Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Berubah pikiran


Laura memakan masakan Mommynya dengan sangat lahap, tak ia perdulikan semua mata menatap heran ke arahnya.


Kenan mendapatkan pesan dari Arven asistennya untuk segera pulang karna ada hal penting yang harus ia selesaikan. Dengan berat hati Kenan kembali meninggalkan putrinya bersama keluarga yang tidak ia kenal dengan baik watak dan sikafnya.


"Sayang, Dad dan Mom harus pulang sekarang. Jaga dirumu baik-baik." Kenan mengecup kepala putrinya yang baru menyelesaikan makanya.


"Nanti kami akan berkunjung lagi." hibur Fana pada putrinya yang kembali terlihat murung seakan kebahagiaannya akan pergi bersama kedua orang tuanya.


Kenan mendekati menantu barunya yang masih terduduk di kursi roda dan membisikan sesuatu di telinga Darren. "Jika kau membuat putri kesayanganku terluka sedikit saja aku sendiri yang akan menjadi malaikat maut untukmu." Kenan berkata pedas, ingin agar perkataannya di dengar oleh menantunya.


Glek ...


Susah payah Darren menelan liurnya saat mendengar kalimat dari mertuanya.


"Kau tenang saja Dad, aku tak akan berbuat macam-macam kakiku lumpuh bahkan aku belum menyentuhnya sama sekali, berdoa saja agar putrimu tidak memperkosah aku." Darren tergelak karna berhasil menggeretak ayah mertuanya yang terlihat kesal padanya.


"Putriku tidak akan melecehkanmu." ucap Kenan sebelum pergi, ia juga tak percaya dengan ucapannya sendiri.


.


Malam sudah menyapa, Laura mengurus Darren terlebih dahulu sebelum kemudian ia membersihkan diri.


Tanpa canggung apa lagi rasa malu Laura mengenakan dalaman di hadapan Darren.


"Kenapa kau tidak ganti baju di ruangan ganti sih?" gerutu Darren, ia pria normal tak mungkin jika tubuhnya tidak bereaksi melihat tubuh elok di hadapannya. Bahkan Darren ingin merebut paksa lotion di tangan Laura dan ingin ia sendiri yang membaluri tubuh sintal itu.


"Suka-suka lah, yang terpenting tidak di tempat umum." Laura bolak-balik berjalan hanya mengenakan dalaman tipis saja, yang di mana membuat Darren duduk dengan gelisah di atas ranjangnya.


Pria selalu berteman dengan keberengsekan begitu juga dengan Darren, pria itu bahkan menggeleng beberapa kali saat pikiran liar mengusai otaknya, Darren membayangkan jika tubuh seksih Laura di balut tubuh kekarnya, pasti suara Laura sangat indah saat menyebut namanya di bawah kuasa permainannya, tebak Darren.


"Kau itu kenapa?" Laura sengaja mendekat ke arah Darren dengan hanya mengenakan ********** saja.


Masuk perangkap, pikir Laura Darren merespon layaknya pria normal setidaknya Darren tidak inpoten pikir Laura, dan tujuan keduanya Laura ingin membuat pria lumpuh itu bertekuk lutut padanya entahlah untuk apa.


"Kau sedang menggodaku?" Dengan sekali tarikan Laura terduduk di atas pangkuan Darren. Pria itu menghembuskan nafas hangatnya di antara telinga serta perpotongan lehernya.


"Memangnya kau tergoda olehku?" Laura semakin menarik ulur pesonanya agar Darren semakin terbuai oleh keelokan paras dan tubuhnya.


Bukkk


Darren membaringkan tubuh Laura di atas ranjang di bawah kungkungannya. "Ahh." Darren menge rang saat kedua pangkal pahanya terasa sakit dan ngilu, tubuhnya seakan mengatakan kejujurannya jika ia tengah lumpuh dan tidak bisa berbuat banyak.


"Kau kenapa?" Laura terlihat panik saat Darren terlihat kesakitan.


"Kaki sialan." geram Darren. "Kenakan pakaianmu." Darren membuang muka saat ini ia merasa tak berguna, bahkan untuk mengatasi hasratnya sendiri. Nafsunya sudah di ubun-ubun juga dengan miliknya yang sudah tegang siap tempur.


"Aku akan menemui Papaku dulu." ucamnya datar. Laura tak menjawab ia nampak memperhatikan Darren yang terlihat tengah menahan sesuatu.


"Wanita liar! Jika saja aku tidak sedang sakit, aku pastikan akan membuatnya kesulitan berjalan." Darren menggerutu dalam hati.


Laura membatu Darren pindah tempat duduk ke kursi roda, hal ini kembali membuat Darren semakin menegang, buah kenyal itu tertekan oleb punggung lebarnya, sial ia jadi semesum ini.


"Tunggu sebentar aku akan nengantarmu." Laura buru-buru meraih pakaiannya.


"Tidak usah, aku bisa sendiri. Jika sudah selesai turunlah untuk makan malam." ucap Darren.


Darren melajukan sendiri kursi rodanya menuju kamar Papanya.


"Ada apa kau menemui Papa?" tanya Rega setelah ia mempersilahkan putranya masuk.


"Pa, datang kan dokter ahli dari singapore itu, aku berubah pikiran." Awalnya Darren menolak untuk melakukan terapi oleh dokter khusus itu, tapi entahlah tiba-tiba ia ingin cepat sembuh ada apa sebenarnya? pikir Rega.