Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Tuhan Tidak Pernah Keliru


Sial Darren kelepasan berbicara.


"Membelit lidahku?"


Ayolah Laura bukan gadis lugu, ia beberapa kali melakukan hal itu dengan mantan kekasihnya.


"Maksudmu cipookan?" tanya Laura tanpa filter.


Sontak saja membuat mata Darren semakin melotot mendengar kalimat Laura tanpa aling-aling itu. Luar biasa mulut Laura tidak hanya berbisa tapi juga berbakat dalam hal berbau kemesuman.


"Laura kau mesum sekali." Cibir Darren.


"Sudahlah. Percuma membahas mesum bersama pria lumpuh sepertimu. Kau tak akan mengerti caranya bersenang-senang!" Laura sudah berdiri hendak mendorong kembali kursi roda Darren.


Tapi sekali hentakan Darren meraih pinggang Laura sampai gadis itu kehilangan keseimbangannya dan seketika terduduk di atas pangkuan Darren. "Apa maksudmu dengan bersenang-senang?" tanya Darren.


Cup.


Darren mengecup salah satu dada Laura yang menyembul dengan berani dari balik gaunnya. Seperkian detik Laura mematung di pangkuan Darren, ia masih mengerjapkan matanya beberapa kali dengan keheranan, sebelum kemudian.


"Dasar cabull. Kau pria culun, lumpuh, serta cabull kumplit sekali kau." Laura menggosok-gosok permukaan dadanya yang di kecup Darren dengan tingkah seperti sangat jijik karna bibir tebal itu mendarat di salah satu asetnya.


Darren menemukan satu hal lagi yang membuat Laura kesal tanpa merugikannya.


"Mau ku bantu menggosok gumpalan kenyal itu? Atau meremasnya mungkin?" Darren tersenyum penuh arti yang membuat Laura semakin kesal.


"Aku harus mandi kembang tujuh rupa untuk mensucikan diri dari pria cabul sepertimu." Laura bergidik geli saat membayangkan Darren menyesap miliknya.


"Jangan membayangkannya! Aku tidak keberatan jika kau ingin mencobanya." Darren semakin sengaja menggoda Laura.


Saat Darren kembali membuka mulutnya dengan sigap Laura membekapnya. Jangan mengatakan apapun. Jika tidak aku akan melaporkan tindakanmu yang tidak bermoral pada Papamu. Pasti Papamu malu memilikiputra cabul sepertimu." Laura semakin kesal saat melihat senyum di bibir Darren semakin Lebar.


"Laporkan saja aku tidak keberatan. Papaku pasti akan segera menyiapkan bulan madu untuk kita. Lagi pula sah-sah saja aku mengecup maupun menyesap milikku sendiri."


"Mulutmu itu! Ini asetku sialan." Laura menendang kursi roda Darren sampai sedikit bergerak.


"Diam. Atau aku akan meninggalkanmu."


Darren mengatupkan mulut bukan karna takut. Melainkan ada orang lain yang mendekat, dia adalah tukang kebun di rumah itu.


"Tuan muda, ini semangka dari tanah ini, rasanya sangat manis." Tukang kebun di sana memberika semangka yang sudah di potong- potong, dan undur diri dari sana.


Laura meletakan semangka itu di pangkuan Darren dan mendorong kursi roda Darren untuk mencari tempat berteduh.


Di bawah pohon kelengkeng Darren berteduh dan memakan semangkanya. Begitu juga dengan Laura ia turut duduk di kursi di bawah pohon Kelengkeng itu.


"Kau tau? aku kadang berpikir Tuhan tidaklah adil!" ucap Darren tiba-tiba.


"Kenapa? Aku justru berpikir sebaliknya." Laura membuangi biji semangka yang timbul kontas di antara warna merah buah itu, agar ia bisa melahapnya dengan tenang.


"Kau lihat buah Kelengkeng itu. Di pohonnya yang melebihi pinggangku buahnya sangat kecil-kecil hanya berbeda sedikit dari kelereng. Sedangkan pohon semangka yang pohonnya hanya sebesar kelingking buahnya melebihi bola basket. Harusnya buah kelengkeng yang sebesar ini. Itu sebaliknya aku berpikir takdirnya buah ini seperti tertukar." Ucap Darren. Laura sudah bersiap untuk menjawab tapi ...


Pukk.


Sebiji buah kelengkeng terjatuh menimpa hidung bangir Darren.


"Kau lihat. Tidak ada namanya Takdir yang tertukar Darren. Tuhan sangat adil. Bayangkan jika yang menimpa hidungmu buah kelengkeng yang sebesar semangka. Maka akan seperti apa hidung mancungmu? Tuhan itu tidak pernah keliru dalam menciptakan Takdir sesuatu." Laura masih tertawa terbahak-bahak menertawakan hidung Daren yang tertimpa buah kelengkeng.