
Darren mengeluarkan isi perutnya yang menjijikan. Papa Rega di buat kewalahan oleh tindakan putranya itu.
Lagi dan lagi Darren mengeluarkan cairan asam dari lambungnya.
"Lauraaa ..."
"Lauraaa ..."
"Suamimu pulang. Sambut aku!" Darren memanggil-manggil nama sang istri saat baru memasuki rumahnya.
"Pa,, ada apa? Apa yang terjadi?" Nadhira berlari menghampiri suaminya yang berjalan sempoyongan membawa Darren yang tengah mabuk.
"Darren mabuk berat Ma." jawab Rega, ia semakin kesulitan membawa tubuh kekar putranya yang kini tak sadarkan diri.
Dhira mengekori langkah suaminya menuju kamar sang putra.
Rega membuka sepatu Darren, beruntung Darren ti dak memuntahi pakaian yang ia kenakan sehingga ia tak perlu membuka baju putranya.
"Papa, mohon Ma, mengalahlah demi Darren. Kasidani ia, Papa tau segila apa perasaan kita pada wanita yang kita cintai hendak meninggalkan kita. Jangan sampai kejadian di masalalu terulang kembali." Rega memohon di hadapan sang istri, agar Dhira mau menekan sedikit egonya dan meminta maaf pada Laura.
"Mama tidak menyukai wanita itu Pa!" Dhira tetap kokoh dengan pendiriannya.
"Papa tidak meminta Mama untuk menyukainya, tapi demi Darren Ma."
Dhira diam dan terlihat berpikir. "Baiklah demi Darren, Mama akan meminta maaf." Rega memeluk tubuh sang istri dan mengucapkan banyak terimakasih untuk sang istri.
Mama Dhira juga mengobati beberapa memar di wajah tampan putra sambungnya.
.
Darren bangun untuk sarapan, meskipun semalam dirinya mabuk parah tapi ia tetap bangun pagi karna menyalakan alarm.
Darren memigat pelipisnya yang terasa berat meskipun ia sudah mandi dan meminum obat pereda nyeri. Bayang-bayang Laura mengabaikannya membuat ia berdecih pelan. "Kau akan selamanya menjadi istriku Laura." layaknya mantra Darren mengucapkan itu berulang-ulang kali.
Di meja makan sudah menunggu Mama dan Papanya untuk sarapan bersama. Darren hanya diam, bahkan tak mengucapkan ucapan selamat pagi kepada orang tuanya. Darren hanya menikmati makanannya dalam keheningan.
"Darren." Panggil Mama Dhira. Darren hanya sekilas mengangkat kepalanya.
"Kapan kita akan pergi ke rumah Laura? Mama bersedia meminta maaf padanya." Mama Dhira membuang muka ia enggan melakukan hal itu tapi dari pada Darren terus mendiamkannya ia rela melakukan hal yang menurunkan harga dirinya.
"Mama serius?" Darren langsung berbinar. Juga menggeser kursi ke arah ibunya.
"Ya, habiskan makananmu, kita akan ke rumah Laura setelah sarapan." Dhira menyuruh putranya memakan makanannya dengan segera. Darren tak membantah lagi ia segera menghabiskan makanannya dan menenggak habis jus miliknya.
Sepanjang perjalanan Darren tak hentinya mengucapkan terimakasih kepada Mamanya, ia tau ini tak mudah untuk sang ibu. Namun demi menyenangkannya Dhira rela melakukan hal itu.
Keluarga Kenan tak menyambut sama sekali kehadiran keluarga Regantara yang datang terlalu pagi.
"Ada hal apa yang membawa kalian kembali kemari?" Kenan yang memulai pembicaraan.
Rega menyampaikan maksud dan tujuannya mereka bertamu pagi-pagi.
"Baiklah karna kalian berniat baik, aku akan membiarkan kalian menemui putriku. Tapi jangan sesekali menekan atau mengancamnya, kandungannya sedikit rentan. Semalam saja aku memanggilkan dokter karna kram di perutnya."
"Bagaimana keadaan Laura Dad? Dia dan calon anakku baik-baik saja kan?" Darren langsung menyambar berbicara, kecemasan di wajahnya tak dapat ia sembunyikan.
"Ya, dia hanya kram prut bawah mungkin karna terlalu banyak berpikir. Makanya biarkan dia menenangkan diri setidaknya sampai kandungannya kuat."
Regantara, Dhira dan Darren mengerti maksud ucapan Kenan. Mereka mengangguk secara bersamaan.
Kenan memanggil Laura untuk menemui mertua dan suaminya. Meski Laura enggan tapi ia teyap menemui mereka.
"Laura." Dhira memanggil lebih dulu.
