akan sembuh Dad, banyak kemajuan dalam pengobatanku. Tapi aku tak siap jika harus kehilangan putrimu." Darren menunduk. "Aku memang lancang berkata seperti ini, tapi aku tidak main-main dengan ucapanku." Darren mengatupkan tangannya.


"Dad, tolong batalkan semua perjanjiannya antara kita. Biarkan aku tetap memilikinya."


"Darren, kau tau putriku keras kepala kasar dan selalu bertingkah demaunya, caranya menghamburkan uang juga tidak dapat di ragukan bisa-bisa kau bangkrut mendadak." pancing Kenan kemudian.


"Tidak apa Dad, aku siap. Sekalipun Laura memperlakukanku dengan buruk selagi dia masih menjadi istriku aku tidak papa." Darren memelas pada ayah mertuanya.


"Pertahankan apapun milikmu Darren, kau pria baik, berusahalah agar Laura mencintaimu. Aku merestuimu jaga putriku dia sangat pemarah jika ucapannya tidak di dengar." Kenan terkekeh setelah mengatakannya.


"Terimakasih Dad." Darren tak menyangka jika ayah mertuanya benar-benar pengertian padanya.