Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Senjata Laras Panjang


Laura berada di kamar mandi kamar Darren dengan menatap kearah cermin, ada tatapan kebencian yang ia tunjukan untuk dirinya sendiri. Ia harus menjalani kehidupan berat seperti ini atas kesalahannya di masa lalu. Laura harus menjalani kehidupan dengan penderitaan yang tidak berkesudahan.


"Laura cepatlah! Aku juga ingin membersihkan diri." Darren menggedor pintu kamar mandi.


Dengan kasar Laura menyeka air mata yang membasahi pipinya ia sudah selesai mandi kilatnya, jika ia tak mandi ia tidak akan bisa tidur malam ini.


Kesialan lainnya Laura hanya memakai gaun malam, karna hanya itu yang di sediakan keluarga Darren.


Entah sengaja atau tidak. Tapi Laura tak memiliki pilihan lain selain memakainnya.


Ceklek.


Saat pintu terbuka Darren tepat berada di hadapan Laura, dengan wajah yang memandang tubuhnya dengan tatapan tak terbaca selama beberapa waktu kemudian Darren membuang wajah dengan pipi yang terasa memanas di sertai hiasan merah sampai ke daun telinga sangat kontras diantara kulitnya yang putih.


"Bantu aku mandi!" Darren masih enggan menatap istrinya yang mengenakan gaun tipis dengan sepasang pita di bagian pundak sebagai penyangganya.


"Kau tak malu meminta bantuan untuk mandi pada seorang gadis?" Sindir Laura.


"Kenapa harus malu? Kau istriku sekarang! Cepat atau lambat kau akan melihatku polos atau bahkan menikmati tubuh kekarku." Darren sangat percaya diri mengatakan itu. Meskipun saat ini kakinya tidak bisa di gerakan tapi tubuhnya sangat kekar karna ia menerapkan gaya hidup sehat selama ini.


"Dih. Percaya diri sekali kau!" Laura mendorong kursi roda Darren ke dalam kamar mandi, meskipun ia menahan kesal tapi ini adalah konsekuensi dari kesalahan yang ia perbuat selama ini. Jadi ia harus menjalani hukumannya.


Gadis itu hendak keluar meninggalkan Darren, tapi tangannya lebih dulu di cekal pria culun yang lumpuh itu.


"Buka bajuku!"


"Astagha Darren. Apa lumpuhmu menular pada kedua tanganmu?"


Laura tak habis pikir dengan permintaan suaminya. Padahal Darren bisa untuk sekedar membuka pakaian tapi pria itu manja sekali padanya.


Aiga, ini bukan manja lebih tepatnya Darren sengaja mengerjainya agar ia semakin di buat menderita.


Laura Menarik dan menghembuskan nafas kasar selama beberapa kali, untuk menetralkan perasaannya tapi tidak terpengaruh sama sekali.


"Kau mau mandi berendam atau menggunakan shower?" tanya Laura kesal.


"Shawer saja. Disana ada sebuah kursi pelastik, yang selalu kupergunakan untuk mandi." Darren menunju ke salah satu sudut kamar mandi. Dan benar saja ada sebuah kursi disana.


Laura membuka satu persatu kemeja putih yang kebesaran milik Darren. Seketika nafasnya tercekat saat melihat penampakan dada serta otot perut pemuda itu.


'Astagha Daniel saja tak memiliki otot dan tubuh seindah ini.' rutuk Laura dalam hati.


Bukan Laura melampaui batas berpacaran hanya saja mantan kekasihnya itu selalu membuka bajunya saat tengah mengikuti olah raga di kampusnya. Entah tujuannya untuk apa? Laura tidak tau. Tapi tubuh yang tertutup seperti Darren jauh lebih berbahaya dari tubuh manapun.


Sungguh sepertinya tak akan ada yang percaya jika Laura mengatakan tubuh Darren sangat indah.


"Tidak. Apanya yang bisa ku bandingkan sama saja." Laura melanjutkan membuka pakaiannya Darren.


"Kau menggunakan apa di wajahmu sampai kumal dan dekil seperti itu?"


"Hanya foudation." jawab Darren tak acuh.


Laura mengambil kursi di pojok kamar mandi yang tadi di tunjukan Darren padanya. Ia juga bersiap memindahkan tubuh Darren dari kursi roda ke kursinya.


"Darren aku akan memindahkanmu ke kursi roda. Dalam hitungan ketiga, tahanlah semampumu bobot tubuh gajah ini. Aku tak yakin mampu mengangkatnya."


"Hmm."


"Satu, dua, tiga."


Sesuai permintaan Darren berusaha menahan tapi itu tak berarti apapun. Darren tetap kesulitan bahkan keduanya nyaris terjatuh bersama di kamar mandi.


"Darren. Sialan kau, ku bilang tahan ya tahan Darren. Kau sangat berat hampir saja kita terjatuh." Laura menyentak Darren.


"Kau pikir aku tak menahannya? Aku sudah berusaha Laura tapi tetap saja tak bisa. Menurutmu salah siapa aku jadi lumpuh seperti ini." sungut Darren emosi. Jika saja Laura tidak berlaku jahil padanya ini semua tak akan terjadi.


"Sudah. Kau mandilah." Laura ingin berlalu ia sudah menyerahkan shower yang ia sudah atur suhunya.


"Maksudmu aku harus mandi pakai celana?" Darren semakin kesal karna niat hati ingin mengalungkan pernikahan mengerikan pada gadis itu malah sepertinya akan gagal total.


"Lalu aku harus bagaimana? membuka celanamu dan memandikanmu seperti bayi?"


"Tentu saja Laura. Kenapa kau keberatan aku suamimu. Sebagai seorang istri kau wajib melayaniku dalam hal apapun."


Laura tak menyangka si culun pendiam yang selalu ia olok-olok selama ini sangat cerewet dan banyak maunya.


Sejenak Laura memejamkan jedua matanya dan memijat pelipisnya sebentar. Sial melihat bagian dada dan perut si culun ini sukses membuatnya panas dingin apa lagi harus membuka celananya. Ini sebenarnya berkah atau musibah sih?


"Aku akan menahan dengan tanganku kau bisa menarik celana dan dalamanku."


"Sial. Mata suciku harus tercemar oleh tubuh polosmu, serta senjata laras pendekmu!"


"Senjata laras pendek katamu. Aku pastikan kau akan menelan kembali kalimatmu setelah melihat senjataku." ujar Darren melotot.


"Terserah."


Sesuai intruksi Darren, Laura menarik celana serta dalaman pemuda itu. Dan setelah terlepas semua. Ba kekok ...


"Omegot ... Ternyata senjata laras panjang." tanpa sadar Laura memekik kencang.