"Ada apa?" jawab Laura dengan malas, saat ia mengingat ibu mertua menghina dan meludahinya tiba-tiba ia merasa marah dan mengepalkan tangannya dengan refleks.
"Mama minta maaf." ucap Dhira pelan, ia gengsi untuk meminta maaf dengan suara nyaring.
"Mama minta maaf."
"Minta maaf?" Ulang Laura sengaja.
"Ya Mama minta maaf." Dhira menunduk.
"Maaf untuk apa?"
Dhira tau Laura tengah mengerjainya, tapi ia tak tega jika harus melihat Darren kecewa yang menatapnya dengan penuh harap.
"Mama minta maaf karna sudah meludahi dan menghinamu. Mama janji tak akan mengulanginya lagi." ujar Dhira pada akhirnya. Sumah demi apapun ia merasa sangat malu juga harga dirinya yang terluka.
"Aku belum bisa memaafkanmu. sekali lagi mama mertua jika aku mengecewakanmu, mungkin aku bisa berpikir ulang jika kau bisa menanda tangani surat pernyataan, hitam di atas putih jika kau tak akan mengulangi hal yang sama." Laura tak ingin termakan janji palsu, ia harus pintar memanfaatkan keadaan.
"Apa yang Mama lakukan itu tidak di benarkan secara adab dan hukum. Aku bisa saja membawa hal ini ke jalur hukum."
"Kau-" Belum sempat Dhira melanjutkan ucapannya tapi Darren terlihat memelas padanya.
"Ma ..."
"Baiklah." Sesayang itu Dhira pada sang putra.
Kenan membuatkan surat perjanjian yang di tanda tangani oleh Nadhira, Regantara tak bisa berbuat apapun karna istrinya memang bersalah. Asalkan tidak membuat sang istri terluka Rega akan membiarkannya lagi pula ini demi kenyamanan bersama.
"Semuanya sudah selesaikan. Sekarang mari pulang, Ra." Darren mengajak Laura untuk pulang bersamanya.
"Pulang?"
"Ya kita harus pulang ke rumah kita. Kita tidak harus bercerai Laura, pengadilan juga akan menolak pengajuan perceraianmu." ujar Darren kembali.
"Ya kau tenang saja, kita tak akan bercerai selama aku mengandung anak ini."
"Anak ini? Dia anakku Laura." Darren tak terima saat bayinya tidak di katakan anaknya.
"Tapi Mamamu mengatakan. Ini bayi pria lain dan aku sengaja menjebakmu demi harta. Jelaskan pada Mamamu siapa yang menjebak diapa di sini." Laura cukup pintar memanpaatkan situasi.
"Laura, cukup! Perhatikan batasanmu. Aku sudah meminta maaf dan mengikuti apa inginmu, jangan kau coba-coba mengadu domba aku dan putraku." Dhira terlihat marah bahkan ia berdiri dari duduknya. Juga suara yang menggelegar.
"Aku tak ingin mengadaikan keselamatan dan kenyamanan ku. Bagiku saat ini tempat yang paling aman hanya di rumah ini. Aku berkewajiban menjaga kewarasanku demi menjaga bayiku dan diriku sendiri aku akan tinggal di sini setidaknya sampai bayi ini lahir."
Rega yang biasanya keras dan memaksakan kehendaknya kali ini ia hanya diam, teringat akan kalimat Kenan yang mengatakan jika kehamilan Laura beresiko. Jadi ia tak ingin calon cucucunya kenapa-napa lebih baik ia diam saja. Juga ia sangat tau watak istrinya jija Laura benar pindah dari sana bukan tidak mungkin Dhira akan terus mendatangi Laura untuk membuktikan siapa yang lebih di sayangi putranya.
"Baiklah aku juga akan ikut tinggal di sini." Putus Darren mantap.
"Tidak. Aku tidak ingin kau tinggal disni."
"Pilihannya cuma dua kau ikut pulang bersamaku. Atau aku tinggal di sini bersamamu?" Darren melangkahkan kaki menuju kamar istrinya, tak perduli sekalipun mertuanya akan melarang. Ia memiliki hak dan kewajiban untuk tetap bersama dengan istrinya.
Rega dan Nadhira akhirnya pamit, mereka membiarkan Darren berada di sana.
Darren yang sejak tadi menunggu Laura tersenyum senang saat Laura memasuki kamarnya. Pria itu langsung memeluk Laura.
"Aku merindukanmu."
"Darren aku ngidam." ucap Laura datar tanpa membalas pelukan Darren.
"Katakan! Kau ingin apa? Aku pasti akan menuruti apa inginmu."
"Aku ngidam ingin menampari wajahmu yang tak seberapa itu."
"Apa?"
Rupa-rupanya Laura tak selapang dada itu, ia tetap ingin membalaskan dendam karna Darren sudah berani menamparnya tempo hari.